Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK pria yang datang ke klinik fertilitas dengan raut wajah terkejut. Kalimat yang paling sering didengar Dr. Jamin Brahmbhatt, seorang ahli urologi dan bedah robotik dari Orlando Health, adalah, "Saya tidak tahu kalau masalahnya ada di saya. Tolong saya, Dok."
Masalah kesuburan pria sering kali datang tanpa gejala maupun tanda peringatan. Selama ini, sebagian besar pria memahami bahwa stres dapat memengaruhi suasana hati, libido, hingga ereksi. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa perasaan tertekan secara terus-menerus juga berdampak langsung pada kesehatan sperma.
Stres bukan hanya masalah yang ada di dalam kepala, tetapi mengubah cara kerja tubuh secara fisik. Saat stres melanda, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin sebagai sistem alarm alami. Dalam jangka pendek, ini berguna. Namun, jika stres menetap selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, tubuh mulai membayar harganya: kualitas tidur menurun, energi merosot, berat badan naik, dan libido anjlok.
Sperma membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan untuk diproduksi dan matang. Inilah alasan mengapa stres kronis (berkepanjangan) jauh lebih berbahaya daripada stres sesaat.
"Penelitian telah menghubungkan tingkat stres yang lebih tinggi dengan parameter air mani yang lebih buruk, termasuk jumlah sperma yang lebih rendah serta pergerakan dan bentuk sperma yang lebih buruk," ungkap Dr. Brahmbhatt. Bahkan, sebuah studi terhadap 1.200 pria menemukan bahwa mereka yang memiliki tingkat stres tertinggi memiliki konsentrasi dan jumlah sperma total yang jauh lebih rendah.
Stres jarang bekerja sendirian. Pria yang mengalami stres kronis cenderung terjebak dalam pola hidup buruk yang memperparah masalah, seperti kurang olahraga, pola makan sembarangan, hingga ketergantungan pada zat tertentu.
Fertilitas bukanlah variabel tunggal. Masalah biasanya muncul dari beberapa faktor yang bergerak ke arah yang salah secara bersamaan, dan stres sering kali menjadi pemicunya. Selain itu, pria harus memahami performa seksual tidak sama dengan kesuburan. Seorang pria bisa saja tidak memiliki masalah di tempat tidur, namun tetap memiliki masalah mendasar pada kualitas spermanya.
Bagi pria yang sedang berjuang, Dr. Brahmbhatt menekankan bahwa mereka tidak sendirian. Namun, solusinya bukan sekadar perintah untuk "rileks," karena tekanan pekerjaan dan finansial adalah nyata. Ia menyarankan pria untuk jujur melihat kebiasaan yang dipicu oleh stres tersebut.
Satu saran tak terduga dari Dr. Brahmbhatt adalah menjauhi media sosial. "Tinggalkan grup Facebook dan feed media sosial. Unggahan pengumuman kehamilan atau foto bayi yang glamor. Jika Anda sedang berjuang, konten itu bukan inspirasi, itu adalah bahan bakar kecemasan," tegasnya.
Untuk memperbaiki kualitas sperma, mulailah dari hal mendasar:
Jika Anda telah mencoba konsepsi selama satu tahun (atau enam bulan jika pasangan berusia di atas 35 tahun) tanpa hasil, segera lakukan analisis air mani sebagai langkah awal yang paling berguna. (CNN/Z-2)
Tidur tanpa busana ternyata punya manfaat medis luar biasa, mulai dari meningkatkan kualitas sperma hingga hormon testosteron. Simak penjelasan ahli berikut ini.
Peneliti temukan kualitas sperma mencapai puncaknya pada Juni-Juli dan terendah di musim dingin.
Stres dalam jangka panjang bisa meningkatkan kadar level hormon kortisol dan prolaktin yang berbahaya karena menekan hormon kesuburan.
Dokter Boyke menyebut kualitas sperma laki-laki saat ini semakin menurun dari 50 tahun terakhir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved