Frekuensi Buang Air Besar Ternyata Menentukan Ekosistem Bakteri di Usus Anda

Thalatie K Yani
27/4/2026 12:29
Frekuensi Buang Air Besar Ternyata Menentukan Ekosistem Bakteri di Usus Anda
Ilustrasi(freepik)

PERNAHKAH Anda bertanya-tanya mengapa tubuh setiap orang bereaksi berbeda terhadap makanan atau probiotik yang sama? Penelitian terbaru menunjukkan jawabannya mungkin terletak pada seberapa sering Anda buang air besar (BAB). Frekuensi BAB ternyata bukan sekadar rutinitas, melainkan penggerak utama yang membentuk komunitas mikroba dan zat kimia di dalam tubuh.

Penelitian yang dilakukan di Sejong University, Korea Selatan, mendokumentasikan adanya pergeseran stabil pada keragaman mikroba yang terkait langsung dengan seberapa sering seseorang BAB. Data ini menunjukkan bahwa ritme usus berfungsi sebagai kondisi dasar yang mengatur bagaimana mikrobiota tumbuh, bersaing, dan berproduksi.

Dampak Pergerakan Usus yang Lambat vs Cepat

Ketika limbah makanan menetap lebih lama di usus besar (pada kelompok yang jarang BAB), mikroba memiliki lebih banyak waktu untuk memecah sisa-sisa makanan. Proses fermentasi ini cenderung bergeser ke arah protein karena perubahan tingkat keasaman dan ketersediaan "bahan bakar" di dalam usus.

Kondisi ini menguntungkan bakteri seperti Ruminococcus, genus yang sering dikaitkan dengan pergerakan usus lambat. Sebaliknya, pada mereka yang BAB setiap hari, bakteri Bacteroides cenderung mendominasi karena jenis ini tumbuh lebih cepat dalam kondisi yang kaya karbohidrat.

Namun, penelitian ini juga mencatat kondisi ekstrem dapat mengurangi keseimbangan ekosistem usus. Titik tengah atau frekuensi yang moderat justru memberikan ruang bagi set mikroba yang lebih luas untuk hidup berdampingan.

Jejak Kimia dalam Tubuh

Perbedaan frekuensi ini tidak hanya mengubah jenis bakteri, tetapi juga produk kimia (metabolit) yang dihasilkan. Kelompok yang jarang BAB menunjukkan kadar indole dan p-cresol yang lebih tinggi, yang merupakan hasil dari jalur asam amino aromatik. Sementara itu, kelompok yang sering BAB menunjukkan pemecahan asam amino rantai cabang yang lebih intens.

Perbedaan kimiawi ini menjelaskan mengapa dua orang bisa mendapatkan hasil nutrisi yang berbeda meskipun mengonsumsi makanan yang sama. Seperti yang dijelaskan Nicola Prochazkova, ilmuwan nutrisi dari University of Copenhagen.

"Secara keseluruhan, diperlukan pemahaman yang lebih baik tentang interaksi dua arah yang kompleks antara mikrobiota usus dan waktu transit makanan."

Prediksi Melalui Biologi

Dalam studi di Seoul yang melibatkan 20 orang dewasa selama 23 hari, pola-pola ini ditemukan sangat konsisten. Bahkan, perangkat lunak machine learning mampu menebak kelompok frekuensi BAB partisipan dengan tingkat akurasi hingga 78% hanya berdasarkan sampel biologi tinja.

Meskipun frekuensi BAB saja tidak secara otomatis menentukan status kesehatan seseorang, literatur medis yang lebih luas telah mengaitkan pergerakan usus yang lambat dengan berbagai masalah metabolik, peradangan, hingga neurologis.

Kini, para ilmuwan mulai memandang ritme ke toilet sebagai bagian integral dari lingkungan usus, bukan sekadar gejala tambahan. Pemahaman yang lebih baik mengenai waktu transit ini diharapkan dapat membuat studi diet lebih akurat, uji coba probiotik lebih cerdas, dan perawatan kesehatan pribadi lebih spesifik di masa depan.

Penelitian ini telah dipublikasikan secara resmi dalam International Journal of Molecular Sciences. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya