Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EL Nino bukanlah penyebab utama dari kekeringan yang melanda Indonesia saat ini. Hal itu diungkapkan oleh Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB Tri Wahyu Hadi.
“Kondisi el nino yang tidak strong, masih ada kemungkinan akan mengalami kekeringan atau tidak. Tapi ketika terjadi el nino strong, itu memang akan terjadi kekeringan,” kata Tri, Sabtu (9/9).
El Nino dengan intensitas kuat yang menyebabkan kekeringan, kata dia, pernah melanda Indonesia pada 1972-1973, lalu pada 1982-1983, 1997-1998 serta 2015.
Baca juga: Pemerintah Perlu Ambil Langkah Tanggap Darurat untuk Tangani Kekeringan
“Tapi bukan berarti tidak terpengaruh. Hanya kadang kering atau kadang tidak terlalu kering, sehingga rerata dampaknya itu kurang hebat dibanding dengan strong El Nino,” beber dia.
Di samping El Nino, ada fenomena iklim yang juga membuat curah hujan menurun dan suhu bumi meningkat, yakni pula angin di atas wilayah Filipina yang menyebabkan akumulasi uap air.
Baca juga: Hujan di Sebagian Wilayah, Waspada Dampak Siklon Tropis Saola
“Jadi bukan hanya El Nino atau La Nina, tapi ada proses lain yang perlu kita kaitkan, mungkin tidak langsung dari kondisi laut pasifik tapi ada pola sirkulasi udara tertentu yang menyebabkan adanya perbedaan akumulasi uap air yang ada di atas suatu wilayah,” jelas dia.
Di samping itu, beberapa penelitian yang dilakukan beberapa puluh tahun lalu juga melaporkan bahwa anomali iklim di Indonesia telah berlangsung dari ratusan juta lalu. Misalnya saja peneliti dari Belanda pada 1929 menyatakan bahwa di Indonesia curah hujan tidak menentu. Terkadang, curah hujan panjang dan musim kering tidak datang. Kondisi sebaliknya pun pernah terjadi.
Selain itu penelitian yang dilakukan pada tahun 1971-1973 oleh peneliti dari Hawaii juga menyebutkan bahwa di tahun itu curah hujan Juli, Agustus, September, Oktober, sangat kecil, padahal di tahun-tahun lain cukup besar.
“Jadi anomali iklim sebenarnya terjadi sejak dulu dan salah satu fenomena yang menyebabkan adalah El Nino,” imbuhnya.
Menurut dia, hingga Agustus 2023, dampak El Nino belum dapat dikatakan ekstrem. Hal itu berbeda dengan kejadian El Nino yang terjadi pada. 1997-1998 lalu.
“Tapi tentu kondisinya harus kita pantau terus, El Nino di Samudera Pasifik bisa lebih menguat lagi. Beberapa bulan ke depan sebagian besar wilayah kita akan mengalami defisit curah hujan. Tapi Desember, Januari dan Februari sudah berkurang,” tutup dia. (Ata/Z-7)
Berdasarkan analisis curah hujan dasarian ketiga Maret 2026, sebagian besar wilayah Jawa Tengah berada pada kategori menengah hingga tinggi.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Tengah akan lebih kering (di bawah normal). Cek jadwal awal kemarau dan puncak kekeringan di wilayah Anda.
BMKG memprediksi musim kemarau di NTB mulai April 2026 akan lebih kering dari biasanya. Simak wilayah terdampak dan imbauan resminya di sini.
Sedikitnya 75 RT dan 19 ruas jalan terdampak genangan air akibat hujan deras yang mengguyur DKI Jakarta sejak Sabtu (7/3).
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan lebih kering dibanding 2025. Awal kemarau maju ke April 2026. Simak daftar wilayah terdampak di sini.
Periode 1-10 Februari 2026 atau dasarian I Februari terdapat peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 milimeter per dasarian sebesar 70 hingga lebih dari 90 persen.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat menegaskan, langkah mitigasi telah disiapkan untuk merespons dinamika iklim ekstrem tersebut.
BUPATI Siak Afni Zulkifli menegaskan komitmen penuh Pemerintah Kabupaten Siak dalam mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menghadapi ancaman Super El Nino tahun 2026.
KABUPATEN Indramayu diprakiran memasuki musim kemarau mulai akhir April 2026 ini.
BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan Indonesia mulai memasuki masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau 2026.
Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau saat ini telah melejit 20 kali lipat menjadi 8.555,37 hektare dibanding 2025.
KABUPATEN Penajam Paser Utara (PPU) menyatakan siaga bencana dalam menghadapi dampak fenomena El Nino yang diprediksi puncaknya terjadi pada pertengahan 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved