Di Balik Sistem Kesehatan RI, Ada Rumah Sakit yang Menopang Mayoritas Layanan

Basuki Eka Purnama
21/4/2026 20:15
Di Balik Sistem Kesehatan RI, Ada Rumah Sakit yang Menopang Mayoritas Layanan
Ilustrasi(MI/HO)

DI balik perkembangan industri kesehatan Indonesia, ada kelompok rumah sakit yang jarang mendapat sorotan, namun justru melayani sebagian besar masyarakat. Mereka membutuhkan dukungan yang lebih konkret, bukan hanya dalam bentuk investasi, tetapi juga penguatan sistem manajemen, tata kelola yang lebih terstruktur, serta akses terhadap teknologi dan pembiayaan yang berkelanjutan. Tanpa itu, rumah sakit-rumah sakit ini akan terus berjalan dalam tekanan, meski perannya sangat krusial dalam menjaga layanan kesehatan tetap terjangkau bagi masyarakat luas.

Perspektif tersebut disampaikan Amira Ganis, pendiri Brawijaya Healthcare Group, saat membahas arah sistem kesehatan nasional ke depan. 

Amira menjelaskan, Indonesia memiliki sekitar 3.000 rumah sakit. Sekitar dua pertiganya adalah rumah sakit swasta. 

Dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil yang merupakan bagian dari jaringan besar. Mayoritas rumah sakit swasta di Indonesia adalah rumah sakit independen, dimiliki oleh keluarga, yayasan, atau kelompok dokter, yang tumbuh dan berkembang secara lokal di kota menengah, kabupaten, atau wilayah di luar kota metropolitan.

MI/HO--Pendiri Brawijaya Healthcare Group, Amira Ganis

“Rumah sakit seperti ini jarang menjadi headline industri kesehatan. Padahal mereka yang setiap hari melayani bagian terbesar dari masyarakat,” ujar Amira dalam sebuah perbincangan usai menghadiri perayaan Hari Kartini, Selasa (21/4). 

Rumah sakit-rumah sakit ini menerima pasien BPJS, termasuk menangani persalinan, menyediakan layanan gawat darurat, serta memberikan pelayanan spesialis dasar bagi masyarakat di wilayahnya. 

“Mereka mungkin tidak banyak terlihat, tetapi mereka adalah tulang punggung nyata dari sistem layanan kesehatan Indonesia,” tegas Amira. 

Amira menyebut kelompok ini sebagai ‘the invisible majority of Indonesian healthcare’.

Tantangan yang tidak Sederhana

Namun menjadi tulang punggung sistem kesehatan tidak selalu berarti memiliki fondasi yang kuat. Banyak rumah sakit independen di Indonesia lahir dari idealisme dokter atau inisiatif kelompok. Mereka tumbuh dari semangat pelayanan, bukan dari desain organisasi yang kompleks. Kini, mereka menghadapi tekanan yang semakin besar.

Tarif layanan yang ketat, kenaikan biaya alat kesehatan, kebutuhan digitalisasi, serta tuntutan standar pelayanan yang semakin tinggi membuat pengelolaan rumah sakit jauh lebih menantang dibandingkan dua dekade lalu. 

“Dulu rumah sakit bisa berjalan dengan niat baik dan dedikasi. Sekarang itu saja tidak cukup, regulasi dan tuntutan standarisasi berkembang makin menantang,” jelas Amira

Menurutnya, layanan kesehatan modern menuntut sistem yang jauh lebih matang: tata kelola organisasi yang baik, manajemen keuangan yang sehat, pengelolaan data yang akurat, hingga integrasi teknologi dalam operasional sehari-hari.

Tanpa sistem yang kuat, rumah sakit bisa kesulitan bertahan, bahkan jika komitmen pelayanannya sangat tinggi. 

“Inilah mengapa rumah sakit hari ini tidak hanya membutuhkan dokter yang baik, tetapi juga sistem manajemen yang kuat untuk menopang pelayanan mereka,” ungkap Amira

Rumah Sakit Sebagai Orkestra dari Ekosistem Layanan

Amira dikenal sebagai sosok di balik pengembangan Brawijaya Healthcare Group sejak 2006 hingga 2025. Dengan insting kuat sebagai entrepreneur dan inovator, langkahnya berawal dari pengalaman pribadi melahirkan di luar negeri, merasakan standar layanan yang jauh lebih personal dan nyaman. 

Kontras pengalaman saat kembali ke Indonesia pada 2003 itulah yang mendorongnya menghadirkan breakthru layanan kesehatan yang lebih humanis dan berstandar tinggi di dalam negeri.

Pengalaman membangun jejaring RS dari ground up, pemain niche yang berubah menjadi jejaring korporasi, selama hampir dua puluh tahun memberinya perspektif yang unik tentang bagaimana rumah sakit tumbuh, dan bagaimana mereka menghadapi berbagai fase dalam perjalanannya.

Membangun jaringan rumah sakit, menurutnya, bukan hanya soal investasi atau pembangunan fasilitas. Membangun rumah sakit membutuhkan proses panjang yang melibatkan visi, sistem, dan yang paling penting, orang-orang yang bekerja di dalamnya. 

“Rumah sakit itu pada dasarnya adalah orkestra dari ekosistem layanan (manusia). Dokter, perawat, tenaga kesehatan, manajemen, semuanya harus berjalan dalam harmoni. Kalau salah satu tidak berjalan dengan baik, pelayanan kepada pasien juga akan terpengaruh,” papar Amira.

Selama hampir dua dekade membangun dan memimpin dari 1 ide rumah sakit membangun korporasi hingga menaungi 6 unit rumah sakit, Amira memimpin dan merasakan langsung bagaimana kompleksitas sistem kesehatan terus berkembang. Pengalaman mahal inilah yang kemudian membuatnya banyak diminta berbagi perspektif tentang pengelolaan rumah sakit di Indonesia.

Dalam fase perjalanan berikutnya, Amira terpanggil untuk membantu lebih banyak rumah sakit di berbagai daerah yang berfokus pada transformasi manajemen dan operasional layanan kesehatan. 

“Setelah sekian lama berada di dalam satu organisasi dimana ada batasan ruang gerak, saya merasa pengalaman yang saya miliki bisa lebih bermanfaat kepada rumah sakit-rumah sakit lain,” ujar Amira.

Babak Baru: Entrepreneurship dan Mentoring

Menariknya, keterlibatan Amira dalam dunia kesehatan kini berjalan beriringan dengan aktivitas lain yang juga sedang ia tekuni. Dalam setahun terakhir, ia kembali aktif di dunia entrepreneurship, membangun beberapa perusahaan baru di berbagai bidang yang ia lihat memiliki potensi pertumbuhan ke depan.

Di saat yang sama, Amira juga semakin banyak terlibat dalam mentoring bagi anak muda terutama yang membangun startup. Menurutnya, Indonesia memiliki generasi entrepreneur muda yang sangat potensial. 

“Yang sering mereka butuhkan bukan hanya modal, tetapi juga pengalaman dan perspektif," katanya.

Bagi Amira, berbagi pengalaman setelah puluhan tahun membangun bisnis adalah bagian dari tanggung jawab. “Saya percaya perjalanan entrepreneurship tidak harus dijalani sendirian. Kadang satu percakapan saja bisa membantu seseorang melihat arah yang lebih jelas.”

Ketika ditanya tentang masa depan layanan kesehatan Indonesia, Amira kembali pada satu gagasan yang menurutnya sangat penting. 

“Jika Indonesia ingin memiliki sistem kesehatan yang kuat dan berkelanjutan, perhatian tidak hanya boleh tertuju pada pembangunan rumah sakit baru atau ekspansi jaringan besar,” ujar Amira.

Yang tidak kalah penting adalah memperkuat rumah sakit yang sudah ada, terutama rumah sakit komunitas yang selama ini melayani populasi terbesar. Memberikan dukungan melalui penguatan manajemen, sistem operasional yang lebih baik, kolaborasi jaringan, serta akses terhadap teknologi dan pembiayaan yang lebih sehat dapat membawa dampak signifikan bagi kualitas layanan kesehatan nasional.

Karena pada akhirnya, sistem kesehatan sebuah negara tidak hanya dibangun oleh institusi terbesar atau paling dikenal, namun juga dibangun oleh rumah sakit-rumah sakit yang setiap hari, tanpa banyak sorotan, terus melayani jutaan masyarakat. 

“Mereka mungkin tidak selalu terlihat, tapi tanpa mereka, sistem kesehatan kita akan pincang,” pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya