Pakar IPB: Kemunculan Satwa Langka Sinyal Krisis Ekosistem, bukan Pemulihan

Atalya Puspa    
14/4/2026 19:14
Pakar IPB: Kemunculan Satwa Langka Sinyal Krisis Ekosistem, bukan Pemulihan
Seekor harimau Sumatera (panthera Tigris Sumatrae) terkena jerat di ladang masyarakat di Nagari Palupuah, Agam, Sumatra Barat.(Dok. Antara)

KABAR kemunculan satwa langka di berbagai wilayah belakangan ini kerap disambut sebagai pertanda ekosistem yang mulai pulih. Pakar konservasi satwa IPB University, Ani Mardiastuti, mengingatkan bahwa fenomena itu tidak selalu mencerminkan peningkatan populasi.

Menurut Ani, setidaknya ada tiga penyebab mengapa satwa langka kian sering berpapasan dengan manusia. Yang pertama justru merupakan kabar buruk, penyusutan dan fragmentasi habitat yang memaksa satwa keluar dari wilayah jelajahnya.

"Satwa-satwa ini sebetulnya sudah ada, namun jumlahnya sedikit sehingga peluang untuk bertemu kecil. Karena habitat hutan mereka kini menyusut dan terfragmentasi, serta manusia semakin merangsek ke wilayah habitat mereka, satwa-satwa tersebut akhirnya lebih sering berpapasan dengan manusia," ujar Ani, Selasa (14/4).

Penyebab kedua adalah kemajuan teknologi pemantauan. Kamera trap berinfra merah, rekaman bioakustik, hingga drone kini memungkinkan peneliti mendeteksi keberadaan satwa di lokasi yang sebelumnya sulit dijangkau.

Kecerdasan buatan turut mempercepat proses identifikasi, misalnya mengenali individu harimau dari corak belangnya atau membedakan suara burung dengan mencocokkannya ke perpustakaan suara internasional seperti Xeno-canto.

Ketiga, kemunculan spesies yang lama tak terlihat sering kali merupakan hasil ekspedisi khusus yang memburu spesies dianggap punah, fenomena yang dalam dunia konservasi dikenal sebagai Lazarus Species.

Ketika spesies semacam ini ditemukan, peneliti kemudian membantu pemerintah menentukan status konservasi berdasarkan standar IUCN serta penyusunan daftar merah nasional.

Ani juga menyinggung tekanan sosial-ekonomi sebagai salah satu tantangan konservasi yang kerap diabaikan. Ia mencontohkan penggunaan bulu cendrawasih untuk hiasan adat di Papua.

Masyarakat adat sebenarnya memiliki kesadaran untuk menjaga alam, namun desakan kebutuhan ekonomi sering kali mengalahkannya. "Penegakan hukum tetap diperlukan," tegasnya.

Ia berharap setiap penemuan spesies langka bisa menjadi pemantik semangat peneliti untuk terus mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia, di tengah keterbatasan pendanaan riset di bidang ini. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya