Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MOMEN berbuka puasa bersama keluarga menyimpan makna sosial dan psikologis yang jauh lebih dalam dibandingkan waktu makan pada hari biasa. Di balik hidangan yang tersaji, terselip ruang strategis untuk memperkuat relasi dan ketahanan emosional antaranggota keluarga.
Menurut Guru Besar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Prof. Euis Sunarti, saat berbuka adalah puncak kebahagiaan setelah seharian menahan lapar dan haus. Di sinilah keluarga berkumpul, berbincang, dan berdoa bersama pada waktu yang diyakini mustajab.
Dalam perspektif ilmu keluarga, interaksi di meja buka puasa menjadi wahana untuk membangun kohesi dan keterikatan (bonding). Prof. Euis menjelaskan bahwa momen ini berkontribusi besar pada penguatan fungsi ekspresif keluarga, mulai dari aspek agama hingga kasih sayang.

"Dalam ilmu keluarga, momen seperti ini menjadi wahana membangun tipologi keluarga regeneratif, resilien, rhythmic, dan tradisionalistik. Keluarga meningkatkan kohesi dan bonding, memperkuat kebersamaan melalui family time and routine, sekaligus memaknai waktu dan rutinitas tersebut dengan lebih dalam," ujarnya.
Atmosfer kebersamaan saat menunggu azan Magrib, seperti saling mengingatkan waktu berdoa dan berbagi cerita ringan, menjadi faktor kunci dalam membangun kelekatan emosional. Situasi yang penuh syukur ini secara otomatis meningkatkan ketahanan sosial-psikologis keluarga.
Banyak yang tidak menyadari bahwa obrolan santai sambil menunggu beduk adalah bentuk investasi jangka panjang. Prof. Euis menekankan bahwa dialog tersebut membantu setiap anggota keluarga merasa diterima dan dipahami.
"Percakapan ringan saat menunggu waktu berbuka pun memiliki peran penting. Interaksi tersebut dapat meningkatkan pemahaman dan penerimaan satu sama lain, membangun konsep diri yang positif, serta menjadi investasi dalam komponen resiliensi keluarga," paparnya.
Melalui kebiasaan ini, nilai-nilai seperti saling peduli, berbagi, dan menghargai satu sama lain kembali diperkuat. Ramadan seolah mengingatkan kembali bahwa keluarga adalah institusi tempat setiap individu saling terikat dan membutuhkan.
Tantangan utama dalam buka puasa bersama bukanlah pada menu yang disajikan, melainkan pada kualitas kehadiran. Prof. Euis menyarankan agar setiap anggota keluarga hadir secara utuh—tidak hanya raga, tetapi juga jiwa.
Bagi keluarga yang terkendala kesibukan pekerjaan, frekuensi pertemuan memang menjadi tantangan. Namun, hal tersebut bisa dikompensasi dengan meningkatkan kualitas komunikasi saat momen berbuka akhirnya tiba.
"Yang terpenting bukan hanya frekuensi pertemuan, tetapi kualitas komunikasi dan pemaknaan kebersamaan," pungkas Prof. Euis.
Dengan pemaknaan yang tepat, momen berbuka puasa akan menjadi fondasi kokoh bagi ketahanan keluarga di masa depan. (Z-1)
Pemerintah mengklaim harga barang kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 lebih stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Arah kebijakan Baznas ke depan termasuk target pengumpulan zakat nasional yang ditetapkan mencapai Rp160 triliun dan Baznas pusat sebesar Rp10 triliun pada 2031.
Momentum Ramadan mendorong spektrum belanja yang lebih luas—dari kebutuhan harian hingga pengeluaran yang lebih aspiratif.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Human Initiative terus melakukan evaluasi dalam setiap pelaksanaan program.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Melalui kegiatan buka puasa bersama ini diharapkan dapat semakin mempererat kebersamaan, kekeluargaan, serta memperkuat nilai-nilai persatuan di tengah masyarakat
Suasana lingkungan yang kondusif hanya bisa tercipta jika terdapat hubungan harmonis antar pemeluk agama.
Nova Paloh menekankan bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk merekatkan kembali hubungan yang mungkin merenggang akibat kesibukan sehari-hari.
Baznas berkomitmen untuk terus membantu masyarakat yang terdampak konflik dan bencana, termasuk di Palestina.
Tantangan bangsa saat ini tidak hanya datang dari persoalan ekonomi dan geopolitik, tetapi juga dari maraknya disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian di ruang publik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved