Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Wafat, Dikenang sebagai Sosok Pemersatu

Andhika Prasetyo
18/4/2026 12:34
Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Wafat, Dikenang sebagai Sosok Pemersatu
ilustrasi(Antara)

 

Kabar duka datang dari dunia pers nasional. Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Zulmansyah Sekedang, meninggal dunia pada usia 54 tahun akibat serangan jantung di RS Budi Kemuliaan, Sabtu dini hari pukul 00.10 WIB.

Di mata kolega, Zulmansyah bukan hanya pengurus organisasi, tetapi juga figur yang memainkan peran penting dalam menjaga keutuhan PWI di tengah dinamika internal. Wakil Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Herbert Timbo Siahaan, mengenang almarhum sebagai sosok yang legowo dan rela berkorban, terutama dalam fase krusial pascakonflik internal organisasi.

Menurut Herbert, Zulmansyah hadir di titik penting ketika PWI membutuhkan lebih dari sekadar figur kuat—melainkan sosok yang mampu meredakan ketegangan dan menjaga kesinambungan organisasi.

Momentum Kongres Luar Biasa PWI 2024 menjadi titik balik. Saat organisasi dilanda ketegangan hingga perpecahan struktural, Zulmansyah memilih jalan kompromi yang justru memperkuat organisasi.

Ia menerima posisi Sekretaris Jenderal mendampingi Akhmad Munir sebagai Ketua Umum PWI Pusat—sebuah keputusan yang dinilai bukan sekadar soal jabatan, melainkan strategi merawat organisasi agar tidak terjebak konflik berkepanjangan.

“Saya sering bertemu dengan Zulmansyah Sekedang ketika konflik di tubuh PWI sampai kemudian bersatunya Zulmansyah dengan Akhmad Munir. Zulmansyah sepakat Munir menjadi Ketua Umum PWI Pusat,” ujar Herbert.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam organisasi profesi tidak selalu ditentukan oleh posisi tertinggi, tetapi oleh kemampuan menjaga stabilitas dan membuka ruang kolaborasi.

Sikap legowo yang ditunjukkan Zulmansyah dinilai menjadi kunci dalam memulihkan kepercayaan serta menyatukan kembali energi wartawan dari berbagai daerah.

Di luar dinamika organisasi, warisan penting yang ditinggalkan Zulmansyah adalah komitmennya terhadap nilai-nilai dasar jurnalisme. Ia konsisten menekankan pentingnya kepatuhan pada Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, serta regulasi yang ditetapkan oleh Dewan Pers.

Prinsip tersebut, meski sederhana, menjadi fondasi penting di tengah perubahan lanskap media yang kian kompleks.

Kepergian Zulmansyah tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga pelajaran tentang kepemimpinan yang inklusif, kemampuan meredam ego, serta pentingnya menjaga integritas profesi dalam situasi apa pun.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya