Bayi Pertama dari Transplantasi Rahim

Galih Agus Saputra
10/4/2019 16:35
Bayi Pertama dari Transplantasi Rahim
bayi pertama dari transplantasi rahim dengan robot.(dok. Lennart Wiman)

Seorang perempuan asal Swedia menjadi pasien pertama di dunia yang hamil setelah menjalani transplantasi rahim menggunakan robot. Kini, perempuan yang tidak disebutkan namanya itu telah melahirkan bayi laki-laki dengan berat 2,9 kg  melalui operasi caesar, setelah mengandung selama 36 minggu.

Transplantasi rahim menggunakan robot ini merupakan prosedur baru. Pada 2017, perempuan ini sempat menyedot perhatian internasional, ketika dokter yang menanganinya mengumumkan dia sudah hamil. Transplantasi uterus ini memerlukan pembedahan untuk mengangkat rahim  perempuan dan menanamkannya ke rahim perempuan lain yang tidak dapat memiliki bayi secara alami.

Perempuan itu, seperti dilansir Daily Mail, mula-mula mendapat donor rahim di Rumah Sakit Universitas Sahlgrenska pada Oktober 2017. Para petugas medis mengungkapkan perempuan dan bayi tidak mengalami komplikasi dan operasi caesar sudah direncanakan. Dokter yang ikut menangani perempuan ini, Pernilla Dahm-Kähler berkata, "suatu perasaan yang luar biasa dapat melahirkan anak yang sangat dirindukan dan istimewa."

Sementara Pemimpin Prosedur Transplantasi, Mats Brännström mengatakan, pengalaman tersebut menjadi langkah penting mengembangkan operasi terkait transplantasi uterus dan keamanannya. "Untuk pertama kalinya, kami menunjukkan teknik bedah robot yang kurang invasif dapat dilakukan," imbuhnya.

Dewasa ini sudah ada 15 bayi yang lahir dari transplantasi rahim di seluruh dunia. Sembilan diantaranya dilahirkan sejurus dengan prosedur yang berlaku Swedia, namun khusus kelahiran bayi terakhir ini menjadi bukti atas keberhasilan transplantasi rahim menggunakan robot.

Rumah Sakit di University of Gothenburg sebenarnya memiliki lima pasien perempuan yang telah menjalani transplantasi rahim melalui operasi robot, meski belum ada yang hamil. Salah seorang dokter mengatakan menggunakan robot untuk operasi itu sangat baik dan tidak merusak pendonor.

Sementara bayi-bayi lain yang lahir berkat transplantasi rahim seperti di Swedia, dapat ditemukan di Amerika Serikat, Brasil, Serbia, dan India. Sayangnya para dokter mengaku kekurangan pendonor, sehingga sebagian besar perempuan yang memberikan rahim mereka kebanyakan berasal dari anggota keluarga atau teman dekat.

Cerita sukses juga dialami Fabiana Amorim de Lima, dari Brasil. Ia melahirkan Luisa Santos melalui operasi caesar pada Desember 2017 atau setelah hamil selama 35 minggu. Fabiana merupakan perempuan yang mendapatkan donor rahim dari perempuan yang sudah meninggal. Dokter lantas mengatakan penggunaan rahim perempuan yang sudah meninggal dapat menawarkan harapan bagi calon ibu, karena mereka akan lebih mudah menemukan donor yang bersedia dan cocok. Kelahiran Luisa kemudian turut menjadi bukti prosedur itu dapat dilakukan dengan aman. (M-3)

Baca juga : Menstrual Cup, Pembalut Ramah Lingkungan
http://mediaindonesia.com/read/detail/228461-menstrual-cup-pembalut-ramah-lingkungan



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya