Tormentil: Bunga Liar dari Rawa yang Ternyata Ampuh Lawan Superbug

Thalatie K Yani
23/4/2026 13:00
Tormentil: Bunga Liar dari Rawa yang Ternyata Ampuh Lawan Superbug
Ilustrasi(freepik)

SELAMA berabad-abad, Tormentil hanya dikenal dalam dongeng dan pengobatan tradisional di Eropa sebagai pereda nyeri. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan tanaman bunga kuning kecil ini bukan sekadar mitos. Ilmuwan menemukan Tormentil mampu memperlambat pertumbuhan bakteri berbahaya yang kebal obat dan berpotensi memperkuat kerja antibiotik "lini terakhir".

Tim peneliti yang dipimpin oleh University of Southampton melakukan pengujian terhadap 70 spesies tanaman rawa di Irlandia. Dari sekian banyak sampel, Tormentil (Potentilla erecta) menunjukkan hasil paling menjanjikan dalam melawan Acinetobacter baumannii, bakteri yang masuk dalam daftar patogen prioritas utama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Harapan Baru di Tengah Krisis Antibiotik

Acinetobacter baumannii adalah kuman yang sangat ditakuti di lingkungan rumah sakit karena menyebabkan infeksi serius pada paru-paru dan saluran kemih, terutama pada pasien dengan sistem imun lemah. Bakteri ini bertanggung jawab atas sekitar 50.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia.

Ketika antibiotik standar gagal, dokter biasanya menggunakan colistin sebagai pertahanan terakhir. Temuan tim peneliti menunjukkan Tormentil tidak hanya memiliki aktivitas antimikroba mandiri, tetapi juga dapat meningkatkan efektivitas colistin.

"Colistin adalah antibiotik pilihan terakhir, garis pertahanan terakhir kita. Ketika patogen kebal terhadap obat itu, pilihan menjadi sangat terbatas," ujar penulis senior Ronan McCarthy dari University of Southampton. "Kami menemukan potensi Tormentil untuk meningkatkan kemanjuran colistin guna memperpanjang efektivitasnya dan membuatnya bekerja lebih baik."

Rahasia di Balik "Torment"

Nama Tormentil berakar dari kata "torment" (siksaan), merujuk pada rasa sakit yang diyakini bisa disembuhkan oleh tanaman ini. Para peneliti berhasil mengidentifikasi dua senyawa utama, agrimoniin dan asam ellagat, yang bekerja dengan cara unik: "memanjakan" bakteri namun sekaligus membuatnya kelaparan. Senyawa ini menarik zat besi dari lingkungan sekitarnya, sehingga bakteri kekurangan nutrisi esensial untuk tumbuh.

"Studi ini menarik karena kami tidak hanya menetapkan bahwa Tormentil bekerja, tetapi juga bagaimana dan mengapa ia bekerja," tambah McCarthy.

Menghubungkan Tradisi dan Sains Modern

Studi ini menegaskan nilai penting dari meninjau kembali pengetahuan tradisional. Tormentil pernah tercatat dalam pengobatan tahun 1850-an untuk sakit gigi, luka, hingga masalah perut, sebelum akhirnya memudar seiring munculnya obat-obatan modern.

Meskipun hasilnya menggembirakan, para ahli menegaskan bahwa ini bukan lampu hijau bagi masyarakat untuk melakukan pengobatan mandiri dengan bunga liar. Proses mengubah senyawa tanaman menjadi obat yang aman dan teruji masih membutuhkan perjalanan panjang. Namun, di tengah ancaman krisis kekebalan antibiotik global, rawa-rawa di Irlandia mungkin baru saja memberikan kunci jawaban bagi masa depan medis manusia.

Penelitian ini telah diterbitkan secara resmi dalam jurnal Microbiology. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya