Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda merasa tahun-tahun berlalu dalam sekejap mata? Fenomena ini bukan sekadar perasaan Anda saja. Banyak orang menyadari seiring bertambahnya usia, persepsi terhadap waktu berubah drastis; hari-hari terasa singkat dan tahun-tahun seolah berlalu tanpa jejak.
Para ilmuwan mulai mengungkap misteri ini, mencari tahu apakah ini murni karena kesibukan hidup atau ada sesuatu yang terjadi jauh di dalam otak kita.
Adrian Bejan, peneliti dari Duke University, menawarkan perspektif menarik. Ia menjelaskan ada perbedaan mendasar antara waktu yang diukur oleh jam mekanis dengan waktu yang dirasakan oleh pikiran manusia.
"Waktu jam yang dapat diukur tidak sama dengan waktu yang dirasakan oleh pikiran manusia. 'Waktu pikiran' adalah urutan gambar, yaitu refleksi alam yang didorong oleh rangsangan dari organ sensorik," jelas Bejan.
Sederhananya, otak kita memproses serangkaian gambar mental berdasarkan apa yang kita lihat dan alami. Saat kita muda, otak menerima dan memproses gambar-gambar ini dengan sangat cepat. Namun, seiring bertambahnya usia, kecepatan pemrosesan ini melambat karena perubahan fisik, seperti degradasi jalur saraf. Akibatnya, kita menghasilkan lebih sedikit gambar mental dalam durasi waktu yang sama, sehingga waktu terasa berlalu lebih cepat.
Selain faktor biologis, faktor psikologis juga memegang peran penting. Cindy Lustig, profesor psikologi dari University of Michigan, menyoroti peran rutinitas dalam kehidupan orang dewasa.
"Saat kita lebih tua, kita cenderung memiliki kehidupan yang lebih terstruktur di sekitar rutinitas, dan lebih sedikit peristiwa penting yang kita gunakan untuk menandai berbagai periode dalam 'waktu hidup kita'," kata Lustig.
Tanpa adanya pengalaman baru yang berkesan, otak cenderung menggabungkan hari-hari yang serupa menjadi satu memori kolektif. Hal ini diperparah oleh penggunaan media sosial yang berlebihan. Fitur seperti infinite scrolling dan stimulasi konten tanpa henti dapat mendistorsi rasa waktu, membuat jam-jam berlalu tanpa disadari, sekaligus mengurangi kualitas tidur yang krusial bagi fungsi kognitif otak.
Meskipun teori Bejan tentang perubahan fisik otak sangat meyakinkan, Lustig memberikan catatan kritis. Ia mempertanyakan apakah perubahan fisik sesederhana ukuran kepala atau panjang saraf optik benar-benar menjadi faktor utama. Ia lebih condong pada bagaimana cara kita menjalani hidup dan mengalami peristiwa baru.
Kebenarannya mungkin merupakan perpaduan dari keduanya: kombinasi antara degradasi saraf yang memperlambat pemrosesan informasi dan gaya hidup yang minim pengalaman baru.
Kabar baiknya, kita mungkin bisa memengaruhi persepsi ini. Dengan aktif mencari pengalaman baru, mempelajari hobi baru, dan mempraktikkan mindfulness (kesadaran penuh), kita bisa memecah rutinitas yang monoton.
Dengan menciptakan lebih banyak "landmark" atau peristiwa berkesan dalam ingatan, kita dapat menangkap kembali sensasi masa muda di mana waktu terasa membentang luas dan setiap momen terasa lebih berarti. Penelitian lengkap mengenai fenomena ini telah dipublikasikan dalam jurnal European Review. (Earth/Z-2)
5 kebiasaan sehari-hari seperti kurang tidur hingga pola makan buruk diam-diam merusak otak dan meningkatkan risiko demensia, menurut studi ilmiah terbaru.
Lansia yang paling disiplin menjalankan diet MIND mengalami perubahan otak yang setara dengan penundaan penuaan selama 2,5 tahun dibandingkan mereka yang tidak.
Studi terbaru ungkap diet MIND bisa memperlambat penuaan otak hingga 2,5 tahun. Tapi benarkah efeknya sebesar itu? Simak faktanya.
Di tengah gempuran produktivitas digital, banyak anak muda tak sadar bahwa kesehatan otak mereka terganggu atau "menciut" lebih cepat akibat kebiasaan remeh.
Studi terbaru menunjukkan otak pria menyusut lebih cepat, namun perempuan tetap lebih rentan Alzheimer. Faktor hormonal, genetik, dan usia diduga berperan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved