Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBIASAAN menggertakkan gigi saat tidur, atau yang secara medis dikenal sebagai bruxism, sering kali dianggap sebagai gangguan ringan. Namun, pakar kesehatan menegaskan bahwa kondisi ini bukan sekadar masalah kesehatan gigi, melainkan melibatkan mekanisme kompleks pada otak dan sistem saraf pusat.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Yeni Quinta Mondiani, Sp.N, menjelaskan bahwa sleep bruxism merupakan gangguan tidur yang memerlukan perhatian serius jika terjadi secara terus-menerus. Kondisi ini ditandai dengan gerakan repetitif rahang bawah yang memicu gesekan antar gigi.
"Suara yang dihasilkan sering kali cukup mengganggu dan dapat berdampak buruk pada kesehatan gigi maupun sendi rahang," ujar dr. Yeni.
Secara medis, bruxism terjadi karena adanya peningkatan aktivitas pada otot-otot pengunyahan, seperti otot masseter, temporalis, dan pterygoid. Yeni menyebutkan bahwa aktivitas ini dipicu oleh gangguan kontrol gerakan pada sistem saraf, terutama yang melibatkan sistem dopaminergik.
"Kontraksi otot menjadi lebih sering dan lebih kuat dibandingkan kondisi normal. Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan sistem saraf pusat dalam mengatur gerakan tersebut," tambahnya.
Dalam klasifikasi medis, bruxism masuk ke dalam kategori parasomnia, yaitu perilaku tidak diinginkan yang muncul saat seseorang tertidur.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Prevalensi Usia | Paling sering ditemukan pada anak usia 3–12 tahun. |
| Distribusi Gender | Relatif sama antara pria dan wanita. |
| Faktor Pemicu Utama | Stres, kecemasan, genetik, kurang tidur, dan obat-obatan tertentu. |
| Komplikasi Terkait | Obstructive Sleep Apnea (OSA), nyeri rahang, dan sakit kepala. |
Selain faktor fisik, Yeni menekankan bahwa faktor psikologis memegang peranan krusial. Berdasarkan meta-analisis, terdapat korelasi kuat antara tingkat stres seseorang dengan risiko munculnya bruxism. Pengelolaan emosi dan tekanan mental menjadi kunci utama dalam meredam intensitas gerakan rahang saat tidur.
Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan gangguan lain seperti gangguan irama sirkadian dan nyeri kronis. Oleh karena itu, bruxism tidak boleh dianggap sepele, terutama jika sudah menimbulkan gejala fisik yang nyata.
Masyarakat diimbau untuk segera melakukan pemeriksaan medis apabila mulai merasakan gejala-gejala berikut:
"Jika disertai gangguan tidur atau dicurigai berkaitan dengan gangguan neurologis, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis," tegas Yeni.
Penanganan bruxism dilakukan secara komprehensif dengan menyesuaikan penyebab dasarnya. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
Dengan pemahaman yang tepat dan penanganan sejak dini, bruxism dapat dikendalikan sehingga tidak menimbulkan komplikasi jangka panjang pada kesehatan gigi maupun sistem saraf pusat. (Z-1)
Saat tidur, tubuh tidak benar-benar mati, tetapi justru bekerja untuk memulihkan energi, memperbaiki sel-sel tubuh, serta mengistirahatkan otak.
Cermin. Interior ini justru bisa diam-diam merusak kualitas tidur.
Perubahan pola tidur yang drastis selama masa liburan disinyalir dapat membuat tubuh mudah lelah hingga memicu penurunan konsentrasi yang signifikan.
Ketika waktu tidur berkurang, tubuh secara alami akan mencari kompensasi energi dari sumber lain, salah satunya melalui makanan.
Agar tidak tidur berlebihan saat puasa, cukup tidur malam hari selama 6 sampai 8 jam, bangun sahur tepat waktu, jangan tidur lama setelah sahur, serta atur tidur siang maksimal 20 hingga 30 menit.
Penelitian menunjukkan stres dan kecemasan dapat memicu kebiasaan buruk seperti menggertakkan gigi (bruxism), yang berujung pada kerusakan enamel, gigi sensitif, hingga trauma gigi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved