Alasan Culling Game Jujustu Kaisen Libatkan Penyihir Tua

Reynaldi Andrian Pamungkas
11/4/2026 23:40
Alasan Culling Game Jujustu Kaisen Libatkan Penyihir Tua
Jujutsu Kaisen(Doc IMDB)

DALAM narasi Jujutsu Kaisen karya Gege Akutami, Culling Game (Shimetsu Kaiyu) merupakan salah satu arc paling kompleks dan brutal. Turnamen maut ini bukan sekadar pertarungan antar penyihir modern, melainkan sebuah eksperimen berskala besar yang dirancang oleh Kenjaku. Salah satu elemen paling menarik adalah kemunculan kembali para penyihir dari era Heian hingga Edo yang telah mati ribuan tahun lalu.

Apa Itu Culling Game dalam Jujutsu Kaisen?

Culling Game adalah permainan eliminasi yang melibatkan para pengguna energi kutukan di seluruh Jepang. Permainan ini dipicu oleh Kenjaku setelah peristiwa Shibuya Incident. Dengan menggunakan teknik Idle Transfiguration milik Mahito yang telah diserap, Kenjaku mengaktifkan tanda yang ia tanamkan pada ribuan orang non-penyihir untuk menjadi penyihir modern atau menjadi wadah bagi penyihir masa lalu.

Permainan ini berlangsung di 10 koloni yang tersebar di seluruh Jepang, membentuk sebuah penghalang (barrier) raksasa yang berfungsi untuk memproses energi kutukan dalam jumlah masif.

Alasan Culling Game Melibatkan Penyihir Tua

Keterlibatan penyihir dari masa lalu bukan tanpa alasan. Berikut adalah beberapa faktor utama mengapa Kenjaku membangkitkan mereka:

1. Kontrak Mengikat (Binding Vows) Selama Ribuan Tahun

Selama berabad-abad, Kenjaku telah melakukan perjalanan dan membuat kontrak dengan berbagai penyihir kuat yang merasa tidak puas dengan era mereka atau ingin menantang diri di masa depan. Para penyihir ini setuju untuk menjadi objek kutukan (seperti jari Sukuna) agar bisa dibangkitkan kembali di era modern melalui wadah manusia.

2. Kebutuhan akan Energi Kutukan Tingkat Tinggi

Penyihir modern, kecuali segelintir orang seperti Gojo Satoru, cenderung memiliki level kekuatan yang lebih rendah dibandingkan penyihir dari "Era Keemasan Sihir" (Era Heian). Untuk mencapai tujuannya, Kenjaku membutuhkan sirkulasi energi kutukan yang sangat besar dan intens. Penyihir tua membawa teknik kutukan yang lebih murni, brutal, dan efisien untuk memicu konflik yang lebih berdarah.

3. Menguji Batas Evolusi Manusia

Kenjaku ingin melihat apa yang terjadi jika energi kutukan dioptimalkan hingga batas maksimal. Dengan mempertemukan penyihir masa lalu yang berpengalaman dengan penyihir modern yang memiliki teknik inovatif, ia menciptakan "kawah candradimuka" untuk melahirkan bentuk baru dari energi kutukan.

Siapa Saja Penyihir Masa Lalu yang Terlibat?

Beberapa nama besar yang muncul kembali dalam Culling Game antara lain:

  • Hajime Kashimo: Penyihir dari 400 tahun lalu yang mencari Ryomen Sukuna untuk pertarungan terakhir.
  • Ryu Ishigori: Pemilik Cursed Energy Output tertinggi dalam sejarah.
  • Takako Uro: Mantan kapten regu pembunuh dari era Heian yang mampu memanipulasi ruang (langit).
  • Dhruv Lakdawalla: Penyihir kuno yang mampu menaklukkan sebuah kepulauan sendirian.

Tujuan Akhir: Penggabungan dengan Master Tengen

Seluruh pertumpahan darah dalam Culling Game hanyalah ritual persiapan. Energi kutukan yang terkumpul dari kematian para peserta digunakan untuk mengondisikan seluruh populasi Jepang agar bisa bergabung dengan Master Tengen. Jika ini terjadi, umat manusia akan berevolusi menjadi entitas baru yang melampaui penyihir jujutsu, namun dengan risiko hilangnya individualitas dan potensi munculnya kutukan yang bisa menghancurkan dunia. (Z-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya