Bahaya Sisa Antiseptik di Rumah Sakit, Pemicu Superbug Kebal Antibiotik?

Thalatie K Yani
14/4/2026 11:07
Bahaya Sisa Antiseptik di Rumah Sakit, Pemicu Superbug Kebal Antibiotik?
Ilustrasi(Unsplash)

PENGGUNAAN antiseptik untuk membersihkan kulit pasien di rumah sakit ternyata menyisakan tantangan tersembunyi. Sebuah studi terbaru mengungkapkan zat kimia tersebut dapat bertahan di permukaan benda selama berjam-jam, menciptakan lingkungan yang melatih bakteri menjadi lebih tangguh, toleran, bahkan kebal terhadap obat-obatan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Science & Technology pada 2 April lalu ini menyoroti penggunaan chlorhexidine, antiseptik umum yang sering dioleskan ke kulit pasien sebelum operasi. Masalahnya, ketika bakteri belajar menoleransi sisa-sisa tipis antiseptik ini, mereka cenderung saling berbagi potongan DNA. Celakanya, DNA yang sama inilah yang membantu mereka menghindari serangan antibiotik.

Jejak yang Bertahan 24 Jam

Erica Hartmann, profesor di Northwestern’s McCormick School of Engineering, bersama timnya menelusuri bakteri di unit perawatan intensif (ICU) sebuah pusat medis di Illinois. Mereka mengambil 219 sampel dari pagar tempat tidur, tombol panggil perawat, hingga sakelar lampu.

Hasilnya mengejutkan. Meski ruangan tampak bersih, tim berhasil mengisolasi sekitar 1.400 bakteri, di mana 36% di antaranya menunjukkan toleransi terhadap chlorhexidine. Di laboratorium, tim menemukan jejak antiseptik tetap bertahan di material plastik dan logam selama setidaknya 24 jam, bahkan setelah dibersihkan dengan air.

"Resistensi antimikroba berasal dari banyak tempat berbeda," kata Hartmann kepada Live Science. "Untuk benar-benar mengatasi masalah ini, kita membutuhkan tata kelola antimikroba, penggunaan yang bertanggung jawab di bidang pertanian, dan kita juga perlu memikirkan penggunaan bahan kimia yang bertanggung jawab di lingkungan lain."

Waspada Area Lembap dan Udara

Wastafel rumah sakit menjadi "titik panas" penyebaran. Bakteri sangat menyukai pipa wastafel yang lembap dan hangat. Di sana, mereka terpapar bahan kimia encer yang hanyut ke saluran pembuangan, sebuah lingkungan sempurna untuk evolusi resistensi. Bakteri yang selamat kemudian dapat menyebar melalui partikel air di udara (aerosol) dan hinggap di permukaan lain seperti ambang pintu.

Danna Gifford, dosen resistensi antimikroba di Universitas Manchester, menyebut temuan ini sangat penting. Menurutnya, resistensi antibiotik dapat dipercepat "tanpa penggunaan antibiotik," melainkan hanya didorong oleh paparan antiseptik saja.

Haruskah Berhenti Menggunakan Antiseptik?

Meski temuan ini mengkhawatirkan, para ahli menegaskan chlorhexidine tetap sangat efektif membunuh kuman pada dosis yang tepat. Bakteri dalam studi tersebut hanya mampu bertahan pada konsentrasi yang sangat rendah, jauh di bawah dosis standar medis.

"Saya rasa ini tidak mendukung pendekatan yang sangat konservatif (untuk membatasi penggunaan chlorhexidine)," ujar Gifford. Membatasi penggunaan antiseptik di area berisiko tinggi seperti ICU tanpa bukti klinis yang kuat justru dapat membahayakan pasien yang rentan terhadap infeksi.

Namun, Hartmann menyarankan agar penggunaan bahan kimia keras dikurangi pada lingkungan rumah tangga. "Seringkali untuk pembersihan rumah tangga, sabun biasa dan air sudah lebih dari cukup," pungkasnya.

Risiko jangka panjangnya nyata. Jika penggunaan zat kimia tidak dikelola dengan bijak, dunia terancam kehabisan antibiotik yang efektif. Hal ini bisa membuat prosedur medis sederhana, seperti perawatan gigi atau operasi kecil, menjadi sangat berbahaya di masa depan akibat risiko infeksi yang tidak lagi bisa diobati. (People/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya