BERBAGAI fasilitas yang ada di Pelabuhan Perikanan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, segera dibenahi setelah gedung baru pasar ikan tersebut, yang berada di dekatnya, dibangun. Kepala Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Provinsi DKI Jakarta Darjamuni mengatakan fasilitas yang akan diperbaiki antara lain tempat pelelangan, pelabuhan, rumah susun nelayan, hutan mangrove di sekitarnya, dan pusat pengolahan ikan. "Pembenahan itu akan dilakukan bertahap. Pasar ikan yang baru kami harapkan lebih nyaman dan bersih. Kompleks pelabuhan ini juga bisa lebih tertata lagi karena semuanya terkait," katanya di sela-sela peresmian gedung baru Pasar Ikan Muara Angke pada 15 April lalu.
Pelabuhan Ikan Muara Angke yang luasnya 64 hektare, ujarnya, harus dikelola sebagai kawasan yang diinteg-rasikan dengan aplikasi smart city. Berbagai fasilitas seperti sistem saluran air, rumah makan, dermaga/pelabuhan nelayan, rumah susun nelayan, dan tempat pengolahan ikan akan diperbaiki pula. "Rumah makan akan dibangun dengan lebih baik supaya layak jadi destinasi kuliner laut. Apalagi letaknya berada di pinggir laut. Dermaganya juga akan kita benahi. Dermaga khusus nelayan akan dipisahkan dari dermaga penumpang," tuturnya.
Oleh karena itu, ia mewajibkan semua pengguna Pasar Ikan Muara Angke memelihara kebersihan. "Ini tidak bisa ditawar karena kompleks pelabuhan ini akan kami tata. Jadi, kawasan juga layak untuk dikunjungi. Kesan jorok itu harus kita hapus," tegasnya. Berdasarkan pantauan Media Indonesia, lalu lintas di sekitar Pelabuhan Perikanan Muara Angke masih semrawut karena penataan arus lalu lintasnya tidak teratur. Berbagai kendaraan parkir bebas di pinggir jalan yang sudah terbilang sempit. Ditambah lagi angkutan umum mengetem sembarang.
Kondisi jalan di area pelabuhan juga banyak yang berlubang dan bergelombang, terutama di dekat dermaga yang menjadi tempat pemberangkatan dan kedatangan penumpang dari dan ke Kepulauan Seribu. Kondisi dermaga juga dikeluhkan oleh penumpang ataupun nelayan karena dermaga tersebut digunakan oleh mereka bersama-sama. "Paling ribet kalau harus bongkar muat, karena harus menunggu 1 sampai 2 jam untuk memberi kesempatan kapal penumpang menurunkan penumpangnya. Begitu juga kapal penumpang, harus menunggu kapal ikan membongkar muatan. Kami selalu harus saling menunggu," kata Mamun, seorang anak buah kapal ikan.
SEBANYAK 11 nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Indonesia dan Jepang resmi diteken dalam forum Indonesia-Japan Strategic Partnership Forum.
KETUA Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie, menyatakan bahwa pemerintah tengah bersiap menghadapi investigasi yang dilakukan oleh USTR.