Pantai-Pantai nan Memesona

Tosiani
24/3/2019 02:00
Pantai-Pantai nan Memesona
()

MATAHARI bersinar cerah setibanya kami, rombongan media massa dan Kementerian Pariwisata, di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (20/2) pagi. Cuaca terasa panas, tetapi langit tampak biru jernih menandakan udara yang bersih.

Seorang penduduk lokal di luar Bandara Lombok Internasional tersenyum, lalu menyapa. “Biasanya di Lombok setiap hari turun hujan sepanjang musim ini. Mungkin kedatangan kalian membawa berkah sehingga cuaca menjadi cerah,” ujarnya ramah sebelum berlalu pergi. 

Keramahan itu juga ditunjukkan banyak penduduk lokal lain semasa kunjungan kami ke Lombok tersebut, seakan menghapus nestapa yang sempat melingkupi pulau tersebut medio tahun lalu.

Selepas bencana gempa yang terjadi pada Juli 2018, Lombok memang segera berbenah. Sebagai salah satu destinasi utama di Tanah Air, Lombok dikenal dengan pantai-pantainya yang cantik dan berkarakter. Sebut saja Pantai Teluk Mawun, Pantai Kuta Mandalika, Pantai Seger, Pantai Tanjung Ann, Gili Trawangan, maupun Pantai Selong Belanak. 

Meski sebagian besar tidak terdampak gempa, kesemarakan pantai-pantai tersebut memang sempat memudar. Namun, kini pelancong kembali berdatangan ke pantai-pantai Lombok yang memesona. 


Pantai Teluk Mawun

Butuh waktu sekitar 30 menit dari bandara menuju pantai yang ada di sisi selatan Pulau Lombok ini. Diapit dua bukit, pantai ini memiliki hamparan pasir putih dengan air laut berwarna hijau kebiruan.

Saya menikmati ketenangan pantai sembari menyeruput air kelapa muda yang dijajakan Sulaiman, 14, seorang penduduk setempat. Di sana, dua kelapa muda dihargai Rp50 ribu. 

Warung Sulaiman dilengkapi dengan delapan tenda payung dengan sepasang kursi panjang di setiap tenda. Di hari-hari biasa, ia bisa mendapat pemasukan rata-rata Rp500 ribu per hari. Di musim ramai, jumlah itu bisa meningkat menjadi Rp1 juta per hari. 

Pascagempa bumi lalu, kisahnya, jumlah pelancong berkurang drastis. Malah sempat nyaris nihil dua bulan setelah gempa. Barulah mulai Januari 2019, pengunjung berdatangan walau belum seramai di waktu lalu. 

“Sekarang rata-rata dapat Rp100-200 ribu per hari dari pagi sampai sore, paling banyak dapat Rp300 ribu per hari,” tutur Sulaiman.


Pantai Kuta Mandalika

Tak jauh dari lokasi Teluk Mawun, dengan menyusuri jalanan menanjak sekitar 15 menit terdapat Pantai Kuta Mandalika. Pantai ini memiliki pasir berbentuk bulatan-bulatan sebesar merica berwarna putih sehingga dikenal juga dengan sebutan Pantai Pasir Merica. Kita harus lebih berhati-hati berjalan karena pasir yang terasa lebih kasar di telapak kaki.

Di pantai ini, ada beberapa lempeng batuan menjorok ke tengah yang menjadi spot strategis untuk berswafoto dengaan latar belakang pantai dan bukit kecil. Spot untuk swafoto juga bisa dilakukan dengan latar tulisan ‘Pantai Kuta Mandalika’ di bukit di lokasi masuk pantai.

Kuta Mandalika menyimpan cerita legenda tentang seorang putri cantik bernama Mandalika. Putri tersebut menjadi rebutan para raja di selatan. Namun, pada akhirnya ia memilih mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke laut.


Pantai Seger

Berkendara sekitar 20 menit, lebih ke selatan lagi, terdapat Pantai Seger yang dikelilingi bukit bernama sama. Pengunjung dapat mendaki ke puncak bukit agar bisa menikmati panorama laut tanpa terhalang. Ada juga hamparan pasir putih di bagian tengah. Ombak yang relatif lebih tenang membuat lokasi pantai ini kerap dijadikan arena latihan surfing. 

Tidak mengherankan, cukup banyak surf shop di sekitaran pantai ini. Awan, 22, seorang pengelola surf shop yang saya jumpai, mengatakan menerima pembayaran Rp350 ribu per 3 jam saban kali mengajari turis untuk berselancar. 

Namun, sama seperti pantai-pantai lainnya, Pantai Seger juga sempat sepi pengunjung pascagempa bumi kendati wilayah ini sebenarnya hampir tidak terdampak gempa. Alhasil, tidak sedikit pengelola surf shop yang kemudian ‘ekspansi’ ke bidang kuliner dengan menjual makanan dan minuman sembari menawarkan jasa pelatihan berselancar. 


Pantai Tanjung Ann

Di pantai ini, pengunjung dapat melakukan trekking ke perbukitan sejauh lebih dari 2 kilometer. Di sepanjang perbukitan sering kali terlihat barisan kerbau yang berjalan beriringan sehingga pengunjung juga harus berhati-hati. Selain itu, tidak sedikit pedagang cendera mata yang terus menawarkan dagangan mereka. 

Sayangnya, di lokasi menuju bukit banyak bangunan liar dari papan yang membuat kawasan itu tampak kumuh. Untunglah setiba di puncak bukit, kita akan dihibur dengan pemandangan pantai dan laut yang dipenuhi deburan ombak cukup besar. 


Gili Trawangan

Keesokan harinya, kami menyeberang ke Gili Trawangan. Butuh sekitar 20 menit menggunakan speed boat dari Tanjung Nare ke Gili. Tidak seperti pantai-pantai yang saya sambangi kemarin, Gili menjadi salah satu daerah yang terdampak gempa dan tsnami. Masih terlihat sisa puing-puing reruntuhan bangunan bekas gempa belum kembali terbangun. 

Tahun-tahun sebelumnya, Gili Trawangan dipenuhi turis mancanegara. Ketika saya datang, sudah ada sejumlah turis asing yang pelesiran kendati tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Douglas, wisatawan dari California, Amerika Serikat, mengaku tidak takut berkunjung ke Lombok meski pernah terjadi bencana di daerah itu. Ia beranggapan bencana bisa terjadi kapan pun dan di mana pun karena itu merupakan fenomena alam. Namun begitu, mestinya dibuat bangunan tahan gempa di Gili Trawangan sebagai antisipasi bencana. 

“Di California juga pernah gempa cukup besar. Namun, karena bangunan di sana tahan gempa, dampak kerusak­annya tidak cukup besar. Kalau bencana, kami tidak takut. Kami lebih takut kalau ada teroris,” ujar Douglas.


Pantai Selong Belanak

Pantai Selong Belanak ialah pantai pemungkas yang saya nikmati dalam kunjungan kali ini. Berjarak sekitar 1,5 jam dari Ampenan, kawasan ini dikenal sebagai ‘Hawaii’-nya Lombok karena memiliki pasir putih dan laut biru solid. Ombaknya yang tak ganas juga menjadikannya arena penyuka surfing. Di kala senja, matahari terbenam akan menjadi pemandangan yang menawan bagi para pengunjung pantai ini. (M-2) 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya