Solusi Cerdas Limbah Kotoran Angsa, Diubah Jadi Protein dan Pupuk Organik

Thalatie K Yani
28/4/2026 11:15
Solusi Cerdas Limbah Kotoran Angsa, Diubah Jadi Protein dan Pupuk Organik
Ilustrasi(freepik)

KEHADIRAN kawanan angsa di taman kota atau lapangan olahraga sering kali meninggalkan masalah klasik, tumpukan kotoran yang berbau dan mengganggu estetika. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa limbah yang dianggap menjijikkan ini ternyata bisa diolah menjadi komoditas bernilai tinggi melalui bantuan serangga.

Tim peneliti dari Concordia University, yang dipimpin oleh Rassim Khelifa, menguji potensi larva lalat Black Soldier Fly (BSF) dalam mendaur ulang limbah kotoran angsa menjadi protein dan nutrisi yang bermanfaat.

Serangga sebagai Solusi Pengolah Limbah

Lalat Black Soldier Fly sudah lama dikenal dalam industri pengolahan limbah organik. Larvanya memiliki kemampuan luar biasa dalam melahap sisa makanan dan mengubahnya menjadi biomassa kaya protein. Kini, para ilmuwan mencoba menerapkan kemampuan tersebut pada kotoran angsa.

"Kami ingin melihat apakah lalat Black Soldier Fly, spesies non-asli yang sudah dipanen secara luas di industri, dapat digunakan untuk mengubah limbah angsa menjadi barang berharga seperti protein dan pupuk," kata Khelifa. "Jawabannya adalah ya; itu bisa dilakukan."

Dalam eksperimen laboratorium, tim peneliti memberikan tiga jenis diet kepada larva BSF: campuran pakan standar, campuran pakan dengan kotoran angsa, dan hanya kotoran angsa murni. Meskipun larva yang mengonsumsi kotoran murni tumbuh lebih lambat, mereka tetap mampu menghabiskan lebih dari separuh limbah yang tersedia.

Peran Mikroba Alami

Hal menarik ditemukan saat peneliti mencoba mensterilkan kotoran angsa menggunakan panas tinggi (autoklaf) sebelum diberikan ke larva. Hasilnya, larva yang memakan limbah steril justru menunjukkan pertumbuhan yang buruk dan masa hidup yang lebih pendek.

Temuan ini menunjukkan bahwa mikroba alami yang terkandung dalam kotoran angsa sebenarnya membantu proses pencernaan serangga. Bakteri yang selama ini dianggap sebagai sumber masalah justru memainkan peran kunci dalam siklus pertumbuhan larva.

Meningkatkan Hasil Tanaman hingga 32 Persen

Produk akhir dari proses ini tidak hanya berhenti pada protein larva. Sisa pencernaan larva, yang dikenal sebagai frass, ternyata menjadi pupuk organik yang sangat efektif.

Peneliti menguji frass tersebut pada tanaman duckweed (gulma air). Hasilnya sangat signifikan: tanaman yang dipupuk dengan limbah sisa larva ini menghasilkan panen 32% lebih banyak dibandingkan tanaman yang menggunakan larutan nutrisi standar. Selain itu, tanaman menunjukkan pertumbuhan akar yang lebih efisien karena nutrisi tersedia secara melimpah.

Menciptakan Siklus Ekonomi Sirkular

Metode ini menawarkan solusi dua arah bagi pengelola kota. Di satu sisi, pembersihan kotoran angsa meningkatkan sanitasi dan mengurangi risiko pencemaran air akibat kelebihan nutrisi. Di sisi lain, proses ini menghasilkan produk sampingan bernilai ekonomis berupa pakan ternak dan pupuk.

Meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk penerapan skala besar, studi yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Management ini membuktikan bahwa dengan pemikiran kreatif, limbah yang selama ini diabaikan dapat menjadi awal dari siklus lingkungan yang produktif. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya