Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ahli dari World Health Organization (WHO) dan Food and Agricultural Organization (FAO) telah melakukan kajian ilmiah risiko dan manfaat (risk and benefit) perihal konsumsi ikan, berdasar bukti ilmiah yang ada.
Kajian dilakukan secara mendalam, baik tentang bukti manfaat konsumsi ikan dan juga laporan tentang kemungkinan kontaminasi
bahan seperti dioxin, polychlorinated biphenyls (dl-PCBs), methylmercury (MeHg) dan selenium (SE).
Dari kajian tersebut ada banyak manfaat yang dihasilkan dari konsumsi ikan. Pertama, kesimpulan umum menunjukkan bahwa mengonsumsi ikan akan memberi energi, protein dan berbagai jenis nutrien yang penting bagi kesehatan.
"Kedua, manfaat dari konsumsi ikan akan diperoleh dalam seluruh perjalanan kehidupan, termasuk saat kehamilan, anak-anak dan dewasa," kata Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama dalam keterangannya, Senin (16/2).
Manfaat ketiga, data ilmiah dari studi populasi menunjukkan bahwa manfaat dan dampak individual konsumsi ikan akan bergantung dari pola diit secara keseluruhan, karakteristik seseorang dan jenis ikan yang dikonsumsi.
"Keempat, penilaian risiko dan manfaat di masing-masing tempat akan bergantung dari kebiasaan konsumsi, derajat kontaminasi, komposisi nutrien ikan, minat masyarakat setempat, kultur budaya dan demografi setempat," ujar Yoga.
Kelima, direkomendasikan agar negara-negara menyusun strategi analisis risiko (penilaian risiko, manajemen risiko dan komunikasi risiko) untuk memaksimalkan manfaat konsumsi ikan dan meminimalisir risiko yang mungkin ada. (Z-1)
Angka ekspor perikanan mencapai lebih dari 100 ribu ton pada tahun 2024, sementara konsumsi ikan warga Jateng hanya 40,41 kg per kapita per tahun
Jangan panik jika jadwal vaksin anak terlewat. Dokter spesialis anak jelaskan prosedur catch-up immunization atau imunisasi kejar untuk lindungi buah hati.
WHO merekomendasikan transisi dari vaksin influenza quadrivalent ke trivalent karena hilangnya virus B/Yamagata. Simak penjelasan medis dan dampaknya.
Vaksin influenza trivalen kembali menjadi standar global setelah WHO merekomendasikan penghapusan komponen garis keturunan B/Yamagata.
AI dan teknologi genomik mempercepat diagnosis penyakit langka. Inovasi ini membuka akses pengobatan lebih cepat bagi jutaan pasien di dunia.
Taiwan melaporkan capaian Gold Tier WHO dalam eliminasi hepatitis C dengan diagnosis 90,2% dan pengobatan 92,6%, mendekati target global 2030.
Indonesia pimpin suara Global South dalam negosiasi WHO Pandemic Agreement 2026. Cek latar belakang Uni Eropa dinilai hambat kesetaraan akses kesehatan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved