Jangan Terkecoh Iklan, Ini Kandungan Susu Formula yang Wajib Dicek Orang Tua!

 Gana Buana
08/4/2026 21:39
Jangan Terkecoh Iklan, Ini Kandungan Susu Formula yang Wajib Dicek Orang Tua!
Dokter anak mengingatkan orang tua tak terpaku klaim kemasan susu formula.(Freepik)

ORANG tua diminta tidak asal percaya pada klaim pemasaran saat memilih susu formula untuk anak. Dokter spesialis anak konsultan, Reza Fahlevi, Sp.A(K), menegaskan bahwa yang paling penting justru ada pada daftar komposisi, bukan pada janji manis di kemasan.

Menurut Reza, banyak orang tua berhenti pada label seperti “tinggi nutrisi”, “lengkap”, atau “baik untuk tumbuh kembang”, padahal kualitas produk baru bisa dinilai jika komposisinya dibaca secara utuh.

“Orang tua sebaiknya tidak berhenti pada klaim di kemasan. Yang wajib dipahami justru komposisi produknya secara utuh. Dari situlah terlihat kualitas sumber nutrisi yang benar-benar dikonsumsi anak setiap hari,” kata Reza dilansir drai Antara, Rabu (8/4).

Ia menjelaskan, hal pertama yang perlu diperiksa adalah bahan yang muncul di urutan teratas dalam daftar komposisi. Susunan itu menunjukkan bahan yang digunakan dalam jumlah paling besar.

Jika susu segar tercantum sebagai bahan utama, kata dia, hal itu menandakan formula dibuat dari susu segar utuh yang tidak melalui rantai produksi terlalu panjang. Aspek ini penting karena susu merupakan sumber energi, protein, kalsium, fosfor, serta berbagai mikronutrien yang berperan dalam pertumbuhan anak.

Namun perhatian orang tua, lanjut Reza, tidak boleh berhenti di situ. Ia mengingatkan agar bahan tambahan dalam susu formula juga dibaca dengan cermat, terutama sukrosa, maltodekstrin, sirup jagung, dan vanilin.

Maltodekstrin, misalnya, merupakan karbohidrat olahan yang cepat dipecah tubuh menjadi gula. Karena itu, orang tua perlu lebih waspada jika bahan ini muncul di urutan awal komposisi.

Sementara vanilin digunakan sebagai perisa untuk memperkuat rasa, sedangkan sirup jagung menjadi sumber gula tambahan yang bisa meningkatkan asupan gula harian anak. Dalam jangka panjang, paparan rasa manis sejak dini dinilai dapat membentuk preferensi rasa anak.

“Bahan-bahan ini bukan nutrisi utama, namun paparan rasa manis sejak dini dapat membentuk preferensi rasa anak,” ujar Reza.

Ia juga menyinggung peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai pentingnya membatasi konsumsi gula pada anak. Menurutnya, isu ini semakin relevan di Indonesia di tengah tingginya angka karies gigi pada anak.

Selain komposisi, Reza menekankan bahwa proses produksi, penyimpanan, hingga penanganan susu formula juga tidak boleh luput dari perhatian. Proses yang terlalu panjang dan pemanasan berulang, kata dia, berpotensi memengaruhi mutu nutrisi produk sebelum dikonsumsi anak.

Meski demikian, Reza mengingatkan bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap menjadi sumber gizi utama bagi bayi. ASI dinilai paling ideal karena lebih mudah diserap dan mengandung antibodi yang membantu melindungi anak dari berbagai penyakit.

Dalam kondisi ketika ASI tidak dapat diberikan secara penuh, susu formula memang kerap menjadi pilihan lanjutan. Karena itu, orang tua diminta lebih kritis agar keputusan yang diambil tidak semata berdasarkan merek atau promosi.

“Memilih susu formula bukan sekadar soal merek atau klaim yang terdengar meyakinkan. Ini tentang memahami apa yang benar-benar masuk ke tubuh anak setiap hari. Sudah saatnya orang tua lebih teliti membaca label dan lebih kritis dalam memilih,” kata Reza.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya