Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH prediksi lembaga keuangan menyebutkan, tahun 2023 akan terjadi resesi global, salah satunya disebabkan faktor geopolitik yang mengganggu rantai pasok perekonomian global dan meningkatkan inflasi.
Indonesia disinyalir juga akan terkena dampak dari turbulensi tersebut. Ekonom nstitute for Development of Economics and Finance (Indef) Ariyo Irhamna mengatakan, untuk mengantisipasi gejolak itu, pemerintah harus lebih bijak dalam penggunaan anggaran.
"Pemerintah harus lebih wise (dalam penggunaan anggaran) dan fokus pada sektor yang meredam dampak ekonomi global," kata Ariyo dalam diskusi virtual bertajuk Economic Outlook 2023 bertema 'Economic Outlook 2023: Ancaman Resesi 2023 di Depan Mata, Fakta atau Hoax?, Kamis (8/12).
Ariyo mengungkapkan, Indef memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 berada pada kisaran 4,8%, jauh lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan ekonomi yang tertuang dalam APBN 2023 sebesar 5,3%. Bahkan proyeksi tersebut juga sedikit lebih rendah dari ramalan Asian Development Bank (ADB) yang sebesar 5%.
Hal itu karena Indonesia tidak lepas dari tantangan global yang akan terjadi pada 2023, diantaranya inflasi tinggi, pengetatan moneter, dan eskalasi perang Ukraina-Rusia.
Baca juga : Pemerintah Optimis Defisit Anggaran 2022 Di Bawah 3%
"Saran saya alokasikan untuk sektor yang berkaitan dengan kebutuhan pokok, pangan, pendidikan, kesehatan. Kesampingkan program yang tidak terlalu berkaitan dengan kebutuhan pokok, misalkan pariwisata. Perlu diperhatikan juga UMKM yang bisa menjadi buffer (penahan) bagi gejolak perekonomian," ujarnya.
Assurance Partner Grant Thornton Indonesia Alexander Adrianto Tjahyadi menambahkan, saat ini pelaku usaha juga sedang wait and see terhadap spending yang harus dikeluarkan.
"Mana yang bisa ditunda, khususnya yang konsumtif dan enggak perlu, karena likuiditas jadi terbatas. Bagaimana cara mereka mengutilisasi sumber daya ekonomi untuk hasil yang lebih maksimal," ujar Alexander.
Namun demikian, ketika tiba saatnya resesi itu datang, tetap akan ada peluang yang bisa digaet. Adapun kenaikan suku bunga membuat peluang untuk menabung menjadi lebih baik.
"Lalu kita bisa bangun bisnis, dan investasinya bisa ke deposito karena imbal balik lebih menarik," ucapnya. (RO/OL-7)
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ekonomi Indonesia jauh dari krisis. Konsumsi meningkat saat Lebaran 2026 dan berbagai indikator menunjukkan tren pertumbuhan positif.
Bursa Asia rontok setelah IRGC ancam harga minyak tembus US$200. Nikkei dan KOSPI anjlok di atas 7% akibat kekhawatiran inflasi global pasca serangan AS-Israel ke Iran.
Nilai tukar rial Iran jatuh ke level terendah sepanjang sejarah, memicu inflasi pangan hingga 70%.
Mata uang Iran anjlok ke level kritis. US$1 tembus 1,4 juta rial, ekonomi lumpuh dan protes nasional meledak di berbagai kota.
Presiden Argentina Javier Milei menghadapi ujian besar dua tahun setelah menjabat.
Donald Trump mengungkapkan bantuan AS senilai US$20 miliar kepada Argentina bertujuan membantu Javier Milei menang dalam pemilu sela.
Lonjakan belanja negara pada awal 2026 dinilai mulai memberi dorongan nyata bagi pergerakan ekonomi domestik.
Dari sisi penerimaan, kinerja pajak menunjukkan pertumbuhan kuat sebesar 20,7% secara tahunan (year on year).
Presiden menjelaskan kebutuhan untuk efisiensi itu melihat skor ICOR Indonesia yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga.
Belanja negara tumbuh signifikan sebesar 25 persen, sementara pendapatan negara tercatat Rp172,7 triliun dengan pertumbuhan di kisaran satu digit.
Presiden Prabowo Subianto menyebut pemerintah melakukan pengetatan belanja negara hingga Rp308 triliun pada tahun pertama masa pemerintahannya
Pemerintah melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) menegaskan bahwa digitalisasi pengadaan memiliki peran strategis dalam reformasi belanja negara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved