Kisah Mbah Sarjo, Disabilitas Netra Berhaji dari Hasil Jual Kebun

Akmal Fauzi
25/4/2026 17:04
Kisah Mbah Sarjo, Disabilitas Netra Berhaji dari Hasil Jual Kebun
Ilustrasi(Dok MCH 2026)

BAGI Mbah Sarjo, melihat Baitullah tidaklah harus dengan mata kepala, melainkan dengan mata hati. Pria disabilitas netra berusia 71 tahun itu justru merasakan langkahnya lebih ringan saat menginjakkan kaki di tanah suci Madinah.

Lansia asal Srikayangan, Sentolo, Kulon Progo ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik hanyalah kerikil kecil di tengah niat yang menjulang setinggi langit. Bagi pria bernama lengkap Sarjo Utomo itu, haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan misi penyelamatan jiwa.
"Haji itu kan rukun Islam. Ibadah saya buat sangu (bekal) saya nanti di hadapan Allah," kata Mbah Sarjo di Madinah, Sabtu (25/4.

Ujian di Usia Produktif

Ingatan Mbah Sarjo kembali ke tahun 1992. Saat itu, di usianya yang masih produktif, 37 tahun, virus herpes menyerang penglihatannya. Sebuah kecelakaan medis saat prosedur operasi justru merenggut penglihatannya secara permanen. Vonis dokter saat itu terasa seperti kiamat kecil, matanya tak bisa lagi disembuhkan.

Menerima takdir dalam gelap tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, alih-alih tenggelam dalam nestapa, Mbah Sarjo memilih mendekat pada sang pemilik cahaya. Melalui teknologi, ia "melihat" dunia melalui telinga.

"Saya tiap hari dengarkan kajian ustaz-ustaz lewat Youtube dan televisi, hingga saya semangat dan mantap pada takdir Allah," kata dia. Kajian-kajian itulah yang menjadi oase, memupuk keyakinan bahwa kehilangan penglihatan bukanlah akhir dari segalanya.

Jual Kebun untuk ke Tanah Suci

Niat untuk menyempurnakan rukun Islam kelima begitu kuat menghujam hatinya. Namun, bagi seorang petani di pedesaan Kulon Progo, biaya haji bukanlah angka yang kecil. Tanpa ragu, Mbah Sarjo memutuskan untuk melepas harta paling berharganya yaitu pekarangan kebun.

"Pekarangan kebun saya jual untuk daftar haji saya, anak saya, dan istri saya," jelasnya. Bagi Mbah Sarjo, kebun bisa dicari lagi, namun kesempatan untuk memenuhi panggilan Allah adalah prioritas yang tak bisa ditunda.

Keikhlasannya berbuah manis. Setelah bertahun-tahun dalam antrean panjang, Mbah Sarjo yang tergabung dalam Kloter 1 Yogyakarta (YIA) akhirnya tiba di Madinah pada Rabu (22/4) didampingi sang anak.

Harapan di Tanah Suci

Di usianya yang senja, Mbah Sarjo tak meminta muluk-muluk. Ia hanya berharap setiap peluh dan langkahnya di tanah haram menjadi penghapus noda di masa lalu.

"Kalau saya berhaji, mungkin Allah mengampuni dosa-dosa saya di masa lalu," katanya penuh harap.

Kisah Mbah Sarjo adalah pengingat bagi setiap jemaah dan kita semua, bahwa fisik boleh saja terbatas, namun selama hati masih memiliki "penglihatan" terhadap rida Allah, jalan menuju Baitullah akan selalu terbuka lebar. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya