Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA jarang membayangkan bahwa kondisi yang mengancam jiwa, seperti serangan jantung atau stroke, bisa terjadi pada diri sendiri. Banyak orang merasa terlalu muda atau terlalu sehat sehingga cenderung mengabaikan tanda-tanda awal yang sebenarnya penting.
“Anda berpikir, ‘Saya terlalu muda’ atau ‘terlalu sehat’ untuk itu terjadi, dan Anda dapat mengabaikan gejala-gejala penting,” kata Dr. Emily Lau, ahli jantung di Massachusetts General Hospital yang berafiliasi dengan Harvard. Padahal, mengenali gejala sejak dini dapat menyelamatkan nyawa.
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke sebagian otot jantung terhambat, dan kondisi ini bisa berakibat fatal. Gejala yang paling umum adalah nyeri atau tekanan hebat di tengah dada.
Nyeri ini sering datang dan pergi, terutama saat beraktivitas, dan menjadi salah satu tanda peringatan dini. Namun, serangan jantung tidak selalu ditandai dengan nyeri dada saja.
Gejala lain yang juga patut diwaspadai antara lain sesak napas yang baru muncul, kelelahan ekstrem, mual atau muntah, serta nyeri mendadak di perut, punggung, rahang, atau bahu, bahkan tanpa nyeri dada.
Menurut Lau, perempuan lebih sering mengalami gejala-gejala tersebut dibanding nyeri dada klasik, meski pria juga bisa mengalaminya.
Untuk membedakan serangan jantung dengan gangguan lain, Lau menyarankan dua pertanyaan sederhana: apakah gejala tersebut baru, dan apakah gejalanya berulang atau tidak kunjung hilang.
Jika sebelumnya Anda mampu melakukan aktivitas tertentu tanpa masalah, tetapi kini aktivitas yang sama terasa jauh lebih berat, hal itu patut dicurigai.
Begitu pula jika nyeri di perut, punggung, rahang, atau bahu muncul saat beraktivitas dan terus berulang. Dalam kondisi seperti ini, segera hubungi dokter.
Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat atau pembuluh darah di otak pecah. Stroke dapat menyebabkan dampak serius hingga kematian.
Gejala stroke berat biasanya muncul tiba-tiba, seperti kesulitan berbicara atau memahami ucapan orang lain, mati rasa atau kelemahan pada satu sisi tubuh, gangguan penglihatan, pusing, atau sakit kepala hebat. Munculnya salah satu gejala tersebut memerlukan penanganan darurat segera.
Dalam beberapa kasus, peringatan stroke berat diawali oleh stroke ringan yang disebut serangan iskemik transien (TIA). Gejalanya mirip dengan stroke, tetapi berlangsung singkat dan sering kali diabaikan.
Misalnya, kehilangan penglihatan di satu mata selama beberapa menit yang dianggap akibat terlalu lama menatap layar ponsel. Padahal, TIA sering menjadi pertanda akan terjadinya stroke yang lebih besar.
Meski gejalanya dapat hilang, serangan berikutnya bisa menyebabkan kerusakan permanen. Lau menegaskan, jika gejala stroke muncul secara tiba-tiba, meski kemudian menghilang, segera hubungi dokter.
Fibrilasi atrium atau afib merupakan gangguan irama jantung yang ditandai dengan kontraksi cepat dan tidak teratur pada bilik atas jantung.
Kondisi ini menyebabkan darah dapat menggenang dan membentuk bekuan, yang berisiko berpindah ke otak, jantung, atau organ lain dan memicu komplikasi serius. Banyak penderita afib tidak merasakan gejala apa pun, sehingga kondisi ini kerap luput terdeteksi.
Namun, sebagian orang mengalami palpitasi, yaitu sensasi jantung berdebar sangat cepat atau tidak teratur, bahkan saat sedang beristirahat. Gejala lain bisa berupa rasa hampir pingsan atau kelelahan yang muncul tiba-tiba.
Beberapa orang bahkan menyadari adanya gangguan irama jantung melalui jam tangan pintar yang memantau detak jantung. Meski teknologinya tidak sempurna, alat tersebut cukup membantu dalam mendeteksi kemungkinan afib. Jika Anda mencurigai adanya gejala, catat frekuensi dan waktu kemunculannya, lalu segera konsultasikan ke dokter.
Emboli paru terjadi ketika gumpalan darah, yang biasanya terbentuk di kaki, bergerak menuju paru-paru dan menyumbat pembuluh darah.
Kondisi ini dapat mengurangi pasokan oksigen ke tubuh, merusak paru-paru, dan berpotensi fatal.
“Hal ini dapat menyebabkan darah kembali menumpuk di jantung, dan bahkan menyebabkan jantung berhenti berdetak,” ujar Lau.
Gejala utama emboli paru meliputi sesak napas, nyeri dada, kelelahan ekstrem, hingga pingsan. Namun, ada pula gejala lain yang sering tidak dikaitkan dengan kondisi ini, seperti batuk, demam, pusing, mengi, atau jantung berdebar, yang menyerupai gejala flu.
Jika gumpalan darah berasal dari kaki, atau trombosis vena dalam (DVT), seseorang bisa mengalami nyeri, pembengkakan, atau kemerahan pada salah satu kaki. Dr. Lau menyarankan untuk mempertimbangkan faktor risiko, seperti duduk terlalu lama, penggunaan obat tertentu yang meningkatkan risiko pembekuan darah, atau riwayat keluarga DVT.
Jika gejala mencurigakan muncul bersamaan dengan faktor risiko tersebut, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan. (Harvard University/Z-1
MK memutuskan penyakit kronis dapat dikategorikan sebagai disabilitas fisik melalui asesmen medis. Simak penjelasan ahli IPB University terkait dampaknya.
Data WHO 2025-2026 mengungkap 10 penyakit paling mematikan di dunia, dari jantung hingga diabetes. Simak ancaman kesehatan global terbaru dan faktor pemicunya.
Merasa terganggu dan takut kehilangan kewarasan, wanita tersebut mencari bantuan psikiater, Dr. Ikechukwu Obialo Azuonye.
Para peneliti di Jepang menilai terapi ini memiliki potensi besar untuk menangani berbagai kondisi medis, mulai dari penyakit degeneratif, gangguan saraf, hingga kerusakan organ.
Obesitas adalah penyakit kronis kompleks. Dokter spesialis gizi ungkap faktor hormonal dan sel memori yang bikin berat badan susah turun. Simak solusinya!
Obesitas bukan sekadar berat badan berlebih, tapi penyakit kronis. Simak penjelasan dr. Vardian Mahardika mengenai risiko PCOS, Alzheimer, hingga sleep apnea.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved