Mengenal Penyakit Ginjal Kronis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya

Basuki Eka Purnama
23/4/2026 15:13
Mengenal Penyakit Ginjal Kronis: Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya
Ilustrasi(Freepik)

PENYAKIT ginjal kronis (PGK) bukanlah kondisi yang terjadi secara tiba-tiba. Gangguan ini berkembang dalam jangka panjang dan menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara bertahap. Jika tidak dideteksi dini dan ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat memburuk hingga mencapai tahap gagal ginjal.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal Hipertensi RS Pondok Indah – Pondok Indah, Prof. dr. Aida Lydia, Ph.D, Sp. P.D, Subsp. G.H. (K), menjelaskan bahwa pada tahap akhir atau stadium lima, yang dikenal sebagai End-Stage Renal Disease (ESRD), ginjal tidak lagi mampu menjalankan fungsi vitalnya.

"Pada tahap ini, ginjal tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara optimal, seperti menyaring darah, membuang limbah metabolisme, serta menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, dan keasaman darah," ujar Prof. Aida.

Memahami Stadium dan Gejala

MI/HO--Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal Hipertensi RS Pondok Indah – Pondok Indah, Prof. dr. Aida Lydia, Ph.D, Sp. P.D, Subsp. G.H. (K)

Tantangan terbesar dalam menangani PGK adalah sifatnya yang "senyap". Keluhan biasanya baru dirasakan saat kondisi sudah memasuki stadium lanjut. Berikut adalah beberapa gejala dan komplikasi yang perlu diwaspadai:

Kategori Manifestasi Klinis
Gejala Fisik Pembengkakan tangan/kaki, sesak napas (cairan di paru), urine berbusa.
Gangguan Internal Kadar kalium tinggi, anemia, tulang rapuh, malnutrisi.
Risiko Komplikasi Penyakit jantung, gangguan pembuluh darah, hingga stroke.

Penyebab Utama: Diabetes dan Hipertensi

Dua penyebab utama PGK yang paling sering dijumpai adalah diabetes dan hipertensi. Pada penderita diabetes, kadar gula darah tinggi merusak pembuluh darah halus (nefron) di ginjal. Sementara itu, hipertensi yang tidak terkontrol merusak pembuluh darah organ vital secara sistemik.

"Hubungan antara jantung dan ginjal sangat erat di mana gangguan pada salah satu organ dapat memengaruhi fungsi organ lainnya," tambah Prof. Aida.

Selain kedua faktor tersebut, PGK juga dapat dipicu oleh radang ginjal (glomerulonefritis), infeksi, sumbatan saluran kemih (batu ginjal/prostat), penyakit autoimun seperti lupus, hingga konsumsi obat-obatan toksik bagi ginjal.

Meluruskan Istilah "Cuci Darah"

Prof. Aida juga menyoroti penggunaan istilah "cuci darah" di masyarakat yang sering memicu ketakutan. Istilah medis yang benar adalah hemodialisis (HD). Pemahaman yang keliru sering kali membuat pasien menunda pengobatan yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk menyaring limbah dan cairan berlebih.

Kiat Menjaga Kesehatan Ginjal:
  • Kontrol tekanan darah (target umum 130/80 mmHg).
  • Batasi konsumsi makanan asin dan hindari alkohol/rokok.
  • Cukup minum air putih (minimal 8 gelas sehari) dan konsumsi sayur/buah.
  • Olahraga teratur minimal 30 menit sehari (3-5 kali seminggu).
  • Hindari obat penghilang rasa nyeri atau herbal tanpa konsultasi dokter.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin (tes darah dan urine).

FAQ Seputar Penyakit Ginjal Kronis

Kapan seseorang dikatakan menderita PGK?

PGK terjadi ketika fungsi ginjal menurun secara bertahap selama lebih dari 3 bulan hingga bertahun-tahun, ditandai dengan kelelahan, pembengkakan, atau perubahan frekuensi buang air kecil.

Apakah PGK bisa sembuh total?

Kerusakan ginjal yang sudah berlangsung lama bersifat permanen. Namun, dengan perawatan tepat dan pola makan sesuai, penurunan fungsi ginjal dapat diperlambat sehingga kualitas hidup tetap terjaga.

Berapa lama penderita PGK bisa bertahan hidup?

Harapan hidup bersifat individual. Dengan pengobatan komprehensif, dialisis, atau transplantasi, serta dukungan keluarga dan gaya hidup sehat, penderita dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama.

"Penting bagi setiap individu untuk lebih peka terhadap perubahan pada tubuh. Dengan meningkatkan kesadaran, kita dapat mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut dan menjaga kualitas hidup tetap optimal," tutup Prof. Aida. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya