Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DIAGNOSIS epilepsi pada anak masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan waktu pemeriksaan hingga kondisi pasien yang tidak selalu kooperatif saat menjalani prosedur medis. Padahal, deteksi dini menjadi kunci penting untuk menentukan terapi yang tepat sekaligus mencegah dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.
Salah satu kendala itu terletak pada pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) yang digunakan untuk merekam aktivitas listrik otak. Metode konvensional umumnya membutuhkan alat besar serta dilakukan di ruang khusus, yang kerap membuat anak merasa tidak nyaman dan berpotensi memengaruhi hasil pemeriksaan.
Seiring perkembangan teknologi, pendekatan diagnosis mulai bergeser ke arah yang lebih fleksibel dan ramah pasien. Salah satunya melalui penggunaan EEG portabel yang memungkinkan pemeriksaan dilakukan dalam kondisi yang lebih natural, seperti saat anak bermain atau tidur.
Konsultan Neurologi Anak RSIA Bunda Jakarta, Dr. dr. Achmad Rafli, Sp.A, Subsp. Neuro(K), FICNA, menjelaskan bahwa pendekatan ini dapat meningkatkan akurasi diagnosis, terutama pada kasus epilepsi yang kompleks.
"EEG portabel memungkinkan perekaman aktivitas listrik otak dilakukan secara lebih natural, saat anak dalam kondisi rileks, bermain, atau bahkan tidur. Kondisi ini membantu kami memperoleh data yang lebih akurat untuk menegakkan diagnosis, termasuk pada kasus epilepsi yang kompleks, serta menentukan terapi yang paling tepat bagi setiap pasien," ujarnya pada rangkaian peringatan Hari Epilepsi Sedunia di RSIA Bunda Jakarta, Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, perangkat dengan desain ringkas dan non-invasif ini juga mampu mengurangi artefak atau gangguan sinyal yang kerap muncul akibat ketidaknyamanan pasien saat menggunakan alat konvensional. Dengan demikian, kualitas hasil pemeriksaan dapat meningkat secara keseluruhan.
Pengembangan teknologi ini juga membuka peluang layanan yang lebih luas, termasuk pemeriksaan yang dapat dilakukan secara lebih fleksibel di luar ruang konvensional. Hal ini menjadi penting mengingat gelombang kejang pada pasien epilepsi tidak selalu muncul setiap saat, sehingga membutuhkan waktu dan kondisi yang tepat untuk dapat terdeteksi.
Dalam konteks penguatan layanan, fasilitas kesehatan mulai mengintegrasikan pendekatan teknologi dengan layanan terpadu. Salah satunya dilakukan oleh RSIA Bunda Jakarta yang meresmikan Pediatric Neurology Center sebagai pusat layanan khusus untuk diagnosis dan penanganan gangguan saraf anak, bertepatan dengan peringatan Hari Epilepsi Sedunia.
Pusat layanan ini didukung tim multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis anak konsultan neurologi, terapis tumbuh kembang, serta tenaga keperawatan terlatih. Layanan yang tersedia mencakup diagnosis epilepsi, evaluasi gangguan perkembangan saraf, manajemen kejang demam, hingga rehabilitasi medik yang terintegrasi.
Selain penguatan fasilitas, pendekatan kolaboratif juga dinilai penting dalam meningkatkan kualitas penanganan. Hal ini tercermin dalam diskusi panel yang menghadirkan pakar neurologi anak serta pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Unit Kerja Koordinasi (UKK) Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan komunitas pemerhati epilepsi anak.
Diskusi yang dimoderatori oleh dr. IGAN Partiwi, Sp.A, MARS tersebut menghadirkan sejumlah dokter spesialis anak konsultan neurologi, seperti Prof. Dr. dr. Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K), Prof. Dr. dr. RA Setyo Handryastuti, Sp.A(K), serta dr. Amanda Soebadi, Sp.A, Subsp. Neurologi(K), M.Med (Clin Neurophysiol). Turut hadir pula dr. Dara Ninggar Santoso, Sp.A, M.Med (Clin Epi), serta perwakilan komunitas Ruang Peduli Epilepsi Anak Indonesia, Meiftah Nuzulil Rahma.
Kolaborasi lintas pihak ini diharapkan dapat memperkuat upaya peningkatan kualitas layanan, sekaligus memperluas edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya deteksi dini gangguan neurologis pada anak.
Ke depan, pengembangan layanan neurologi anak juga diarahkan pada pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendukung prediksi kejang serta mendorong pendekatan terapi yang lebih personal dan presisi.
Dengan kombinasi inovasi teknologi, layanan terpadu, dan kolaborasi lintas sektor, deteksi serta penanganan epilepsi pada anak diharapkan dapat dilakukan lebih cepat dan akurat, sehingga risiko komplikasi dapat ditekan dan kualitas hidup pasien dapat meningkat. (Put/E-1)
Terapi genetik zorevunersen menunjukkan hasil luar biasa bagi anak dengan epilepsi langka Dravet Syndrome. Kejang berkurang drastis dan kualitas hidup meningkat.
Epilepsi sering disalahartikan sebagai penyakit mistis. Simak 5 fakta penting yang membongkar mitos seputar epilepsi dan bantu hilangkan stigma di masyarakat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved