Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis obstetri dan ginekologi dr Amarylis Febrina Choirin Nisa Fathoni, Sp.OG, IBCLC mengatakan virus Respiratory Syncytial Virus (RSV) dapat menyebabkan beberapa jenis infeksi pada bayi yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.
"Gejala virusnya itu sudah sangat mengganggu, untuk kita saja yang dewasa, kita sakit mungkin bisa menyampaikan ketidaknyamanan. Tapi kalau pada bayi ke bawah tidak bisa seperti itu," kata Nisa, dikutip Rabu (20/11).
Dokter lulusan Universitas Indonesia itu menjelaskan bahwa RSV bukan sekadar flu biasa pada bayi. RSV telah menjadi penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah (ISPB) pada anak-anak di seluruh dunia.
RSV dapat menyebabkan anak terkena infeksi seperti bronkiolitis dan pneumonia. Meski sering disamakan, kedua penyakit itu ternyata cukup berbeda dari berbagai sisi.
Virus RSV yang dapat menyebabkan bronkiolitis dapat menyerang saluran napas kecil. Gejalanya biasa berupa demam dan sesak nafas.
Dalam beberapa kasus, penderitanya juga dapat mengalami mengi. Kemudian pada pneumonia, penyebabnya bisa beraneka ragam seperti virus, bakteri atau jamur. Virus yang masuk ke dalam tubuh cenderung menyerang jaringan dalam paru.
Menurutnya, jika anak terkena demam tinggi maka pneumonia disebabkan oleh infeksi virus. Pada demam yang naik turun dan tidak membaik, ada kemungkinan bahwa anak terkena pneumonia yang disebabkan oleh bakteri.
Ditentukannya penyebab pneumonia akan memerlukan waktu karena dokter akan melakukan pemeriksaan sekret.
Nisa menyebut RSV paling berbahaya bila diderita oleh bayi dalam enam bulan pertama kehidupannya. Sebab, bayi lahir dengan sistem imun yang belum matang dan beru bisa membangun kekebalan seiring usia.
Kondisi bayi semakin rentan pada usia itu karena belum bisa mendapatkan imunisasi RSV.
Atas dasar itu, Nisa menyarankan supaya ibu hamil segera mengikuti vaksinasi RSV yang direkomendasikan dilakukan pada usia 28 hingga 36 minggu kehamilan, yang menjadi periode emas untuk transfer antibodi maksimal dari ibu ke janin sebelum kelahiran.
"Dari seluruh pneumonia pun, yang disebabkan oleh karena Pneumococcus pneumonia yang bayi disuntik vaksin PCV di bulan ke-2, 4, 6, dan 12, itu hanya melindungi 6,7 persen dari seluruh kejadian pneumonia yang diakibatkan non-RSV. Kalau RSV itu 31,1 persen, jadi ada perbedaan besar," ucap dia.
Dalam studi Matisse yang melibatkan setidaknya 7.400 ibu hamil, vaksin RSV terbukti memiliki efikasi yang tinggi terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB) oleh virus itu.
"RSV adalah ancaman nyata bagi Indonesia, imunisasi selama kehamilan adalah strategi paling efektif untuk melindungi bayi," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Kemenkes RI luncurkan Konsorsium 1000 HPK bersama Rabu Biru Foundation untuk mengintegrasikan intervensi kesehatan ibu dan anak demi target Indonesia Emas 2045.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja membagikan tips menjaga kelembapan kulit bayi dan memilih material popok yang tepat untuk cegah iritasi.
Studi dari lembaga riset National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa struktur otak perempuan mengalami perubahan signifikan selama kehamilan.
Tindakan sederhana seperti mencuci tangan adalah prosedur wajib sebelum menyentuh atau menggendong si kecil.
Kemendukbangga/BKKBN menyiapkan sejumlah posko layanan keluarga di berbagai titik strategis jalur mudik Lebaran 2026 yang tersebar di 31 provinsi
Penasaran kenapa bayi manusia lahir tidak berdaya sementara anak hewan langsung bisa jalan? Simak alasan evolusi, anatomi panggul, dan batas metabolisme ibu.
Merujuk pada data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2020–2024, terjadi peningkatan tren kasus pneumonia, diare, tuberkulosis, dan HIV pada anak-anak Indonesia.
Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal
ISPA tidak menyerang semua orang dengan dampak yang sama. Terdapat kelompok tertentu yang jauh lebih berisiko mengalami kondisi ini.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Infeksi cacing secara kronis dapat menurunkan produksi ayam petelur, baik dari segi kuantitas maupun bobot telur.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved