Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI sebagian masyarakat, epilepsi kerap dikaitkan dengan kejang-kejang yang muncul tiba-tiba. Gejala itu acap kali membuat orang sekitarnya bingung, bahkan takut. Penderita pun kerap menjadi minder.
Sejatinya, penyakit yang bisa terjadi kepada bayi hingga orang dewasa itu bisa dipulihkan. Baik dengan obat-obatan maupun operasi. Kata kuncinya, deteksi dan penanganan dini.
"Pada pasien epilepsi ada letupan listrik yang berlebihan di otak yang mengakibatkan kejang. Letupan itu terjadi karena ada kelainan yang terjadi pada sekat otak," ujar dokter spesialis saraf Aris Catur Bintoro dalam seminar tentang epilepsi di Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda, Jakarta, Sabtu (15/9).
Dengan kemajuan teknologi, lanjutnya, saat ini deteksi epilepsi semakin mudah. Termasuk dalam menentukan lokasi kerusakan atau fokus epilepsi.
"Apakah pusatnya dari otak kiri atau kanan, bisa dideteksi dengan EEG. Kemudian epilepsinya dipastikan apakah general atau parsial (vokal). Jika epilepsi vokal, sumbernya sebelah mana," katanya.
Epilepsi dapat ditanggulangi dengan obat. Dengan terapi obat-obatan, sekitar 60% pasien tidak lagi mengalami gejala kejang. Adapun pada kasus yang sulit disembuhkan dengan obat-obatan, bisa diatasi dengan tindakan operasi. "Kasus yang sulit disembuhkan umumnya karena gangguan di otak terjadi di beberapa bagian."
Operasi dilakukan untuk mengangkat bagian saraf otak yang mengalami kerusakan dan menjadi fokus (sumber) epilepsi.
Pada kesempatan sama, dokter spesialis bedah saraf RSU Bunda, Zainal Mustaqqin, menjelaskan operasi menjadi solusi untuk pasien epilepsi. Tingkat keberhasilannya sekitar 70%. "Dalam operasi dilakukan pemotongan saraf yang rusak tanpa mengganggu fungsi saraf otak yang lain," terangnya.
Ia menambahkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan epilepsi, yakni faktor genetik (keturunan), penyakit lain, seperti stroke, ataupun penyakit yang disebabkan virus, serta benturan. "Termasuk infeksi virus rubela karena dia menyerang otak."
Dari berbagai penyebab tersebut, gejala yang ditimbulkan tidak selalu berupa kejang-kejang, tetapi bisa berupa hilangnya konsentrasi dan bengong.
"Epilepsi tidak harus kejang tergantung dari bagian otak mana yang terkena. Bisa saja gejalanya seperti bengong dan pada bayi lidahnya mengecap-ngecap, atau bisa jadi dia merasa dejavu," ungkapnya.
Dia mengingatkan, saat menghadapi penderita epilepsi yang kejang-kejang, biarkan dulu gejala itu berlangsung. Yang terpenting, jauhkan penderita dari benda-benda yang membahayakan jiwanya.
Penggunaan EEG portabel memungkinkan pemeriksaan dilakukan dalam kondisi yang lebih natural, seperti saat anak bermain atau tidur.
Epilepsi bukan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau organisme yang bisa berpindah antarindividu.
Riset terbaru mengungkap kaitan epilepsi lobus temporal dengan penuaan dini sel otak. Terapi baru menggunakan kombinasi obat yang sudah ada menunjukkan hasil menjanjikan.
Saat ini lebih dari 50 juta pasien epilepsi di dunia, tercatat 4,9 juta di antaranya merupakan pasien baru setiap tahunnya.
Rumah Sakit Rosie di Cambridge tengah menguji teknologi revolusioner yang menggabungkan cahaya dan ultrasonik untuk memantau aktivitas otak bayi.
Seorang perempuan berusia 31 tahun mengalami tawa tak terkendali selama puluhan tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved