Ilmuwan Temukan Telur Purba Berusia 250 Juta Tahun, Nenek Moyang Mamalia Ternyata Bertelur

Thalatie K Yani
17/4/2026 10:45
Ilmuwan Temukan Telur Purba Berusia 250 Juta Tahun, Nenek Moyang Mamalia Ternyata Bertelur
Penemuan fosil telur Lystrosaurus mengungkap rahasia evolusi mamalia dan cara mereka bertahan hidup dari kepunahan massal "Great Dying".(Professor Julien Benoit)

SEBUAH misteri besar dalam evolusi mamalia akhirnya terpecahkan. Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi fosil telur berusia 250 juta tahun yang berisi embrio Lystrosaurus, seekor hewan pemakan tumbuhan dari masa sebelum dinosaurus. Penemuan ini menjadi bukti perdana bahwa nenek moyang mamalia berkembang biak dengan cara bertelur.

Temuan yang dipublikasikan di jurnal PLOS One pada 9 April 2026 ini memberikan wawasan baru mengenai bagaimana hewan-hewan ini berhasil bertahan hidup melewati kepunahan massal Permian-Trias atau "Great Dying". Peristiwa tersebut memusnahkan 90% spesies di Bumi akibat panas ekstrem dan aktivitas vulkanik yang dahsyat.

Menemukan 'Nenek Moyang' di Dalam Telur

Fosil ini sebenarnya ditemukan pertama kali pada tahun 2008 di Afrika Selatan. Namun, teknologi saat itu belum mampu memastikan apakah embrio di dalamnya masih berada di dalam telur atau sudah menetas saat mati.

Jennifer Botha, profesor dari Evolutionary Studies Institute, University of the Witwatersrand, menyatakan bahwa selama 150 tahun sejarah paleontologi di Afrika Selatan, belum pernah ada telur therapsid (kelompok reptil mirip mamalia) yang teridentifikasi secara meyakinkan.

"Ini adalah pertama kalinya kita bisa mengatakan dengan yakin nenek moyang mamalia seperti Lystrosaurus bertelur. Ini merupakan tonggak sejarah sejati di bidang ini," ujar Botha dalam sebuah pernyataan resmi.

Melalui bantuan pemindaian CT canggih di European Synchrotron Radiation Facility, Prancis, tim peneliti menemukan struktur rahang bawah yang belum menyatu. Hal ini membuktikan embrio tersebut belum cukup berkembang untuk makan sendiri, sebuah tanda kuat bahwa ia memang belum menetas.

Strategi Bertahan Hidup yang Cerdas

Lystrosaurus dewasa digambarkan memiliki fisik seperti babi dengan kulit tanpa bulu, paruh mirip kura-kura, dan dua taring yang menonjol ke bawah. Rahasia kelangsungan hidup mereka ternyata terletak pada ukuran telurnya.

Para peneliti menemukan Lystrosaurus mengeluarkan telur yang berukuran besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya. Telur besar mengandung lebih banyak kuning telur, yang memungkinkan embrio berkembang lebih matang sebelum menetas. Alhasil, anak-anak Lystrosaurus lahir dalam kondisi yang lebih mandiri dan gesit untuk mencari makan serta menghindari bahaya.

Selain itu, cangkang telur yang bersifat kasar (seperti kulit) membantu menahan penguapan air di tengah lingkungan Bumi yang sangat kering saat itu. Julien Benoit, ahli paleontologi dari University of the Witwatersrand, menjelaskan pentingnya strategi reproduksi ini.

"Ini mengungkapkan bagaimana strategi reproduksi dapat membentuk kelangsungan hidup di lingkungan ekstrem: dengan menghasilkan telur besar yang kaya kuning telur dan anak yang prematur secara perkembangan (precocial), Lystrosaurus mampu berkembang biak dalam kondisi yang keras dan tidak terduga setelah kepunahan massal akhir-Permian," jelas Benoit.

Relevansi dengan Krisis Iklim Modern

Penemuan ini bukan sekadar soal sejarah purba. Benoit menambahkan bahwa memahami bagaimana organisme masa lalu bertahan dari gejolak global membantu ilmuwan memprediksi respons spesies modern terhadap stres lingkungan saat ini.

Dengan pertumbuhan yang cepat dan strategi reproduksi yang efektif, Lystrosaurus tidak hanya selamat dari kepunahan, tetapi sempat menjadi salah satu hewan darat yang paling dominan di Bumi, memberikan pelajaran berharga tentang ketahanan dan adaptasi di tengah krisis ekologi. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya