Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RS UI) Shofa Nisrina Luthfiyani membagikan tips bagi para orangtua agar bisa mengatasi kecanduan screen time yang dialami anak, khususnya saat makan agar mereka tidak mengalami gangguan pola makan.
"Yang kita harus lakukan adalah memperkenalkan kembali pola lapar dan kenyang pada anak," kata Shofa, dikutip Kamis (24/7).
Dalam kasus anak yang kecanduan screen time atau harus terus mengakses layar gadget saat sedang makan, biasanya kebiasaan mengakses gadget terbentuk oleh orangtua yang merasa anak membutuhkan distraksi agar tidak rewel ketika makan.
Namun, ternyata kebiasaan mengakses gadget ini malah membuat pola makan anak menjadi tidak teratur, anak cenderung tidak menyadari rasa lapar, dan justru ketika gadget-nya diambil anak menjadi tantrum.
Maka dari itu, penting mengenalkan kembali pola lapar dan kenyang pada anak sebagai bagian meregulasi ulang pola makannya.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk membentuk pola lapar dan kenyang adalah menyiapkan kembali jadwal makan yang tertata dan harus diikuti oleh anak.
Ketika mengatur ulang jadwal makan, orangtua harus memastikan dua jam sebelum dan sesudah jadwal ditetapkan anak tidak mengonsumsi hal-hal lain seperti camilan yang dapat mengganggu rasa lapar atau kenyang pada anak.
"Misalnya sarapan anak itu jam delapan pagi gitu ya. Nah paling bagus, dua jam sebelum makan dan dua jam setelahnya anak itu tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan lain selain air putih," kata Shofa.
Bersamaan dengan itu, orangtua juga harus menghilangkan segala bentuk distraksi saat jadwal makan anak berlangsung. Dalam hal ini distraksi seperti paparan gadget, mainan, atau bahkan hal-hal yang mengganggu pandangan mata harus ditiadakan.
Orangtua bisa mengikuti aturan pemberian makan yang dikenal sebagai feeding rules mengikuti anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang membatasi waktu makan anak maksimal 30 menit.
"Idealnya pemberian makan itu kondisinya harus kondusif, enggak boleh ada distraksi. Walaupun memang mau dikasih mainan saat makan itu mainannya enggak boleh yang mendistraksi seperti yang mengeluarkan bunyi, mengeluarkan cahaya lampu begitu ya supaya anaknya tetap fokus makan," ujarnya.
Kedua kiat ini bisa diterapkan oleh orangtua agar pola makan yang berulang bisa kembali tercipta dan anak kembali merasakan rasa lapar dan
rasa kenyang sehingga nantinya kecanduan terhadap gadget saat makan perlahan-lahan bisa dilepaskan.
"Jadi memang yang harus dikembalikan adalah rasa lapar dan kenyang pada anak. Karena kalau anaknya kenal rasa lapar, pasti dia mau makan
(tanpa harus mengakses gadget). Jadi solusi sebenarnya adalah memperbaiki waktu makannya," tutup Shofa. (Ant/Z-1)
Dietisien RS Pelni menekankan pentingnya protein, sayur, dan buah bagi tumbuh kembang anak serta risiko jangka panjang akibat kurang gizi.
Emotional eating itu salah satu bentuk perilaku makan yang merujuk pada kecenderungan seseorang mengonsumsi makanan karena kendali emosi, bukan karena lapar.
Di dalam tubuh manusia, terdapat hormon tertentu yang bertugas mengatur nafsu makan, rasa kenyang, hingga rasa lapar.
Aturan pemberian makan anak atau feeding rules tidak hanya bicara soal apa yang dimakan, tetapi mencakup tiga pilar utama: jadwal, prosedur, dan lingkungan.
Istilah "makan terakhir" biasanya merujuk pada hidangan pamungkas yang diinginkan seseorang sebelum menutup usia.
Minat makan anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman sensorik, termasuk variasi rasa dan aroma.
IDAI mengingatkan bahaya media sosial bagi anak, mulai dari adiksi hingga cyberbullying. Orangtua diminta aktif mendampingi penggunaan digital.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Screen time yang tidak tepat dinilai dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara signifikan.
Banyak orang tua menganggapnya cara aman agar bayi tetap terhubung dengan orang terkasih yang tinggal jauh.
Screen time kita sangat tinggi, lebih dari 7,5 jam. Bahkan anak-anak di bawah dua tahun pun menghadapi exposure screen time yang tinggi.
9 dari 10 kota di Indonesia dikategorikan tidak ramah anak karena minimnya taman dan ruang bermain terbuka, sementara 70% fasilitas yang ada sudah tidak layak pakai.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved