Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh The Australian National University (ANU) menemukan bahwa lelaki asal Negeri Kangguru cenderung memiliki harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan lelaki dari negara lainnya.
Studi tersebut dilakukan dengan sebuah cara baru untuk mengukur harapan hidup, dengan memperhitungkan kondisi histori kematian yang dialami oleh generasi tua saat ini. Hasil pengukuran tersebut menemukan bahwa lelaki Australia rata-rata dapat hidup sampai usia 74,1 tahun. Kabar baik tersebut juga berlaku bagi para perempuan Australia yang menunjukan bahwa harapan hidup mereka berada di posisi tertinggi kedua setelah para perempuan Swiss.
Collin Payne selaku pemimpin studi tersebut menjelaskan bahwa data yang digunakan berasal dari 15 negara dengan tingkat harapan hidup yang tinggi yang tersebar di Eropa, Amerika Utara, dan Asia.
"Banyak orang yang percaya dan mengatakan bahwa Jepang dan negara-negara Nordik di Eropa Utara memiliki tingkat kesehatan, kesejahteraan, dan umur yang panjang. Tetapi ternyata Australia pun berada pada posisi yang sama," kata Payne seperti yang Media Indonesia kutip dari Science Daily (3/9).
Studi tersebut juga mengelompokkan orang berdasarkan tahun kelahiran, memisahkan kematian awal dan kematian akhir, untuk mengetahui usia harapan hidup yang lebih akurat. Pembandingan dengan menggunakan tahun lahir yang sama menjadi faktor penting karena orang-orang tersebut dianggap telah mengalami kondisi relatif sama sepanjang hidupnya. Dengan metode tersebut, kita dapat melihat dengan lebih jelas apakah seseorang mencapai harapan hidup kelompok mereka.
"Misalnya, setiap pria Australia yang berusia di atas 74 yang kita kenal 100% telah hidup lebih lama dari separuh generasi seumurannya. Dia adalah orang yang bertahan di atas rata-rata dibandingkan dengan rekan-rekannya yang lahir pada tahun yang sama," kata Payne.
Menurutnya ada sejumlah faktor yang mungkin telah berkontribusi pada Australia untuk maju dalam peringkat harapan hidup yang baru tersebut.
"Tingkat kematian sangat tinggi di Jepang pada usia 30an, 40an, dan 50an. Di Australia, kematian sangat rendah jangka waktu itu. Laki-laki Prancis, misalnya, putus sekolah karena banyak dari mereka meninggal selama Perang Dunia II, beberapa meninggal karena konflik langsung dan yang lain meninggal saat masa kecil," imbuhnya.
Payne berharap temuannya tersebut dapat menjadi data yang cukup untuk melihat bagaimana peringkat harapan hidup yang baru telah berubah dalam 30 atau 40 tahun terakhir. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved