Melacak Jejak Kanker Payudara Agresif, Ilmuwan Cari Cara "Lumpuhkan" Perisai Tumor

Thalatie K Yani
13/4/2026 10:30
Melacak Jejak Kanker Payudara Agresif, Ilmuwan Cari Cara
Ilustrasi(freepik)

KANKER payudara tetap menjadi ancaman kesehatan global yang masif. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 2,3 juta perempuan didiagnosis menderita penyakit ini pada 2022, dengan angka kematian mencapai 670.000 jiwa. Meski teknologi medis berkembang pesat, jenis kanker payudara yang agresif masih menjadi tantangan besar karena sulitnya memprediksi perkembangan penyakit ini secara akurat.

Menanggapi tantangan tersebut, sebuah inisiatif riset baru bertajuk Biomarker Research Integrating Data of Glyco-Immune Signatures and Clinical Evidence in Breast Cancer (BRIDGE) resmi diluncurkan. Proyek ini bertujuan mencari "jejak biologis" atau biomarker yang dapat memberikan petunjuk bagaimana kanker berperilaku pada setiap pasien.

Mengungkap Perisai Pelindung Tumor

Riset ini merupakan kolaborasi antara Instituto de Tecnologia Química e Biológica António Xavier (ITQB NOVA) dan Institut Onkologi Portugis (IPOFG). Fokus utama mereka adalah memahami mikrolingkungan tumor, ruang di sekitar sel kanker yang mencakup sel imun, pembuluh darah, dan struktur pendukung lainnya.

Para ilmuwan mencurigai adanya molekul kecil di permukaan sel dalam lingkungan ini yang berfungsi sebagai "perisai". Molekul tersebut membantu tumor menghindari deteksi sistem imun, sehingga kanker dapat tumbuh tanpa terkendali.

Catarina Brito, pemimpin laboratorium Advanced Cell Models di ITQB NOVA, menjelaskan fokus mereka adalah memahami "komunikasi" seluler tersebut.

"Kami sebelumnya telah mengidentifikasi bagaimana tumor berkomunikasi dengan sel-sel tertentu dari sistem imun untuk melindungi diri mereka sendiri," jelas Catarina Brito. Ia melanjutkan, "Melalui BRIDGE, kami bertujuan untuk memvalidasi temuan ini menggunakan sampel pasien nyata dan menerjemahkan pengetahuan ini ke dalam aplikasi klinis."

Menuju Pengobatan Personalisasi

Melalui kerja sama dengan IPOFG, tim peneliti akan menggunakan sampel pasien asli untuk memastikan apakah temuan laboratorium mereka dapat diterapkan dalam praktik medis nyata. Langkah ini krusial untuk mengubah data riset menjadi alat praktis yang bisa digunakan dokter untuk memantau perkembangan kanker.

Catarina menekankan pentingnya akurasi dalam penanganan pasien di masa depan.

"Dengan menemukan biomarker baru, kami berharap dapat berkontribusi pada terapi yang lebih presisi," pungkas Catarina.

Target utama dari proyek BRIDGE adalah beralih dari pendekatan pengobatan "satu ukuran untuk semua" menuju perawatan personalisasi. Dengan memahami karakteristik spesifik dari setiap tumor, dokter diharapkan dapat menentukan terapi yang paling efektif dan tepat sasaran.

Dukungan Pendanaan

Proyek BRIDGE didukung oleh program iNOVA4Health Lighthouse Projects (LHP) 2025. Selama dua tahun ke depan, proyek ini akan menerima pendanaan hingga €75.000. (sekitar Rp1,5 miliar) Investasi ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan strategi baru dalam memahami, memantau, dan mengobati bentuk kanker payudara yang paling agresif, sekaligus mempererat kolaborasi antara ilmuwan, klinisi, dan pakar teknologi. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya