Aming Bongkar Sisi Lain Karakter Jahat di Ghost in the Cell

Media Indonesia
09/4/2026 23:44
Aming Bongkar Sisi Lain Karakter Jahat di Ghost in the Cell
Aktor Aming dalam film Ghost in The Cell(Dok Instagram )

AKTOR Aming kembali tampil dengan pendekatan yang tidak biasa lewat perannya di film Ghost in the Cell. Dalam film ini, ia tidak sekadar memainkan sosok antagonis, tetapi menghadirkan karakter yang lebih kompleks.

Alih-alih menjadi villain yang hanya berfungsi sebagai lawan tokoh utama, karakter yang dibawakan Aming justru berada di wilayah abu-abu. Ia memiliki sisi gelap, tetapi juga menyimpan latar belakang yang membentuk siapa dirinya.

“Karakter ini bukan orang jahat yang kosong, ada alasan kenapa dia jadi seperti itu,” ujar Aming dalam Konferensi pers di Epicentrum.

Karakter Abu-abu, Bukan Sekadar Antagonis

Dalam Ghost in the Cell, Aming memerankan karakter yang tidak bisa langsung dilabeli sebagai jahat. Ada sisi manusia yang tetap terlihat, bahkan di tengah tindakan yang dianggap salah.

Bagi Aming, justru di situlah tantangan sekaligus kekuatan peran ini. Ia berusaha menghindari pendekatan yang klise dan memilih menggali sisi emosional karakter. “Yang menarik buat saya, karakter ini punya sisi yang bisa dipahami, bukan cuma ditakuti,” katanya.

Pendekatan ini membuat karakter terasa lebih hidup. Penonton tidak hanya melihat konflik di permukaan, tetapi juga diajak memahami apa yang mendorong karakter tersebut bertindak.

Dibangun dari Luka dan Emosi

Salah satu fondasi utama karakter ini adalah latar belakang emosionalnya. Aming menyebut bahwa peran yang ia mainkan dibentuk dari pengalaman hidup yang tidak sederhana, termasuk luka dan tekanan yang memengaruhi cara berpikirnya.

Ia mencoba masuk ke dalam sisi tersebut agar karakter tidak terasa datar. “Semua orang punya cerita, termasuk yang dianggap jahat,” ungkapnya.

Lewat proses ini, karakter yang muncul bukan sekadar simbol kejahatan, tetapi individu dengan perjalanan hidup yang kompleks.

Realitas yang Sering Diabaikan

Peran Aming di Ghost in the Cell juga membawa lapisan yang lebih luas. Ia tidak hanya memainkan karakter, tetapi juga merefleksikan bagaimana masyarakat sering memberi label tanpa memahami latar belakang seseorang.

Melalui karakter ini, penonton diajak melihat bahwa realitas tidak selalu sesederhana benar atau salah. Ada banyak faktor yang membentuk seseorang, termasuk pengalaman dan kondisi yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Pendekatan ini membuat film terasa lebih relate. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk melihat manusia dari sudut pandang yang lebih utuh. Di tangan Aming, karakter jahat di Ghost in the Cell tidak terasa jauh. Justru terasa lebih dekat, dengan konflik, emosi, dan sisi manusia yang sering tidak terlihat. (Intan Safitri/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya