Pemerintah Didesak Perkuat Hilirisasi Sawit untuk Sektor Pangan

Naufal Zuhdi
27/4/2026 15:53
Pemerintah Didesak Perkuat Hilirisasi Sawit untuk Sektor Pangan
ilustrasi(Antara)

Industri kelapa sawit dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan karakteristik produktivitas tinggi, pasokan yang stabil, dan beragam potensi pemanfaatan, sawit dinilai mampu menjadi fondasi penting dalam pengembangan industri pangan berbasis bahan baku domestik. Pandangan tersebut disampaikan Ketua Bidang Pertanian sekaligus Ketua Satuan Tugas Pangan Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), M Hadi Nainggolan. Menurutnya, industri kelapa sawit, mulai dari sektor hulu hingga hilir, telah menjadi salah satu penopang utama kebutuhan pangan masyarakat Indonesia.

“Dari kelapa sawit kita menghasilkan berbagai macam produk turunan di bidang pangan. Banyak sekali produk pangan yang dihasilkan dari kelapa sawit,” ujarnya.

Indonesia saat ini memiliki perkebunan kelapa sawit seluas hampir 17 juta hektare. Luas areal tersebut menjadi modal besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional, terutama karena kelapa sawit memiliki pola produksi yang relatif stabil sepanjang tahun dan tidak terlalu dipengaruhi musim. Kondisi ini memberikan kepastian pasokan bahan baku bagi industri, sekaligus menciptakan kenyamanan bagi pelaku usaha yang bergantung pada komoditas tersebut.

“Saya sepakat bahwa kelapa sawit ini adalah tanaman unggulan dan andalan Indonesia yang harus dioptimalkan sebaik mungkin,” tegas Hadi.

Sebagai pendiri HANN Corp, Hadi menilai potensi besar tersebut perlu dimaksimalkan melalui penguatan hilirisasi, khususnya di sektor pangan. Langkah ini penting untuk menciptakan produk bernilai tambah, memperluas pasar, sekaligus meningkatkan kontribusi ekonomi industri sawit.

Saat ini, kelapa sawit telah menjadi bahan baku berbagai produk pangan, mulai dari minyak goreng, margarin, roti, kopi, cokelat, biskuit, hingga mentega putih atau shortening. Produk-produk tersebut menunjukkan luasnya aplikasi sawit dalam industri makanan modern. Namun, Hadi menilai sebagian besar pelaku usaha, termasuk anggota Hipmi, masih berfokus pada produksi bahan mentah seperti tandan buah segar (TBS) dan crude palm oil (CPO). Karena itu, transformasi menuju industri hilir menjadi langkah strategis yang perlu dipercepat.

“Saat ini hampir semua pengusaha sukses di Hipmi memiliki kebun kelapa sawit, tapi hanya sebatas menghasilkan TBS dan CPO. Kita masih perlu mendorong agar para pengusaha terjun ke sektor hilirisasi,” katanya.

Untuk mendukung langkah tersebut, Hipmi mendorong penguatan kolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Melalui Program Pangan dan Hilirisasi, BPDP dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat industri hilir sawit nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk di pasar global.

“Kami mengajak BPDP melompat lebih tinggi dengan menciptakan program inkubasi skala industri di program pangan,” ujar Hadi.

Menurutnya, keberhasilan hilirisasi sawit di sektor pangan akan memberikan dampak luas, mulai dari memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan nilai tambah komoditas, hingga membuka lapangan kerja baru di berbagai daerah.

Hipmi pun menargetkan hadirnya setidaknya satu pelaku usaha di setiap provinsi yang fokus mengembangkan hilirisasi sawit di sektor pangan. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi produsen bahan baku sawit terbesar, tetapi juga mampu menghasilkan produk pangan olahan bernilai tinggi.

“Kita mendorong ada satu pengusaha di setiap provinsi terjun ke hilirisasi sawit sektor pangan. Harus ada pengusaha yang bisa mengolah kebun sawit menjadi produk-produk pangan seperti mentega hingga keju,” pungkasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya