Berburu Produk Unik dan Spesial di Inacraft

Haufan Hasyim Salengke
25/4/2019 19:37
Berburu Produk Unik dan Spesial di Inacraft
Suasana Inacraft 2019(MI/Haufan Hasyim Salengke)

NUANSA unik, spesial, dan elegan menghiasi ruang-ruang di arena pameran dagang kerajinan internasional atau Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2019, yang dehelat di Jakarta Convention Center (JCC) selama 24-28 April 2018.

Berbagai jenis produk-produk kerajinan, busana, dan fesyen bercirikan etnik Tanah Air memikat pengunjung. Jika Anda yang sedang mencari produk fesyen dan home living yang unik dan tidak banyak beredar di pasaran maka inilah tempatnya.

Seperti yang dilakukan Fina, warga Jakarta yang mengaku sudah menunggu event nasional berskala internasional tersebut. Perempuan 37 tahun ini rupanya sudah punya pelanggan tetap yang selalu terlibat di ajang Inacraft.

Bagi Fina, berbelanja di event Inacraft punya kepuasan tersendiri yang sulit ia dapatkan kalau membeli di pusat perbelanjaan, misalnya. Selain karena unik dan berkualitas, produk-produknya juga limited. "Keunggulan produk di pameran Inacraft itu limited, ngak ada di luar.
Memang 'kalah' di harga (lebih mahal) tetapi 'menang' di barang," ujar Fina saat ditemui di depan stan fesyen batik, Kamis (24/4).

Bulan Ramadan segera menyapa. Bicara soal bulan suci yang erat dengan ritual ibadah dan sedekah, saat berbuka puasa bersama keluarga maupun kerabat, biasanya banyak perempuam yang begitu memperhatikan penampilan. Misalnya, memilih gamis, kaftan, atau busana sejenisnya di momen berbuka puasa. 

Seperti halnya Fina, bagi yang ingin berburu pakaian muslim untuk buka bersama atau bahkan Lebaran, pameran Inacraft bisa menjadi tempat yang tepat. "Saya nyari baju Lebaran, biasanya gamis. Saya sudah punya langganan di sini," tandas Fina.

Menurut pantauan Media Indonesia, terdapat sejumlah pakaian gamis rancangan sejumlah desainer lokal mejeng di ajang Inacraft. Bahkan, ada stan yang membaderol gamis polos Rp75 ribu dari harga normal Rp250 ribu.

Di bagian lainnya, para eksibitor menampilkan produk kerajinan anyaman berdesain unik. Dari yang berbahan dasar bambu, rotan, hingga daun lontar asal daerah Indonesia Timur yang menjelma menjadi keranjang, dompet, tas, hingga tempat tisu.

Bekerja sama dengan wanita berbakat di Flores, Nusa Tenggara Timur, stan Du'Anyam menjual produk anyaman khas melalui pengerjaan paling otentik. Di stan ini ditampilkan sobe, dese, toba, lepa, kepe, hingga noken. "Dengan tujuan memberdayakan ekonomi masyarakat di daerah pedesaan di seluruh Indonesia, Du'Anyam adalah merek yang dibangun di atas nilai-nilai atau budaya Tanah Air," ujar e-commerce office Du'Anyam, Aqil.

Produk Du'Anyam telah diekspor ke Amerika Serikat, Belgia, Jepang, dan Australia. Meski sudah go international, Aqil mengatakan harga produk mereka sangat variatif dari yang paling kecil Rp50 ribu hingga paling mahal Rp1,9 juta. "Produk yang kami tawarkan ke pasar yang grade-nya paling baik."

Sementara itu, industri kerajinan tenun serat yang berbasis produksi di Magelang dan Pekalongan, Retota, memasarkan produk-produk unik untuk pelapis dinding (wallcovering), korden (sunshades), cover sofa, sarung bantal, dan karpet (rugs), yang telah diekspor hingga ke mancanegara. "Produk Retota dari untuk interior, home living, dining, hingga fesyen," ujar Trisno selaku direktur desain penataan interior Retota.

Ia mengatakan keunggulan Retota adalah produk dikerjakan dengan teliti menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Karena itu satu kain 100 meter pembuatannya bisa memakan waktu hingga 1-2 bulan. "Semua masih manual, dikerjakan secara teliti dan pewarnaan masih alami." Retota membanderol produk mereka dari kisaran Rp100 ribu hingga Rp500 ribu.

Sementara itu, stan batik terkenal asal Solo, Bendoro Batik, banyak didatangi pengunjung yang sebagian besar kaum hawa. Seperti kota
asalnya, di sini disediakan produk kain batik tulis motif Solo.

Aris Suharsono Yosodhiningrat, pemilik Bendoro Batik, mengatakan pengerjaan batik miliknya lebih halus dari produk merek lain dengan
pewarnaan alami. "Dari pewarnaan, pencantingan, hingga pencelupan masih cara traditional, tidak ada intervensi tangan moderen," kata dia. Harga dibanderol dari Rp750 ribu hingga Rp7,5 juta. (M-4)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Retno Hemawati
Berita Lainnya