Efek Sering Berbohong Terhadap Otak

Rizky Noor Alam
04/5/2019 21:00
Efek Sering Berbohong Terhadap Otak
Kebiasaan berbohong(The Irish Times)

Sepertinya hampir seluruh manusia di muka Bumi pernah berbohong atas berbagai alasan. Namun jika anda sering melakukannya maka mulailah berhati-hati akan dampaknya pada nurani anda sendiri.

Ternyata sikap atau perilaku apa pun, jika dilatih secara memadai dapat menjadi kebiasaan, termasuk berbohong. Begitu terbentuk, kebiasaan yang kita lakukan tersebut secara otomatis akan menjadi sikap atau perilaku tanpa disadari alias secara mental kebiasaan tersebut akan spontan kita lontarkan untuk berbagai menghasilkan peestiwa-peristiwa kehidupan.

Dalam artikel yang Media Indonesia kutip dari Psychology Today (4/5) kunci untuk berprilaku terpuji dan terhormat adalah berpikir dengan hati-hati tentang sikap dan perilaku yang kita lakukan dan diulangi. Hal tersebut akan berkontribusi pada integritas pribadi dimana melakukan hal-hal yang baik sudah menjadi kebiasaan. Namun sebakiknya, jika sikap dan perilaku yang berulang-ulang mengajari kita untuk tidak jujur, maka prilaku yang muncul akan secara tidak disadari sama dengan apa yang sudah menjadi kebiasaan.

Dalam sebuah studi yang dilakukan di salah satu universitas di Inggris, menunjukkan bahwa orang menjadi tidak peka terhadap kebohongan. Eksperimen tersebut melibatkan pembuatan skenario dimana orang bisa berbohong.

Dalam percobaan dengan 80 orang, mereka ditempatkan di ruangan yang terpisah melihat foto sebuah toples yang penuh dengan uang receh. Foto itu jelas hanya untuk satu orang dan tugasnya adalah memberi tahu orang lain berapa banyak uang dalam tabung toples tersebut. Orang yang membuat perkiraan diberitahu bahwa hadiah akan bervariasi pada setiap percobaan, tanpa mengetahui detail penting tentang struktur insentif bawaan. Meskipun sebenarnya tidak ada timbal balik yang akan diberikan. Berbagai kondisi dimanipulasi sehingga kebohongan bisa menguntungkan masing-masing peserta, menguntungkan peserta yang memberi saran dengan mengorbankan peserta lainnya atau menguntungkan peserta pemberi saran saja.

Dari percobaan tersebut, ternyata hasilnya kebohongan terbesar terjadi ketika hanya menguntungkan orang yang berbohong. Ketidakjujuran bertahan di tingkat yang lebih rendah jika mereka bekerjasama dan saling mendapatkan manfaat. Saat dilakukan Pemindaian otak, menunjukan bahwa aktivitas di pusat emosi utama otak, amigdala, menjadi kurang aktif. Intinya, otak dilatih untuk berbohong. Dengan demikian, sedikit ketidakjujuran mungkin dipandang sebagai jurang yang dapat menyebabkan seseorang jatuh dalam lubang ketidakjujuran.

Emosi adalah inti dari masalah tersebut, biasanya, kita cenderung merasa bersalah ketika melakukan sesuatu yang kita tahu salah, seperti berbohong. Tetapi ketika kita terbiasa berbohong, rasa malu atau rasa bersalah yang terkait muncul. Kita menjadi terbiasa dan hati nurani kita seakan menjadi kebal dan menganggap kebohongan menjadi hal yang biasa. Memang dalam faktanya, manusia tidak dapat selalu mengatakan kejujuran namun dengan penelitian ini menunjukan bahwa setiap kebohongan kecil atau tindakan tidak jujur ​​dapat meningkat dan secara negatif mengubah kita tanpa disadari. Jadi, jika seseorang mendapat manfaat dari berbohong kemungkinan akan melakukannya lebih banyak. Tetapi di dunia nyata, tingkat ketidakjujuran sangat dipengaruhi oleh timbal balik yang didapatkan apakah dengan berbohonf mendapatkan keuntungan atau hukuman. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya