Atasi Kelainan Jantung Bawaan tanpa Operasi

(Aiw/H-3)
25/9/2019 06:40
Atasi Kelainan Jantung Bawaan tanpa Operasi
Ilustrasi Sakit Jantung(123RF)

KEMAJUAN teknologi di bidang kedokteran, khususnya bidang intervensi karodiologi anak, membawa angin segar bagi para penderita penyakit jantung bawaan. Kini, penderita penyakit jantung bawaan tidak perlu lagi menjalani operasi atau pembedahan terbuka.

Penanganan bisa dilakukan dengan intervensi nonbedah atau percutaneous coronary intervention (PCI). PCI adalah prosedur intervensi nonbedah dengan menggunakan kateter untuk melebarkan atau membuka pembuluh darah koroner yang menyempit dengan balon atau stent.

"Jadi dipasang balon pada bagian yang bermasalah. Kalau lubang ditutup tambah, kita tidak buka (bedah) jantungnya, tapi kita masukkan dari paha," jelas dokter spesialis penyakit jantung Radityo Prakoso dalam konferensi pers ASEAN Federation Cardiology Congress (AFCC) di ICE BSD City, Tangerang, pada Jumat (20/9).

Prosedur intervensi itu dinilai memiliki berbagai keuntungan, seperti risiko/komplikasi operasi relatif lebih rendah, masa pemulihan lebih singkat, serta biaya lebih murah.

Penyakit jantung bawaan, jelas Radityo, merupakan kelainan baik pada struktur maupun fungsi jantung yang didapat sejak masih berada dalam kandungan. Kelainan ini dapat terjadi pada dinding jantung, katup jantung, maupun penbuluh darah di dekat jantung. Penyebabnya ialah pembentukan jantung yang tidak sempurna.

"Kelainan jantung bawaan dapat dideteksi dengan fetal echo saat usia kandungan menginjak 20 minggu," ujar Radityo.

Penyakit jantung bawaan (congenital heart disease) merupakan kelainan bawaan yang paling sering ditemukan. Di Indonesia, angka kejadian diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup atau 9:1000 setiap tahunnya.

Sampai saat ini tidak diketahui secara pasti apa penyebab timbulnya penyakit jantung bawaan maupun cara pencegahannya. "Ada yang diduga terpapar bahan-bahan kimia, usia menikah yang tua atau sudah berumur, defisiensi vitamin juga, gangguan kromosom misalnya down syndrome. Tapi itu ternyata baru 20% yang diketahui, 80% sisanya tidak tahu," imbuh Radityo.

Kendala penanganan di Indonesia, lanjut Radityo, ialah jumlah dokter ahli yang masih sangat kurang. Saat ini, hanya terdapat 80 hingga 90 dokter, itu pun sudah termasuk dokter anak yang turut menangani penyakit jantung bawaan. Akibatnya, antrean operasi penyakit jantung bawaan mengular. "Bisa sampai 3 tahun di Rumah Sakit Harapan Kita karena semua dikirim ke sana," tuturnya.

Prosedur PCI dilakukan setelah dilakukan pengecekan pada pasien dan kondisinya memungkinkan dilakukan PCI. Namun, jika kondisi harus segera ditangani, mau tak mau harus dilakukan operasi. (Aiw/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya