Stres Kronis Diam-Diam Mengancam Kesuburan Pria

Thalatie K Yani
27/4/2026 12:00
Stres Kronis Diam-Diam Mengancam Kesuburan Pria
Ilustrasi(freepik)

BANYAK pria yang datang ke klinik fertilitas dengan raut wajah terkejut. Kalimat yang paling sering didengar Dr. Jamin Brahmbhatt, seorang ahli urologi dan bedah robotik dari Orlando Health, adalah, "Saya tidak tahu kalau masalahnya ada di saya. Tolong saya, Dok."

Masalah kesuburan pria sering kali datang tanpa gejala maupun tanda peringatan. Selama ini, sebagian besar pria memahami bahwa stres dapat memengaruhi suasana hati, libido, hingga ereksi. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa perasaan tertekan secara terus-menerus juga berdampak langsung pada kesehatan sperma.

Dampak Stres pada Tubuh

Stres bukan hanya masalah yang ada di dalam kepala, tetapi mengubah cara kerja tubuh secara fisik. Saat stres melanda, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin sebagai sistem alarm alami. Dalam jangka pendek, ini berguna. Namun, jika stres menetap selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, tubuh mulai membayar harganya: kualitas tidur menurun, energi merosot, berat badan naik, dan libido anjlok.

Sperma membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan untuk diproduksi dan matang. Inilah alasan mengapa stres kronis (berkepanjangan) jauh lebih berbahaya daripada stres sesaat.

"Penelitian telah menghubungkan tingkat stres yang lebih tinggi dengan parameter air mani yang lebih buruk, termasuk jumlah sperma yang lebih rendah serta pergerakan dan bentuk sperma yang lebih buruk," ungkap Dr. Brahmbhatt. Bahkan, sebuah studi terhadap 1.200 pria menemukan bahwa mereka yang memiliki tingkat stres tertinggi memiliki konsentrasi dan jumlah sperma total yang jauh lebih rendah.

Gaya Hidup yang Memperburuk Keadaan

Stres jarang bekerja sendirian. Pria yang mengalami stres kronis cenderung terjebak dalam pola hidup buruk yang memperparah masalah, seperti kurang olahraga, pola makan sembarangan, hingga ketergantungan pada zat tertentu.

Fertilitas bukanlah variabel tunggal. Masalah biasanya muncul dari beberapa faktor yang bergerak ke arah yang salah secara bersamaan, dan stres sering kali menjadi pemicunya. Selain itu, pria harus memahami performa seksual tidak sama dengan kesuburan. Seorang pria bisa saja tidak memiliki masalah di tempat tidur, namun tetap memiliki masalah mendasar pada kualitas spermanya.

Langkah yang Bisa Dilakukan

Bagi pria yang sedang berjuang, Dr. Brahmbhatt menekankan bahwa mereka tidak sendirian. Namun, solusinya bukan sekadar perintah untuk "rileks," karena tekanan pekerjaan dan finansial adalah nyata. Ia menyarankan pria untuk jujur melihat kebiasaan yang dipicu oleh stres tersebut.

Satu saran tak terduga dari Dr. Brahmbhatt adalah menjauhi media sosial. "Tinggalkan grup Facebook dan feed media sosial. Unggahan pengumuman kehamilan atau foto bayi yang glamor. Jika Anda sedang berjuang, konten itu bukan inspirasi, itu adalah bahan bakar kecemasan," tegasnya.

Untuk memperbaiki kualitas sperma, mulailah dari hal mendasar:

  • Tidur Cukup: Tidur memengaruhi produksi testosteron yang esensial bagi sperma. Pria butuh 7-9 jam tidur.
  • Aktivitas Fisik: Gerakan konsisten membantu mengatur hormon dan menurunkan kortisol.
  • Jaga Berat Badan: Berat badan berlebih meningkatkan kadar estrogen pada pria yang dapat mengganggu sinyal produksi sperma.

Jika Anda telah mencoba konsepsi selama satu tahun (atau enam bulan jika pasangan berusia di atas 35 tahun) tanpa hasil, segera lakukan analisis air mani sebagai langkah awal yang paling berguna. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya