Rahasia Usus Beruang Hitam, Mikroba Obesitas hingga Detektor Lingkungan

Thalatie K Yani
23/4/2026 11:45
Rahasia Usus Beruang Hitam, Mikroba Obesitas hingga Detektor Lingkungan
Ilustrasi(freepik)

BERUANG hitam Amerika (Ursus americanus) dikenal sebagai "penyedot debu" hutan yang melahap apa saja, mulai dari buah beri hingga sisa makanan di perkemahan. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan sistem pencernaan mereka bukan sekadar saluran pembuangan, melainkan sebuah "biosensor" hidup yang mencerminkan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Peneliti dari North Carolina State University mempelajari mikrobioma usus dari 48 beruang hitam liar di North Carolina timur. Hasilnya mengejutkan, meskipun beruang lebih banyak memakan tumbuhan, mereka memiliki anatomi pencernaan layaknya karnivora murni dengan usus kecil yang panjang dan usus besar yang pendek.

Sistem Pencernaan yang Unik

Menurut Erin McKenney, penulis utama studi tersebut, struktur usus beruang yang sederhana membuat makanan lewat dengan sangat cepat. Hal ini mencegah tubuh beruang mengatur ekosistem mikroba di dalamnya secara ketat.

"Beruang hitam Amerika memiliki morfologi usus yang sederhana dan tidak butuh waktu lama bagi makanan untuk melewati sistem mereka, yang mencegah pengaturan ekosistem mikrobiota dalam usus hewan tersebut," ujar McKenney.

Akibatnya, mikrobioma usus beruang menjadi sangat bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka makan dan di mana mereka tinggal. Melalui analisis jejak kimia pada rambut beruang, peneliti menemukan bahwa banyak beruang mengonsumsi jagung, namun secara mengejutkan mereka menghindari kacang tanah yang juga sering dijadikan umpan.

Bakteri "Obesitas" yang Menguntungkan

Salah satu temuan paling menarik adalah keberadaan mikroba yang pada manusia dikaitkan dengan infeksi dan obesitas. Jika pada manusia hal ini dianggap buruk, bagi beruang, ini adalah berkah adaptif.

"Banyak manusia menganggap obesitas sebagai hal buruk, tetapi kontribusi terhadap obesitas sebenarnya membuat mikroorganisme ini bermanfaat bagi beruang, yang ingin menimbun lemak sebanyak mungkin untuk melewati musim dingin," jelas McKenney.

Alarm Bagi Lingkungan

Namun, studi ini juga membawa peringatan. Peneliti menemukan bakteri seperti Escherichia-Shigella dan Ochrobactrum yang diketahui resisten terhadap antibiotik. Keberadaan bakteri ini di alam liar menjadi indikator adanya kontaminasi di lingkungan yang juga dihuni oleh ternak dan manusia.

Diana Lafferty, rekan penulis dari Northern Michigan University, menekankan beruang bertindak sebagai spesies penjaga (sentinel species). Karena jangkauan wilayah mereka yang luas, kesehatan usus beruang dapat mencerminkan perubahan kesehatan lingkungan secara global.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One ini menegaskan dengan memantau apa yang terjadi di dalam perut beruang, manusia dapat mendapatkan wawasan berharga tentang keterhubungan antara satwa, lingkungan, dan perubahan dunia yang sedang terjadi. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya