Traveler Wajib Bawa Pulang Tinja

Galih Agus Saputra
06/4/2019 14:15
Traveler Wajib Bawa Pulang Tinja
Pelancong di Finlandia(AFP/Alessandro Rampazzo)

PEJALAN kaki dan pendaki di Alaska dewasa ini diwajibkan untuk membersihkan kotorannya. Sebab, sebanyak 66 ton tinja beku diperkirakan akan mulai mencair karena pemanasan global. Layanan Taman Nasional (NPS), Amerika Serikat seperti dilansir Daily Mail mengatakan, perubahan ikim akan melelehkan sebagian besar permukaan gletser sehingga mereka harus siap-siap menghadapi potensi longsoran limbah manusia yang menuju lautan.

Enam dari tujuh perusahaan penyedia layanan pendakian yang dikontrak untuk membawa wisatawan ke jalur Gunung Denali. Mereka dewasa ini juga telah menyatakan kesanggupannya untuk menegakan program penanggulangan limbah tersebut. Sejak 1970-an, NPS bahkan sudah mengakomodasi penggalian kakus di dalam gletser, yang terletak di sekitaran titik pemberhentian atau keramaian. Lubang yang semula memiliki kedalaman 10 kaki (tiga meter) biasanya akan dipenuhi kotoran karena terisi di akhir musim pendakian.

Kini, para wisatawan dan pendaki sungguh-sunguh diminta untuk membawa toilet pribadi yang bisa diangkut atau yang disebut "Clean Mountain Can" selama menjalani ekspedisi. Selain itu, tujuh dari perusahaan penyedia layanan pendakian kini juga telah melekatkan slogan "no can, no climb" pada toilet pribadi tersebut. Toilet pribadi yang dimaksud berupa kaleng, dan biasanya setiap wisatawan atau pendaki akan diberi kaleng tersebut pada awal kedatangannya, sekaligus diberi arahan untuk menggunakan. Toilet pribadi tersebut dapat digunakan sebanyak 12 kali, atau mampu menampung tinja sebanyak 15 pound (7 kg).

Para ahli, yang diwakili Glasiolog NPS, Michael Loso mengkhawatirkan 66 ton materi feses yang telah menumpuk di daerah Kahiltna. "Pendaki dan khususnya penyedia layanan pemandu harus benar-benar mengadopsi kebijakan baru dan bahkan harus melebihi itu. Hal itu kini telah menjadi semacam lencana informal bagi para pengunjung agar membawa semua limbahnya," imbuh Loso.

Langkah pertama untuk menggalakan peningkatan program sanitasi itu sebenarnya sudah terlihat sejak 2001. Kala itu, NPS bekerja dengan American Alpine Club, dimana lebih dari 500 pendaki bersama-sama menggunakan kaleng, dan berlangsung selama tahun-tahun berikutnya di daerah perkemahan yang cukup menjijikkan.

Memang, selama ini program itu juga sering mengalami kendala, karena biasanya para pendaki akan membutuhkan waktu beberapa minggu untuk pulang-pergi dalam sebuah ekspedisi. NPS mengakui bahwa mereka tidak bisa berharap para pendaki akan membawa kotoran sepanjang perjalanan, sehingga mereka perlu berkompromi dengan cara membuat lokasi khusus agar pendaki dapat menjatuhkan kotoran mereka.

Langkah tersebut sebenarnya cukup dikhawatirkan NPS karena dalam pengawasannya selama 50 tahun terakhir, area di Alaska yang tertutup es telah berkurang 8 persen. "Kita telah kehilangan lebih banyak lapisan es di seluruh negara bagian Rhode Island," imbuh Loso.

Hal tersebut kemudian menunjukan bahwa limbah yang disimpan di kamp pendakian terendah di gunung bisa segera muncul kembali. Sampah yang ditimbun lebih tinggi memang akan membutuhkan waktu lebih lama untuk muncul kembali ke permukaan, tetapi kalau belajar dari kondisi di Gunung Everest, tubuh para pendaki yang gugur dan telah lama terkubur di salju atau es pun dapat muncul kembali karena pemanasan global. Hal itu kemudian mengerucut pada kesimpulan bahwa, bakteri dan serangga lain yang hidup di dalam tinja juga dapat bertahan hidup walau telah terkubur di dalam salju selama bertahun-tahun. (M-4)  



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Retno Hemawati
Berita Lainnya