Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDEMI covid-19 yang muncul sejak 2019 telah merenggut lebih dari 7 juta jiwa di seluruh dunia, termasuk lebih dari 1 juta orang di Amerika Serikat (AS). Selain angka kematian yang mencengangkan, virus SARS-CoV-2 juga meninggalkan dampak panjang berupa penyakit kronis, gangguan pada rantai pasokan, hingga tekanan berat terhadap sistem kesehatan global. Namun, menurut ahli epidemiologi terkemuka Michael Osterholm, pandemi berikutnya bisa jadi lebih buruk jika dunia tidak bersiap sejak dini.
Peringatan tersebut dituangkan dalam buku terbarunya berjudul “The Big One: How We Must Prepare for Future Deadly Pandemics” (Little Brown Spark, 2025). Osterholm, yang juga merupakan direktur pendiri Center for Infectious Disease Research and Policy (CIDRAP) di University of Minnesota, menulis buku ini bersama penulis pemenang penghargaan Mark Olshaker.
Buku tersebut bukan sekadar ulasan tentang covid-19, tetapi juga rangkuman pelajaran dari pandemi-pandemi sebelumnya serta panduan tindakan konkret untuk menghadapi wabah penyakit menular di masa depan. Osterholm menekankan kesiapsiagaan global menjadi kunci utama agar kerugian yang sama tidak terulang kembali.
“Sejak saat itu, kita pada dasarnya telah menghancurkan kapasitas yang dimiliki untuk merespons pandemi,” kata Osterholm kepada Live Science. Ia menyoroti pembubaran unit khusus di Gedung Putih yang sebelumnya menangani urusan pandemi. Menurutnya, kebijakan ini membuat Amerika Serikat kehilangan salah satu garda terdepan dalam menangani krisis kesehatan berskala global.
Dalam wawancaranya, Osterholm juga menyinggung bahwa banyak negara cenderung bersikap reaktif ketimbang proaktif. Padahal, pandemi berikutnya berpotensi muncul dari berbagai sumber, termasuk virus zoonosis baru yang dapat melompat dari hewan ke manusia. Ia mengingatkan bahwa pengalaman covid-19 seharusnya menjadi titik balik untuk memperkuat sistem kesehatan publik, memperluas riset vaksin, hingga membangun koordinasi internasional yang lebih solid.
Buku The Big One hadir sebagai peringatan sekaligus panduan praktis. Osterholm menekankan perlunya investasi berkelanjutan dalam penelitian, laboratorium, serta infrastruktur kesehatan. Menurutnya, dunia tidak bisa lagi menganggap pandemi sebagai kejadian langka, melainkan ancaman yang nyata dan berulang.
Dengan narasi yang lugas, buku ini juga mengajak masyarakat untuk memahami upaya pencegahan dan kesiapan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga kesehatan, melainkan juga membutuhkan dukungan publik. Kesadaran kolektif, kata Osterholm, dapat menentukan seberapa cepat dan efektif sebuah negara merespons wabah.
Peringatan Osterholm menjadi relevan di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Meski covid-19 sudah mulai mereda, dampak yang ditinggalkan menunjukkan bahwa dunia masih rentan. Tanpa persiapan matang, pandemi berikutnya bisa memakan korban lebih banyak dan menimbulkan kerugian ekonomi maupun sosial yang lebih besar. (Livescience/Z-2)
Muncul istilah varian Cicada dalam perkembangan covid-19. Simak penjelasan mengenai status validasi dan karakteristik varian baru ini.
Tri Wibawa mengingatkan bahwa langkah pencegahan terhadap varian Cicada pada dasarnya tidak berbeda dengan upaya menghadapi Covid-19 secara umum.
Pakar UGM memastikan varian Covid-19 Cicada belum terdeteksi di Indonesia. Simak penjelasan mengenai gejala, asal-usul, dan efektivitas vaksinasi di sini.
Ia menegaskan, terdapat tiga virus pernapasan utama yang idealnya terus dipantau, yakni COVID-19, influenza, dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Objektif harus diakui bahwa sekolah daring adalah proses pembelajaran yang menyebabkan lahir generasi covid-19
Dokter mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak minimal dua pekan sebelum mudik Lebaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved