Belajar Film Bermodal Renjana dan Komitmen

Abdillah Marzuqi
24/3/2019 02:20
Belajar Film Bermodal Renjana dan Komitmen
(DOK. MONDIBLANC)

SETIAP orang punya pasangan. Tidak ada yang sendiri. Laki-laki dan perempuan berhadapan, berpasangan. Laki-laki mengulurkan telunjuk tangan kiri, begitu pun perempuan. Telunjuk bertemu dengan telunjuk. Mereka saling menempelkan telunjuk. Dua orang, dua telunjuk bertemu. Ada beberapa pasang laki-laki dan perempuan yang sedang mempertemukan telunjuk mereka.

Mereka berlaku itu bukan tanpa alasan. Kala itu mereka sedang dalam kelas acting for screen di Mondiblanc Film Workshop Jakarta. Putri Ayudya membina kelas itu. Para warga binaan, begitu sebutan untuk para peserta workshop, dengan semangat menjalankan arahan dari Putri.

Putri Ayudya ialah salah satu dosen Mondiblanc Film Workshop. Kelasnya khusus mempersiapkan warga binaan bermain peran. “Di kelasku, kita banyak ngomongin soal akting karena kita acting for screen,” terangnya saat berbincang via telepon dengan Media Indonesia, Rabu (20/3). 

Mondiblanc Film Workshop secara khusus mengajarkan cara pembuatan film, mulai keaktoran, produksi, hingga penyuntingan. Semua pengajaran itu diberikan gratis. Wadah edukasi perfilman itu berdiri akhir 2016 dan bermula dari pembuatan film pendek dan workshop di kampus Universitas Indonesia. Ternyata workshop itu banyak peminat hingga saat ini.
 
“Sekalian bikin film, sekalian kita workshop, bikin film yang belum pernah bikin. Yang berikutnya ramai lama-lama workshop-nya. Jadinya kita bikin workshop saja,” terang pendiri Mondiblanc Nosa Normanda.

Jika peserta workshop Mondiblanc disebut warga binaan, para pengajarnya disebut pembina. Para pembina umumnya berasal dari kalangan profesional film. “Pembinanya orang-orang profesional, terus warga binaannya kita pilih mahasiswa dan profesional muda yang sudah bisa, yang akan memakai untuk kerja,” tambah Nosa.

Sejak pendirian, Mondiblanc telah mewisuda banyak warga binaan setiap 3 bulan sekali. Sampai saat ini sudah ada delapan angkatan. Setiap angkatan punya materi masing-ma­sing, berbeda satu angkatan dengan angkatan lain. Misalnya, angkatan pertama berfokus pada editing, angkatan delapan berbincang keaktoran. Selain itu, masih ada kelas script writing, directing, video, sinematografi, production design, coloring, art, dan music scoring. 


Nama kos

Ada cerita di balik pemilihan nama Mondiblanc. Nama itu merupakan nama kos di bilangan Kukusan Depok yang jadi lokasi workshop. Semangat untuk bisa kumpul bersama layaknya suasana anak kos menjadi semangat yang terus dipelihara. Mondiblanc tumbuh tidak sekadar tempat nongkrong dan kumpul, tetapi juga ada sistem yang terbangun, ada uang yang berputar, ada karya yang dihasilkan dan dimonetisasi, sekaligus ada cita-cita yang diperjuangkan.

Suasana kekeluargaan menjadi salah satu nilai tambah untuk para warga binaan tetap terjalin. Kelas akting misalnya, para alumnus masih sering berkumpul untuk berbagi ilmu dan membahas keaktoran dari sebuah film.

“Kemudian kita ingin arahnya ke lembaga pendidikan sih, tapi ternyata anak-anak yang lulus dari situ enggak pergi-pergi juga. Akhirnya kumpul, suka bahas film, bahkan ada pertemuan-pertemuan yang kita khusus bahas tentang aktingnya,” ujar Putri Ayudya. Pascalulus, dibentuklah Acting Lab sebagai wadah mereka untuk mengembangkan keaktoran. Mereka sering berkumpul. Tidak hanya berbincang tentang kemampuan seorang aktor, tetapi juga membahas sejarah, teori pertunjukan, antropologi, hingga filsafat. 

Salah satu warga binaan, Amanda Gondowijoyo, mengaku banyak mendapat manfaat dari menjadi warga binaan Mondiblanc. 

Selain nyaman dengan teman di Mondiblanc, Amanda mengaku mendapat banyak ilmu dan pengalaman. Seusai lulus, Amanda masih tergabung dalam Acting Lab Mondiblanc. Ia juga berkenalan dengan dunia perfilman secara nyata di lapangan. “Tentunya dapat ilmu dan pengalaman karena Mbak Putri (Ayudya) sering sharing. Kita jadi dapat ilmu banget,” terang Amanda.

Selain mendapat ilmu, jaringan, dan pengalaman, warga binaan juga betah karena mereka melakukan sesuatu di Acting Lab. Terkadang membuat proyek film kecil, pementasan, hingga penelitian. 

“Ada yang kita kerjakan. Kita mau adakan penelitian keaktoran dan kesehatan mental,” ujar warga binaan lainnya, Fizal Aji Pratama.

Untuk bisa bergabung dengan Mondiblanc, salah satu syarat terberat ialah komitmen. Warga binaan tidak dipungut biaya. Sebagai gantinya, mereka harus berkomitmen dan tidak membuat kesempatan itu menjadi sia-sia. Setiap minggu warga binaan akan diberikan tugas, tergantung kelas yang diikuti, dan wajib diselesaikan.

“Saya percaya enggak harus punya duit untuk bisa menempuh pendidikan, tapi perlu punya passion dan komitmen. Kita selalu bilang, kita dibayarnya pakai itu. Kalau enggak punya passion dan komitmen, enggak usah dipaksakan,” tegas Putri. (M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya