BMKG: Gempa Susulan Maluku Utara M7,6 Meluruh dalam 2-3 Minggu

M Iqbal Al Machmudi
09/4/2026 13:36
BMKG: Gempa Susulan Maluku Utara M7,6 Meluruh dalam 2-3 Minggu
Informasi gempa Maluku Utara.(Dok. BMKG)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi frekuensi gempa susulan pascagempa utama berkekuatan Magnitudo (M) 7,6 di Maluku Utara akan terus menunjukkan tren penurunan signifikan. Berdasarkan analisis statistik terbaru, seluruh rangkaian aktivitas tektonik gempa Maluku Utara ini diperkirakan meluruh sepenuhnya dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu ke depan.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil monitoring hingga 9 April 2026 pukul 06.00 WIB, tercatat sebanyak 1.378 gempa susulan telah terjadi. Dari ribuan aktivitas tersebut, sebanyak 25 gempa di antaranya dirasakan oleh masyarakat.

Tren Penurunan Aktivitas Gempa

Data harian menunjukkan konsistensi penurunan aktivitas seismik sejak gempa utama yang terjadi pada 2 April 2026 lalu. Pada hari pertama, tercatat sebanyak 394 kejadian gempa. Angka ini terus merosot hingga mencapai 91 gempa pada hari keenam, dan 63 gempa pada hari ketujuh.

“Meskipun tren menunjukkan penurunan, intensitas gempa selama masa peluruhan ini bersifat fluktuatif. Getaran yang dirasakan sesekali mungkin masih muncul sebelum kondisi benar-benar stabil,” ujar Nelly dalam keterangan resminya, Kamis (9/4).

Validasi Dampak dan Jejak Tsunami

Tim survei gabungan BMKG dari Pusat, Balai Besar MKG Wilayah IV, hingga Unit Pelaksana Teknis (UPT) Maluku Utara dan Sulawesi Utara saat ini masih terus memvalidasi dampak di lapangan. Survei makroseismik membuktikan tingkat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di Kecamatan Pulau Batang Dua.

Selain guncangan, petugas di lapangan telah memverifikasi jejak rendaman tsunami dengan ketinggian berkisar 0,5 hingga 1,5 meter. Wilayah yang terdampak meliputi Bitung, Pulau Lembeh, Minahasa Utara, dan Minahasa Tenggara.

Temuan ini sekaligus membuktikan akurasi Peringatan Dini Tsunami pada tingkat “Siaga” yang diterbitkan BMKG saat kejadian berlangsung.

Langkah Mitigasi dan Imbauan Keamanan

Guna menjamin keamanan warga selama masa pemulihan, BMKG melaksanakan pengukuran mikrozonasi untuk memetakan kerentanan tanah terhadap potensi likuefaksi dan longsor. Langkah ini dibarengi dengan sosialisasi masif untuk menangkal informasi hoaks yang memicu kepanikan.

Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik. Ia menekankan pentingnya menghindari bangunan yang telah mengalami kerusakan struktur atau retakan signifikan.

“Masyarakat juga wajib menjauhi area lereng perbukitan yang rawan longsor akibat ketidakstabilan tanah pascagempa. Pastikan informasi hanya bersumber dari kanal resmi BMKG,” pungkas Rahmat. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya