Kasus Stroke Masih Dominan, Pendekatan Terapi Berbasis Sel Kian Diperlukan

Basuki Eka Purnama
24/4/2026 21:24
Kasus Stroke Masih Dominan, Pendekatan Terapi Berbasis Sel Kian Diperlukan
Ilustrasi(MI/HO)

STROKE tetap menjadi tantangan besar bagi dunia kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke di tanah air telah mencapai angka 8,3 per 1.000 penduduk. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari tingginya beban penyakit yang berdampak pada sistem kesehatan nasional serta penurunan kualitas hidup masyarakat secara signifikan.

Dalam penanganan stroke, tantangan terbesar bukan hanya terletak pada fase akut untuk menyelamatkan nyawa, tetapi juga pada upaya meminimalkan kerusakan neurologis lanjutan.

Saat serangan terjadi, gangguan suplai oksigen memicu krisis metabolik pada tingkat seluler yang membuat sel-sel otak menjadi sangat rentan. Tanpa dukungan energi yang cukup, kematian sel akan berlangsung lebih cepat, yang berujung pada luaran klinis jangka panjang yang buruk.

Inovasi Terapi Neuroprotektor

Menjawab tantangan tersebut, PT Pyridam Farma Tbk (IDX: PYFA) memperkenalkan Cytoflavin, sebuah terapi neuroprotektor yang dirancang khusus untuk mendukung metabolisme dan respirasi seluler pada pasien stroke. Terapi ini bekerja dengan meningkatkan efisiensi pemanfaatan oksigen dan pembentukan energi di tingkat sel, terutama pada kondisi iskemik di mana fungsi mitokondria terganggu.

Berikut adalah ringkasan data terkait beban penyakit stroke dan jangkauan edukasi terapi di Indonesia:

Indikator Data / Keterangan
Prevalensi Stroke (SKI 2023) 8,3 per 1.000 penduduk
Jangkauan Rumah Sakit Lebih dari 300 Rumah Sakit di Indonesia
Edukasi Medis (Sepanjang 2025) >30 Forum & Seminar Ilmiah Neurologi
Tren Usia Pasien Meningkat pada usia produktif (<40 tahun)

Standar Global dan Pengakuan Medis

Kualitas terapi ini mendapat apresiasi dari kalangan medis tanah air. Dr. dr. Mohammad Kurniawan, Sp.N(K), MSc, spesialis neurologi dari RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), menyatakan kekagumannya setelah meninjau langsung proses produksi di Rusia.

“Melihat langsung proses pembuatan dan teknologi mutakhir Cytoflavin di Rusia membuat saya kagum. Standar yang mereka terapkan sangat baik dalam memastikan efisiensi produksi dan efikasi produk farmakologi. Inovasi dengan presisi seperti inilah yang dibutuhkan untuk tatalaksana intensif stroke di fase akut,” ungkap dr. Kurniawan.

Di sisi lain, Direktur PT Pyridam Farma Tbk, Antes Eko Prasetyo, menyoroti pergeseran tren stroke yang kini mulai menyerang kelompok usia produktif di bawah 40 tahun. Hal ini mendorong perusahaan untuk terus menghadirkan solusi yang mengacu pada standar global.

“PYFA berkomitmen untuk memastikan tenaga kesehatan di Indonesia memiliki akses terhadap opsi terapi yang dapat mendukung proses pemulihan pasien stroke secara optimal. Melalui distribusi Cytoflavin, kami ingin berkontribusi pada peningkatan standar tata laksana stroke di Indonesia,” ujar Antes.

Fokus Masa Depan: Pengembangan terapi stroke ke depan diperkirakan akan semakin komprehensif, tidak hanya berfokus pada penyelamatan nyawa (life-saving), tetapi juga pada perlindungan jaringan otak (neuroprotection) dan pemulihan fungsi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.

Dengan adopsi yang telah mencapai lebih dari 300 rumah sakit dan pusat layanan stroke rujukan, langkah PYFA ini diharapkan mampu menekan angka disabilitas pasca-stroke yang selama ini menjadi beban besar bagi pembiayaan kesehatan nasional. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya