Cuaca dan Aktivitas yang Padat Jadi Tantangan Jemaah Haji

Ardi Teristi Hardi
22/4/2026 20:00
Cuaca dan Aktivitas yang Padat Jadi Tantangan Jemaah Haji
Ilustrasi(Dok Istimewa)

KONDISI lingkungan dan cuaca di Tanah Suci yang sangat berbeda dengan di tanah air menjadikan ketahanan tubuh sebagai faktor penting agar seluruh rukun haji dapat dijalankan dengan baik dan sempurna. Terlebih lagi, aktivitas ibadah haji yang padat dengan durasi pelaksanaan yang panjang membawa tantangan tersendiri bagi para jemaah haji.

"Ibadah haji tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan spiritual, tetapi juga rangkaian ibadah yang menuntut kesiapan fisik setiap jemaah," terang Pakar Hukum Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Maesyaroh, M.A., Rabu (22/4). 

Ia mengatakan, karakter ibadah haji sangat berbeda dibandingkan dengan ibadah lainnya, termasuk umrah yang relatif lebih singkat dan sederhana.

“Dalam haji, jemaah harus mengikuti rangkaian ibadah yang panjang dan berlapis, yang masing-masing memiliki tantangan tersendiri, baik dari segi waktu, tenaga, maupun kondisi di lapangan yang tidak selalu ideal,” ungkapnya dalam siaran pers dari Humas UMY.

Ia menambahkan, puncak pelaksanaan haji, yakni wukuf di Arafah, menjadi salah satu fase yang paling menguras energi. Jemaah harus bertahan dalam waktu yang cukup lama di tengah jutaan orang yang berkumpul di satu lokasi, dengan kondisi cuaca panas serta ruang gerak yang terbatas.

“Di Arafah, jemaah berada di satu lokasi dari pagi hingga menjelang magrib dalam kondisi cuaca yang panas. Setelah itu, mereka masih harus melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah dan kemudian ke Mina. Rangkaian ini berlangsung terus-menerus dan membutuhkan stamina yang kuat,” jelasnya.

Setelah fase wukuf, jemaah masih dihadapkan pada rangkaian ibadah lain seperti mabit di Muzdalifah dan Mina, serta prosesi lempar jumrah yang dilakukan selama beberapa hari. Aktivitas tersebut tidak hanya menuntut kekuatan fisik, tetapi juga kesiapan mental karena dilakukan di tengah kepadatan jemaah dengan mobilitas tinggi.

“Lempar jumrah dilakukan lebih dari satu kali, biasanya dengan berjalan kaki di tengah kerumunan. Ini bukan hanya soal tenaga, tetapi juga kesiapan menghadapi situasi yang padat dan dinamis. Tanpa persiapan yang baik, jemaah bisa mengalami kelelahan berlebihan,” tambah Maesyaroh.

Ia menegaskan bahwa sebagian besar rukun haji harus dilaksanakan secara langsung oleh jemaah dan tidak dapat diwakilkan, sehingga kondisi fisik menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan. Ketika seseorang tidak mampu menjalankan salah satu rangkaian ibadah karena keterbatasan fisik, hal tersebut dapat memengaruhi kesempurnaan ibadahnya.

Menurutnya, kesiapan fisik merupakan bagian integral dari kesiapan ibadah secara keseluruhan. Oleh karena itu, persiapan perlu dilakukan sejak jauh hari melalui latihan fisik, menjaga pola hidup sehat, serta mengikuti bimbingan manasik secara serius.

“Persiapan tidak bisa instan. Jemaah perlu membiasakan diri dengan aktivitas fisik, menjaga kesehatan, dan memahami alur ibadah melalui manasik. Dengan begitu, mereka tidak hanya siap secara mental dan spiritual, tetapi juga secara fisik untuk menjalankan ibadah haji dengan baik,” tutup dia. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya