Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN yang semakin memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) kini tidak hanya menjadi persoalan politik, tetapi juga mengarah pada risiko ekonomi global. Pasar saham langsung merespons dengan pola risk-off, di mana investor cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap pasar yang lebih berisiko, termasuk negara-negara berkembang.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan, dalam kondisi ini, pasar modal Indonesia berisiko mengalami tekanan dari dua sisi.
"Investor asing kemungkinan akan mengurangi eksposur mereka di pasar negara berkembang seperti Indonesia, yang dapat memicu capital outflow," ujar Hendra pada Media Indonesia, Senin (2/3).
Menurut Hendra, lonjakan harga energi, khususnya minyak, menjadi perhatian besar. "Jika harga minyak bertahan tinggi, ini bisa menyebabkan inflasi impor yang mengarah pada kenaikan biaya produksi, yang akhirnya dapat menekan margin emiten," tambahnya.
Adapun, kata Hendra, dampak dari kondisi geopolitik ini diperkirakan akan menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG hari ini berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di level 8.133. Jika level tersebut tembus, area psikologis 8.000 akan menjadi support berikutnya, dengan resistance terdekat di 8.300.
Namun, meski sebagian besar sektor berpotensi terdampak, sektor berbasis komoditas justru dapat menjadi penopang di tengah ketidakpastian ini.
Kenaikan harga emas dan minyak memberikan peluang untuk saham-saham komoditas.
"Saham MDKA dapat mencapai target harga 3.900, sedangkan ANTM berpotensi naik ke harga 4.500," kata analis tersebut.
Di sektor energi, beberapa saham juga menarik perhatian, seperti ELSA yang diprediksi dapat mencapai harga 900, ENRG yang memiliki target harga 1.900, dan AKRA yang bisa menjadi speculative buy dengan target harga 1.400. Sementara itu, SOCI, seiring dengan meningkatnya aktivitas dan tarif pengangkutan energi, juga patut dicermati sebagai trading buy dengan target harga 750.
Bagi investor ritel, sikap terbaik adalah tetap disiplin dan selektif dalam memilih saham.
"Bagi investor dengan profil agresif, sektor komoditas menawarkan peluang besar, namun harus didukung oleh manajemen risiko yang ketat. Sementara bagi investor konservatif, strategi wait and see tetap relevan sambil terus memantau perkembangan konflik dan arus dana asing," jelas Hendra.
Hendra berpesan, dengan situasi geopolitik yang penuh ketidakpastian, kunci sukses dalam berinvestasi saat ini adalah kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali. (Z-10)
IHSG Bursa Efek Indonesia ditutup menguat 0,41% ke level 7.101,23 pada Rabu (29/4/2026) berkat aksi bargain hunting dan sentimen global.
IHSG hari ini dibuka menguat 0,34% ke posisi 7.096,61 pada sesi pembukaan Rabu (29/4). Indeks LQ45 juga terpantau naik ke level 684,88.
IHSG ditutup melemah 0,48% ke level 7.072,39 pada Selasa (28/4/2026) akibat ketidakpastian konflik AS-Iran dan penantian hasil rapat FOMC The Fed.
IHSG Selasa (28/4) pagi dibuka menguat 0,31% ke posisi 7.128,47. Simak analisis pergerakan pasar modal dan indeks LQ45 selengkapnya di sini.
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menutup perdagangan Senin (27/4) di zona merah.
IHSG Senin (27/4) pagi dibuka menguat 0,41% ke level 7.158,51. Simak analisis pergerakan pasar modal dan performa indeks LQ45 selengkapnya di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved