Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTOR Aming kembali tampil dengan pendekatan yang tidak biasa lewat perannya di film Ghost in the Cell. Dalam film ini, ia tidak sekadar memainkan sosok antagonis, tetapi menghadirkan karakter yang lebih kompleks.
Alih-alih menjadi villain yang hanya berfungsi sebagai lawan tokoh utama, karakter yang dibawakan Aming justru berada di wilayah abu-abu. Ia memiliki sisi gelap, tetapi juga menyimpan latar belakang yang membentuk siapa dirinya.
“Karakter ini bukan orang jahat yang kosong, ada alasan kenapa dia jadi seperti itu,” ujar Aming dalam Konferensi pers di Epicentrum.
Dalam Ghost in the Cell, Aming memerankan karakter yang tidak bisa langsung dilabeli sebagai jahat. Ada sisi manusia yang tetap terlihat, bahkan di tengah tindakan yang dianggap salah.
Bagi Aming, justru di situlah tantangan sekaligus kekuatan peran ini. Ia berusaha menghindari pendekatan yang klise dan memilih menggali sisi emosional karakter. “Yang menarik buat saya, karakter ini punya sisi yang bisa dipahami, bukan cuma ditakuti,” katanya.
Pendekatan ini membuat karakter terasa lebih hidup. Penonton tidak hanya melihat konflik di permukaan, tetapi juga diajak memahami apa yang mendorong karakter tersebut bertindak.
Salah satu fondasi utama karakter ini adalah latar belakang emosionalnya. Aming menyebut bahwa peran yang ia mainkan dibentuk dari pengalaman hidup yang tidak sederhana, termasuk luka dan tekanan yang memengaruhi cara berpikirnya.
Ia mencoba masuk ke dalam sisi tersebut agar karakter tidak terasa datar. “Semua orang punya cerita, termasuk yang dianggap jahat,” ungkapnya.
Lewat proses ini, karakter yang muncul bukan sekadar simbol kejahatan, tetapi individu dengan perjalanan hidup yang kompleks.
Peran Aming di Ghost in the Cell juga membawa lapisan yang lebih luas. Ia tidak hanya memainkan karakter, tetapi juga merefleksikan bagaimana masyarakat sering memberi label tanpa memahami latar belakang seseorang.
Melalui karakter ini, penonton diajak melihat bahwa realitas tidak selalu sesederhana benar atau salah. Ada banyak faktor yang membentuk seseorang, termasuk pengalaman dan kondisi yang tidak selalu terlihat di permukaan.
Pendekatan ini membuat film terasa lebih relate. Bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk melihat manusia dari sudut pandang yang lebih utuh. Di tangan Aming, karakter jahat di Ghost in the Cell tidak terasa jauh. Justru terasa lebih dekat, dengan konflik, emosi, dan sisi manusia yang sering tidak terlihat. (Intan Safitri/E-4)
FILM Ghost in the Cell hadir sebagai horor-komedi satir yang memadukan unsur hiburan dan kritik sosial dalam satu paket cerita.
FILM karya Joko Anwar, Ghost in the Cell mendapat sambutan yang meriah saat penayangan perdana (world premiere) di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026.
SUTRADARA Joko Anwar bersiap comeback dalam film baru berjudul Ghost in The Cell, ini menjadi film ke-12 yang ditulis dan disutradarai Joko Anwar.
Lukman Sardi, Tora Sudiro, dan Aming dipastikan kembali hadir dalam satu judul film layar lebar, Ghost in The Cell (Hantu di Penjara) karya penulis dan sutradara Joko Anwar.
Komedi dan horor, dua-duanya adalah genre yang perlu craftmanship dan timing yang presisi. Menggabungkan keduanya adalah challenge terbesar kami dan para kru dan pemain berhasil mencapainya
Aming diperkenalkan sebagai pemeran karakter bernama Tokek, seorang narapidana dengan latar belakang yang kompleks.
Cikawe adalah sebuah kampung unik yang hidup dari kreativitas di jalur “alternatif”, yaitu pusat produksi berbagai barang tiruan alias KW
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved