Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOM senior pada Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai pertumbuhan sektor informal di Indonesia lebih disebabkan oleh keterpaksaan ekonomi, bukan hasil perencanaan pembangunan yang disengaja.
Menurut Wijayanto, karakter sektor jasa di Indonesia berbeda dengan negara maju yang didominasi layanan bernilai tambah tinggi seperti konsultansi, asuransi, dan perbankan. Di dalam negeri, sektor jasa justru banyak diisi aktivitas informal seperti pedagang kaki lima, pedagang asongan, hingga penjual kopi keliling.
“Ini bukan sesuatu yang by design. Kita tidak mendesain ekonomi untuk tumbuh di sektor informal, tetapi ini terjadi karena keterpaksaan,” kata Wijayanto di acara “Unlocking Growth in the Middle-Income Trap” yang digelar Tutur Media, Selasa (7/4).
Ia menegaskan, meskipun sektor informal berperan sebagai penyangga ekonomi, sektor ini tidak memberikan jaminan kesejahteraan yang memadai bagi pekerja. Padahal, tujuan pembangunan ekonomi tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan dan daya beli masyarakat.
“Motivasi kita bukan sekadar membuat orang bekerja, tetapi juga sejahtera. Sektor informal ini tidak cukup menjawab itu,” terang dia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 60% tenaga kerja Indonesia yang saat ini berada di sektor informal. Bahkan, menurut pelaku usaha, angka tersebut bisa mencapai 70% hingga 80%.
Wijayanto mengingatkan dominasi sektor informal berpotensi menekan penerimaan negara, karena sebagian besar pelaku usaha di sektor ini tidak tercatat dan tidak membayar pajak secara optimal. Selain itu, pelaku sektor informal juga menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan usaha, seperti sulit mengakses pembiayaan perbankan maupun platform digital.
“Mereka sulit naik kelas karena tidak bisa mengakses perbankan, e-commerce, dan berbagai fasilitas formal lainnya,” jelasnya.
Ia menilai sektor informal seharusnya diposisikan sebagai bantalan ekonomi (fallback) saat terjadi tekanan, bukan menjadi pilar utama pertumbuhan. Maka dari itu, dirinya mendorong agar pemerintah memperkuat kebijakan yang mampu mendorong transformasi sektor informal menjadi formal melalui fasilitasi, insentif, dan kemudahan akses usaha.
“Yang harus kita lakukan adalah mengonversi sektor informal menjadi formal, bukan menjadikannya solusi utama,” pungkasnya. (Fal/P-3)
Meningkatnya ketidakpastian global dinilai turut mendorong pertumbuhan sektor informal di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menkeu Purbaya targetkan tax ratio 11–12% pada 2026, optimistis penerimaan pajak membaik seiring pemulihan ekonomi dan perkuat pertumbuhan DJP.
Karena coretax berjalan belum sesuai perencanaan awal. Sehingga hal ini justru menyebabkan penerimaan pajak tersendat.
Kemenkeu mencatat penerimaan pajak 2025 mengalami shortfall Rp271,7 triliun dan pertumbuhan negatif 0,7% akibat moderasi komoditas dan tekanan ekonomi semester I.
Hingga akhir September 2025, realisasi penerimaan baru mencapai Rp7,30 triliun atau 55,01% dari target Rp13,27 triliun, disertai penurunan pertumbuhan dibanding tahun sebelumnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved