IHSG Ditutup Melemah, Pasar Tunggu Kepastian Negosiasi Lanjutan AS-Iran

Media Indonesia
16/4/2026 18:05
IHSG Ditutup Melemah, Pasar Tunggu Kepastian Negosiasi Lanjutan AS-Iran
Ilustrasi(Antara)

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis (16/4) sore. Pelemahan ini terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang masih memantau peluang berlangsungnya negosiasi putaran kedua antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

IHSG tercatat turun tipis 2,21 poin atau 0,03% ke level 7.621,38. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga mengalami penurunan sebesar 2,63 poin atau 0,35% ke posisi 75,32.

"IHSG melemah di saat bursa regional Asia menguat, seiring harapan akan dimulainya kembali negosiasi dan kesepakatan perdamaian jangka panjang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, serta rilis data ekonomi Tiongkok," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.

Fokus Pasar Global: Negosiasi AS-Iran dan Harga Minyak

Dari sentimen global, perhatian investor kini tertuju pada potensi kelanjutan dialog antara AS dan Iran. Kedua negara dikabarkan mempertimbangkan perpanjangan masa gencatan senjata selama dua pekan guna membuka ruang negosiasi yang lebih luas.

Meski demikian, kondisi di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama. Jalur strategis tersebut tetap berada dalam situasi blokade, meskipun terdapat wacana Iran akan membuka akses terbatas melalui wilayah Oman jika kesepakatan berhasil dicapai.

"Pelaku pasar menilai prospek negosiasi ulang dan potensi kesepakatan perdamaian jangka panjang antara AS dan Iran. Kabarnya ini membuat penurunan harga minyak diperdagangkan di bawah US$100 per barel, yang membantu meredakan kekhawatiran inflasi," ujar Nico.

Nico juga menambahkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap dinamika di kawasan tersebut. Gangguan terhadap jalur distribusi energi global dapat memicu gejolak pasar dan meningkatkan volatilitas.

Data Ekonomi China Beri Sentimen Positif

Dari Asia, data ekonomi terbaru menunjukkan kinerja yang cukup solid. National Bureau of Statistics China melaporkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 4,5%.

"Pertumbuhan tersebut cukup positif, sehingga memberikan gambaran kemampuan pemerintah Tiongkok dalam menjaga ekonominya di tengah guncangan ketidakpastian global, serta menunjukkan kondisi ekspor yang lebih kuat membantu mengimbangi permintaan domestik yang masih lesu," ujar Nico.

Sentimen Domestik: Profit Taking dan Proyeksi IMF

Dari dalam negeri, investor masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, khususnya terkait belum pastinya jadwal resmi perundingan lanjutan AS dan Iran.

Selain itu, tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi aksi ambil untung (profit taking) setelah indeks mengalami penguatan selama lima hari berturut-turut.

Faktor lain yang membayangi pasar adalah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari International Monetary Fund (IMF). Lembaga tersebut memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5% pada 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 5,1%. Sementara pada 2027, pertumbuhan diprediksi naik tipis ke 5,1%.

Secara global, IMF juga memproyeksikan perlambatan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen pada 2026, dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah.

Pergerakan IHSG dan Kinerja Sektoral

IHSG sempat dibuka di zona hijau, namun berbalik melemah dan bertahan di area negatif hingga akhir sesi pertama. Pada sesi kedua, indeks tetap berada di zona merah hingga penutupan perdagangan.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, empat sektor mencatatkan penguatan. Sektor transportasi dan logistik memimpin dengan kenaikan 3,00%, diikuti sektor kesehatan sebesar 2,08% serta teknologi yang naik 1,43%.

Di sisi lain, tujuh sektor mengalami tekanan. Sektor barang konsumen non primer mencatat penurunan terdalam sebesar 0,71%, disusul sektor infrastruktur turun 0,67% dan properti melemah 0,44%.

Untuk saham, penguatan terbesar terjadi pada DEFI, KRYA, LABA, AYLS, dan AGRO. Sementara itu, saham dengan penurunan terdalam antara lain PSDN, SDMU, SMIL, IFSH, dan ROTI.

Aktivitas Perdagangan dan Bursa Asia

Total frekuensi perdagangan mencapai 2,63 juta kali transaksi, dengan volume saham sebanyak 39,81 miliar lembar dan nilai transaksi Rp18,14 triliun. Sebanyak 356 saham menguat, 318 saham melemah, dan 119 saham stagnan.

Di kawasan Asia, mayoritas indeks saham mencatatkan penguatan. Indeks Nikkei naik 1.441,26 poin atau 2,48 persen ke level 59.575,50. Indeks Shanghai menguat 0,70% ke 4.055,55, dan Hang Seng naik 1,72% ke 26.394,26. Sementara itu, Strait Times menjadi satu-satunya yang melemah, turun 0,27% ke 5.007,83. (Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya