Beef Tallow Disebut Lemak Sehat, Ilmuwan: Bukti Ilmiahnya belum Kuat

Abi Rama
08/4/2026 18:36
Beef Tallow Disebut Lemak Sehat, Ilmuwan: Bukti Ilmiahnya belum Kuat
Beef tallow kembali populer dan disebut lemak sehat.(Dok. Freepik)

BEEF tallow, lemak masak tradisional dari lemak sapi, kembali ramai dibicarakan. Setelah lama dijauhi karena dikaitkan dengan risiko penyakit jantung, bahan ini kini justru masuk tren makanan 2026 dan gencar dipromosikan di media sosial.

Sorotan terhadap beef tallow makin besar setelah pedoman diet federal terbaru di Amerika Serikat memasukkannya bersama minyak zaitun dan mentega dalam kategori lemak sehat. Langkah itu memicu perdebatan di kalangan ahli gizi dan dokter.

Beef tallow adalah lemak putih hasil pemanasan jaringan lemak sapi. Bahan ini memiliki titik asap tinggi dan berbentuk padat pada suhu ruang, sehingga sejak lama digunakan untuk menggoreng dan memanggang.

Tinggi Lemak Jenuh

Di balik popularitasnya, banyak ilmuwan mengingatkan bahwa beef tallow mengandung lemak jenuh tinggi, yang selama puluhan tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.

Profesor nutrisi dari Tufts University, Alice Lichtenstein, menilai klaim beef tallow sebagai lemak sehat belum ditopang bukti ilmiah yang kuat.

“Tanpa bukti yang kuat, sangat sulit untuk merekomendasikannya,” ujarnya, dikutip dari AARP, Rabu (8/4).

Pandangan senada disampaikan Christopher Gardner dari Stanford Prevention Research Center. Menurut dia, penelitian sejak 1950-an telah menunjukkan bahwa konsumsi lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat, yang berkaitan erat dengan penyakit jantung.

Masih Kalah Sehat dari Minyak Nabati

Sejumlah studi menunjukkan beef tallow tetap kalah sehat dibanding minyak nabati. Dalam analisis besar yang membandingkan berbagai jenis lemak, beef tallow memang dinilai sedikit lebih baik daripada mentega, tetapi tetap memberi dampak lebih buruk pada kolesterol dibanding minyak berbasis tumbuhan seperti kanola dan bunga matahari.

Studi jangka panjang yang dimuat di JAMA Internal Medicine pada 2025 juga menemukan bahwa konsumsi minyak nabati berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah. Bahkan, mengganti satu sendok makan mentega dengan minyak nabati setiap hari disebut dapat menurunkan risiko kematian dini hingga 17 persen.

Peneliti juga menemukan bahwa mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dapat membantu memperbaiki kadar kolesterol sekaligus menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Belakangan, muncul kelompok yang mempertanyakan bahaya lemak jenuh. Mereka beranggapan lemak seperti beef tallow lebih baik daripada minyak nabati olahan atau seed oils, yang dituduh memicu peradangan.

Namun pandangan itu ditolak banyak ahli. American Heart Association menegaskan minyak nabati tetap menjadi pilihan yang lebih sehat, sementara asupan lemak jenuh sebaiknya dibatasi.

Menurut para ahli, kebingungan ini muncul karena sebagian studi terbaru tidak menemukan hubungan langsung antara lemak jenuh dan penyakit jantung. Padahal, faktor yang kerap diabaikan adalah makanan penggantinya.

Jika lemak jenuh diganti dengan makanan olahan tinggi gula, manfaat kesehatan memang tidak tampak. Namun, bila diganti dengan lemak nabati yang lebih sehat, hasilnya justru menunjukkan perbaikan kesehatan yang signifikan.

Batas Aman Konsumsi

Pedoman diet tetap menyarankan agar konsumsi lemak jenuh dibatasi kurang dari 10 persen dari total kalori harian. Dalam pola makan 2.000 kalori, batas itu setara dengan maksimal 20 gram lemak jenuh per hari.

Sebagai gambaran, satu sendok makan beef tallow mengandung sekitar 6 gram lemak jenuh, atau hampir sepertiga dari batas harian tersebut. Artinya, penggunaan rutin beef tallow dalam masakan berisiko membuat seseorang melampaui batas yang dianjurkan.

Para ahli menilai akan sulit menjaga asupan tetap aman jika beef tallow dikonsumsi bersamaan dengan sumber lemak jenuh lain, seperti daging merah dan produk susu penuh lemak.

Pada akhirnya, para pakar menekankan bahwa pola makan secara keseluruhan jauh lebih penting daripada satu bahan tertentu. Mereka menyarankan masyarakat mengurangi makanan ultra-proses dan menerapkan pola makan sehat seperti diet Mediterania, yang kaya buah, sayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Meski begitu, penggunaan beef tallow sesekali masih dinilai wajar, terutama bila membantu meningkatkan konsumsi sayuran. Namun untuk pilihan yang lebih aman bagi kesehatan jantung, minyak nabati seperti minyak zaitun tetap direkomendasikan sebagai opsi utama. (AARP/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya