Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI Mbah Sarjo, melihat Baitullah tidaklah harus dengan mata kepala, melainkan dengan mata hati. Pria disabilitas netra berusia 71 tahun itu justru merasakan langkahnya lebih ringan saat menginjakkan kaki di tanah suci Madinah.
Lansia asal Srikayangan, Sentolo, Kulon Progo ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik hanyalah kerikil kecil di tengah niat yang menjulang setinggi langit. Bagi pria bernama lengkap Sarjo Utomo itu, haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan misi penyelamatan jiwa.
"Haji itu kan rukun Islam. Ibadah saya buat sangu (bekal) saya nanti di hadapan Allah," kata Mbah Sarjo di Madinah, Sabtu (25/4.
Ingatan Mbah Sarjo kembali ke tahun 1992. Saat itu, di usianya yang masih produktif, 37 tahun, virus herpes menyerang penglihatannya. Sebuah kecelakaan medis saat prosedur operasi justru merenggut penglihatannya secara permanen. Vonis dokter saat itu terasa seperti kiamat kecil, matanya tak bisa lagi disembuhkan.
Menerima takdir dalam gelap tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, alih-alih tenggelam dalam nestapa, Mbah Sarjo memilih mendekat pada sang pemilik cahaya. Melalui teknologi, ia "melihat" dunia melalui telinga.
"Saya tiap hari dengarkan kajian ustaz-ustaz lewat Youtube dan televisi, hingga saya semangat dan mantap pada takdir Allah," kata dia. Kajian-kajian itulah yang menjadi oase, memupuk keyakinan bahwa kehilangan penglihatan bukanlah akhir dari segalanya.
Niat untuk menyempurnakan rukun Islam kelima begitu kuat menghujam hatinya. Namun, bagi seorang petani di pedesaan Kulon Progo, biaya haji bukanlah angka yang kecil. Tanpa ragu, Mbah Sarjo memutuskan untuk melepas harta paling berharganya yaitu pekarangan kebun.
"Pekarangan kebun saya jual untuk daftar haji saya, anak saya, dan istri saya," jelasnya. Bagi Mbah Sarjo, kebun bisa dicari lagi, namun kesempatan untuk memenuhi panggilan Allah adalah prioritas yang tak bisa ditunda.
Keikhlasannya berbuah manis. Setelah bertahun-tahun dalam antrean panjang, Mbah Sarjo yang tergabung dalam Kloter 1 Yogyakarta (YIA) akhirnya tiba di Madinah pada Rabu (22/4) didampingi sang anak.
Di usianya yang senja, Mbah Sarjo tak meminta muluk-muluk. Ia hanya berharap setiap peluh dan langkahnya di tanah haram menjadi penghapus noda di masa lalu.
"Kalau saya berhaji, mungkin Allah mengampuni dosa-dosa saya di masa lalu," katanya penuh harap.
Kisah Mbah Sarjo adalah pengingat bagi setiap jemaah dan kita semua, bahwa fisik boleh saja terbatas, namun selama hati masih memiliki "penglihatan" terhadap rida Allah, jalan menuju Baitullah akan selalu terbuka lebar. (H-2)
Bupati menyampaikan momentum keberangkatan ini merupakan penantian panjang yang akhirnya terwujud bagi para jamaah.
PPIH Arab Saudi menyiagakan 52 unit bus khusus untuk mendukung mobilitas jemaah haji disabilitas asal Indonesia.
Petugas juga terus mematangkan berbagai skema pelayanan. Fokus utama petugas saat ini adalah melakukan pemetaan data, khususnya bagi jemaah lanjut usia (lansia).
Pemberangkatan jemaah calon haji dari Maluku Utara.
SUASANA haru menyelimuti pelepasan 336 Calon Jemaah Haji (CJH) Kabupaten Agam tahun 1447 Hijriah.
ROMBONGAN jemaah haji Kloter 05 Embarkasi Padang asal Kabupaten Padang Pariaman tiba di Asrama Haji, Selasa (28/4) pagi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved