Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TELUR, salah satu makanan paling bergizi yang mudah ditemukan, ternyata bisa membawa ancaman serius bagi kesehatan jika terkontaminasi Salmonella. Bakteri ini dapat menyelinap ke dalam telur, bahkan yang tampak bersih dan tidak retak.
Jika tidak ditangani dengan benar, telur yang terkontaminasi dapat menyebabkan penyakit yang berbahaya bagi tubuh, terutama bagi anak-anak, orang tua, dan seseorang yang memiliki sistem imun yang lemah. Menjaga keamanan makanan bukan hanya tugas produsen, tetapi juga kita sebagai konsumen.
Salmonella merupakan bakteri yang sering ditemukan pada unggas dan telur mereka. Proses penularan dapat terjadi ketika telur bersentuhan dengan kotoran ayam atau bahkan dari dalam tubuh ayam saat telur terbentuk.
Meski ada tindakan pencegahan dari produsen, beberapa telur bisa tetap terkontaminasi. Jika telur ini dimakan dalam kondisi mentah atau tidak matang sempurna, risiko terinfeksi bakteri menjadi sangat tinggi.
Seseorang bisa menghindari risiko ini dengan cara memastikan telur yang dikonsumsi telah dimasak dengan benar. Suhu masak minimal 160°F untuk memastikan bakteri ini mati. Selain itu, telur yang retak sebaiknya segera dibuang karena lebih rentan terkontaminasi dengan bakteri ini.
Baca juga : 5 Macam Penyakit yang Perlu Diwaspadai oleh Jemaah Haji
Infeksi Salmonella, atau dikenal sebagai salmonellosis, biasanya menyerang sistem pencernaan. Gejalanya bisa berupa diare, mual, muntah, demam, dan kram perut yang biasanya muncul antara 6 hingga 72 jam setelah terpapar.
Dalam banyak kasus, infeksi ini dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 4 hingga 7 hari tanpa perawatan medis. Namun, pada beberapa orang, terutama mereka yang rentan, infeksi bisa menyebar ke aliran darah dan organ lain yang berpotensi mematikan.
Untuk kelompok yang lebih rentan seperti anak-anak di bawah 5 tahun, lansia, wanita hamil, dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius. Dalam beberapa kasus, antibiotik diperlukan untuk mencegah penyebaran bakteri ke organ vital.
Selain masalah gastrointestinal seperti muntah dan diare, infeksi Salmonella yang parah dapat menyebabkan dehidrasi dan infeksi darah yang berbahaya. Bagi individu yang sehat, kondisi ini bisa diatasi dengan perawatan sederhana.
Baca juga : 10 Cara Merawat Kulit Wajah agar Terhindar dari Jerawat
Namun, untuk mereka yang rentan, infeksi ini bisa berujung pada rawat inap atau bahkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat. Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan bahwa telur yang dikonsumsi telah dimasak dengan sempurna.
Penanganan yang salah, seperti menyimpan telur di suhu yang tidak sesuai atau menggunakan telur mentah dalam makanan seperti salad atau mayones buatan sendiri, juga bisa meningkatkan risiko kontaminasi.
Kesadaran akan bahaya telur terkontaminasi Salmonella sangat penting untuk menjaga kesehatan keluarga. Dengan menerapkan kebiasaan sederhana seperti menyimpan telur di kulkas, memasak telur hingga matang sempurna, dan mencuci tangan setelah menyentuh telur mentah, kita bisa meminimalisir risiko infeksi.
Ingat, keamanan makanan adalah tanggung jawab bersama, dan mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Jadi, pastikan telur yang dikonsumsi aman dan bebas dari ancaman Salmonella. (Z-10)
Dokter spesialis anak ingatkan bahaya konsumsi mie instan dan susu kental manis berlebih bagi anak di pengungsian banjir Sumatra. Simak saran gizinya.
Menurut Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof. Rizal M. Damanik, mengonsumsi dua butir telur per hari adalah investasi sederhana namun berdampak besar bagi pertumbuhan anak.
Telur purba ini memiliki panjang hampir 30 sentimeter, ukuran yang sangat besar untuk telur bercangkang lunak.
TELUR sering dianggap sebagai sumber protein yang sangat baik. Namun masiih banyak uga menganggap bahwa kuning telur hanya meningkatkan kolesterol dan menambah lemak.
Terlur mengandung protein berkualitas tinggi, lemak sehat, vitamin A, D, E, B12, mineral zat besi, fosfor, selenium.
Kebutuhan cabai besar di Kepri mencapai 12.074 ton per tahun. Namun, produksi lokal saat ini baru berada di angka 4.508 ton.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved