Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA berabad-abad, Tormentil hanya dikenal dalam dongeng dan pengobatan tradisional di Eropa sebagai pereda nyeri. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan tanaman bunga kuning kecil ini bukan sekadar mitos. Ilmuwan menemukan Tormentil mampu memperlambat pertumbuhan bakteri berbahaya yang kebal obat dan berpotensi memperkuat kerja antibiotik "lini terakhir".
Tim peneliti yang dipimpin oleh University of Southampton melakukan pengujian terhadap 70 spesies tanaman rawa di Irlandia. Dari sekian banyak sampel, Tormentil (Potentilla erecta) menunjukkan hasil paling menjanjikan dalam melawan Acinetobacter baumannii, bakteri yang masuk dalam daftar patogen prioritas utama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Acinetobacter baumannii adalah kuman yang sangat ditakuti di lingkungan rumah sakit karena menyebabkan infeksi serius pada paru-paru dan saluran kemih, terutama pada pasien dengan sistem imun lemah. Bakteri ini bertanggung jawab atas sekitar 50.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia.
Ketika antibiotik standar gagal, dokter biasanya menggunakan colistin sebagai pertahanan terakhir. Temuan tim peneliti menunjukkan Tormentil tidak hanya memiliki aktivitas antimikroba mandiri, tetapi juga dapat meningkatkan efektivitas colistin.
"Colistin adalah antibiotik pilihan terakhir, garis pertahanan terakhir kita. Ketika patogen kebal terhadap obat itu, pilihan menjadi sangat terbatas," ujar penulis senior Ronan McCarthy dari University of Southampton. "Kami menemukan potensi Tormentil untuk meningkatkan kemanjuran colistin guna memperpanjang efektivitasnya dan membuatnya bekerja lebih baik."
Nama Tormentil berakar dari kata "torment" (siksaan), merujuk pada rasa sakit yang diyakini bisa disembuhkan oleh tanaman ini. Para peneliti berhasil mengidentifikasi dua senyawa utama, agrimoniin dan asam ellagat, yang bekerja dengan cara unik: "memanjakan" bakteri namun sekaligus membuatnya kelaparan. Senyawa ini menarik zat besi dari lingkungan sekitarnya, sehingga bakteri kekurangan nutrisi esensial untuk tumbuh.
"Studi ini menarik karena kami tidak hanya menetapkan bahwa Tormentil bekerja, tetapi juga bagaimana dan mengapa ia bekerja," tambah McCarthy.
Studi ini menegaskan nilai penting dari meninjau kembali pengetahuan tradisional. Tormentil pernah tercatat dalam pengobatan tahun 1850-an untuk sakit gigi, luka, hingga masalah perut, sebelum akhirnya memudar seiring munculnya obat-obatan modern.
Meskipun hasilnya menggembirakan, para ahli menegaskan bahwa ini bukan lampu hijau bagi masyarakat untuk melakukan pengobatan mandiri dengan bunga liar. Proses mengubah senyawa tanaman menjadi obat yang aman dan teruji masih membutuhkan perjalanan panjang. Namun, di tengah ancaman krisis kekebalan antibiotik global, rawa-rawa di Irlandia mungkin baru saja memberikan kunci jawaban bagi masa depan medis manusia.
Penelitian ini telah diterbitkan secara resmi dalam jurnal Microbiology. (Earth/Z-2)
Antibiotik tidak selalu diperlukan untuk batuk. Ketahui kapan batuk butuh antibiotik, tanda bahaya, dan cara penanganan yang tepat.
Peneliti Universitas Basel kembangkan tes sel tunggal untuk membedakan antibiotik yang hanya menghambat pertumbuhan dan yang benar-benar membunuh bakteri.
Masalah kesehatan yang timbul di pengungsian sangat erat kaitannya dengan faktor higiene.
Demam rematik (DR) yang dapat berkembang menjadi penyakit jantung rematik (PJR) pada anak masih menjadi ancaman yang belum dapat diatasi secara optimal
Studi baru ungkap kafein dalam kopi bisa melemahkan kerja antibiotik, membuat penyembuhan lebih lama. Kurangi kopi saat minum obat.
Studi terbaru mengungkap sisa antiseptik chlorhexidine pada permukaan benda di rumah sakit dapat memicu bakteri menjadi toleran dan kebal terhadap antibiotik.
Ilmuwan menemukan bakteri purba berusia 5.000 tahun di gua es Rumania yang kebal terhadap berbagai antibiotik modern.
Limbah yang keluar dari toilet pesawat diperkirakan bisa menjadi alat penting untuk memantau bakteri berbahaya yang kebal obat atau superbug
Peneliti menggunakan kecerdasan buatan ciptakan dua calon antibiotik lawan superbug.
Studi terbaru memperingatkan AMR dapat memicu jutaan kematian dan kerugian ekonomi global hingga Rp32.000 triliun per tahun pada 2050.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved