SELURUH kaum Muslimin sepakat bahwa Allah Mahabesar. Kalimat Allahu Akbar diucapkan berkali-kali dalam sehari sebagai bentuk ikrar bahwa tidak ada yang lebih besar dari Allah SWT.
Namun, bagaimanakah kemahabesaran ini harus dimaknai secara benar menurut akidah Islam? Berikut pemaparan Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember.
Larangan Menyamakan Allah dengan Materi (Jism)
Salah satu kaidah mendasar dalam membahas sifat Allah adalah larangan menyerupakan-Nya dengan materi (jism). Kemahabesaran Allah adalah sifat mutlak yang tidak bisa diukur dengan perbandingan rasio makhluk mana pun. Allah telah Mahabesar sebelum waktu berjalan dan sebelum alam tercipta, tetap Mahabesar saat makhluk ada, dan tetap Mahabesar hingga kapan pun.
Penting untuk dicatat bahwa kemahabesaran Allah tidak boleh dimaknai sebagai ukuran fisik atau volume. Dalam dunia materi, sesuatu dikatakan besar jika menghabiskan lebih banyak ruang dibandingkan materi lain. Kita bisa membandingkan rasio besar manusia dengan bumi, atau bumi dengan galaksi. Namun, semua itu hanyalah perspektif ukuran fisikal yang memiliki batasan.
Baca juga : Kunjungi Abdul Somad, Nuruddin Kupas Mazhab Akidah Aswaja Asyari
Konsep Batasan Fisik (Hadd) dalam Pandangan Ulama
Ibnu Mandhur dalam kitab Lisân al-‘Arab menjelaskan bahwa hadd (batasan) adalah ujung dari segala sesuatu. Jika kita menyematkan batasan fisik pada Tuhan, secara logika kita mempertanyakan siapa yang mendesain atau membatasi ukuran tersebut. Hal ini mustahil bagi Allah.
Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja) sepakat bahwa Allah tidak memiliki batasan fisik. Berikut penegasan para imam besar:
Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti
- Imam Ahmad bin Hanbal: Menegaskan bahwa Allah tidak mengalami perubahan dan tidak memiliki batasan fisik, baik sebelum maupun sesudah penciptaan Arasy.
- Imam at-Thahawi: Dalam Matn al-‘Aqîdah at-Thahâwiyah, beliau menyatakan bahwa Allah Maha Suci dari batasan, ujung, unsur, anggota badan, maupun arah.
Baca juga: Akidah Iman kepada Allah Ada tanpa Tempat
Memaknai Al-Kabir Menurut Imam al-Ghazali
Jika bukan ukuran fisik, lalu apa maknanya? Imam al-Ghazali dalam al-Maqshad al-Asnâ menjelaskan bahwa Al-Kabîr (Mahabesar) adalah pemilik keagungan (kibriya'), yang berarti kesempurnaan Dzat atau kesempurnaan eksistensi.
Kesempurnaan eksistensi ini mencakup dua pengertian utama:
| Dimensi Makna | Penjelasan |
|---|---|
| Kesempurnaan Wujud (Al-Awwal) | Allah adalah yang paling lama ada. Keberadaan-Nya tidak memiliki awal mula, mendahului seluruh makhluk yang ada di jagat raya. |
| Kesempurnaan Sifat (Al-Hehebatan) | Istilah besar merujuk pada kehebatan ilmu, kekuasaan, dan akal. Allah ialah yang paling agung dan paling berkuasa atas segala sesuatu. |
Baca juga: Memahami Perbedaan Tafwidh dan Takwil dalam Menjelaskan Sifat Allah
Dengan demikian, kemahabesaran Allah dalam perspektif Aswaja adalah tentang keagungan eksistensi dan kekuasaan yang tak terbatas, bukan tentang volume ruang. Pemaknaan ini selaras dengan nash (teks agama), kaidah bahasa, maupun logika akal sehat. Wallahu a’lam.
