Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Apakah anda merasa jijik ketika mengupil? Apa anda juga merasa jijik menyantap makanan atau kudapan yang telah jatuh di lantai? Kemudian, apakah anda biasa mencuci tangan menggunakan sabun antibakteri sebelum makan? Atau bahkan mengkonsumsi antibiotik secara rutin?
Seorang Dokter Kulit di Denver, Amerika Serikat, sekaligus Perawat Pengidap Alergi dan Otoimun, Meg Lemon mengatakan sebaliknya. Jika ada orang, atau anda melihat makanan jatuh di lantai, maka lekas ambil dan makanlah. Begitu juga ketika mengupil, anda tidak hanya harus membersihkan kotoran di dalam hidung anda. Tapi, ambil dan makanlah.
Lebih lanjut, Lemon juga menyarankan anda segera menyingkirkan sabun antibakteri yang biasa anda bawa. Dia merujuk pada fakta sistem kekebalan tubuh manusia dapat terganggu jika tidak pernah bekerja. “Kita telah berevolusi selama jutaan tahun untuk memiliki sistem kekebalan tubuh di bawah serangan konstan. Namun, sekarang kekebalan tubuh itu tidak punya pekerjaan apapun untuk dilakukan,” katanya.
Satu abad yang lalu, para ilmuwan di Inggris pernah mengamati adanya hubungan antara kondisi alergi dan peningkatan kebersihan. Namun nyatanya, keduanya malah menjadi petunjuk pertama bahwa sistem kekebalan tubuh manusia menjadi "tidak terlatih dengan baik". Dokter dan ahli imunologi terkemuka bahkan pernah merumuskan tindakan antiseptik, dan terkadang histeris kala melihat seseorang berinteraksi dengan lingkungannya. Penelitian itu tersebut ditemukan di London, sekiranya pada abad 19, atau sebagaimana tercatat dalam British Journal of Homoeopathy edisi 29 yang terbit pada 1872.
Dalam jurnal tersebut, seperti dilansir The New York Times, disampaikan demam adalah penyakit aristokratis. Meski tidak sepenuhnya tertuju pada masyarakat kelas atas, tetapi juga dari kalangan berpendidikan. Demam yang dimaksud adalah Hay Fever atau istilah umum yang dipakai untuk menyebut alergi musiman terhadap serbuk sari dan iritasi udara.
Lebih dari seabad kemudian, yaitu pada November 1989, muncul gagasan lain yang kemudian menjadi awal kelahiran hipotesis kebersihan. Ide-ide di baliknya telah berevolusi dan diperluas, sayangnya kembali lagi wawasan itu telah menjadi tantangan baru yang dihadapi manusia dalam hubungannya dengan dunia modern.
Salah satu kutipan dari makalah tersebut berkata demikian, “selama beberapa abad terakhir, peningkatan fasilitas rumah tangga, dan standar kebersihan pribadi yang lebih tinggi telah mengurangi peluang infeksi".
Baca juga : Pemberian ASI Tidak Jamin Anak Terhindar Dari Alergi Makanan
Tidak Seperti otak
Padahal, selama ini nenek moyang manusia telah berevolusi selama jutaan tahun untuk bertahan hidup di lingkungan mereka. Bagi sebagian besar dari mereka, lingkungan itu memiliki tantangan ekstrem, seperti kelangkaan makanan, atau makanan yang bisa membawa penyakit, serta kondisi yang tidak bersih, termasuk air tidak bersih, bahkan cuaca buruk. Lingkungan demikian memang sangat berbahaya, namun telah menjadi tempat untuk bertahan hidup.
Pusat pertahanan manusia adalah sistem kekebalan tubuh. Sebuah pertahanan yang sungguh elegan, atau berupa produk yang telah berevolusi selama berabad-abad. Seperti batu sungai yang dibentuk oleh air yang mengalir deras di atasnya, atau reruntuhan yang menimpanya selama perjalanan menuju hilir.
Dalam perjalanan hidupnya, manusia memang kerap belajar mengambil langkah-langkah untuk memperkuat sistem pertahanannya. Termasuk mengembangkan segala macam kebiasaan untuk mendukung kelangsungan hidupnya. Melalui cara demikian, pikirkan otak–organ yang membantu manusia mengembangkan kebiasaan–dapat dilihat sebagai aspek lain dari sistem kekebalan tubuh.
Manusia menggunakan otak secara kolektif untuk mencari tahu perilaku yang efektif. Mereka mulai mencuci tangan dan berhati-hati untuk menghindari makanan tertentu, yang menurut pengalaman bisa berbahaya atau mematikan. Bahkan, dalam beberapa budaya orang-orang menghindari daging babi, yang sekarang diketahui rentan terhadap trikinosis.
Perlu diakui bahwa gagasan manusia selalu bisa berkembang. Tetapi, sebagian besar sistem kekebalan tidak bekerja demikian. Ini juga bukan berarti hendak mengatakan tidak ada perubahan sama sekali. Namun, sistem kekebalan selalu merespon lingkungan di sekitar manusia. Ketika manusia menghadapi berbagai ancaman, pertahanannya akan belajar dan kemudian jauh lebih mampu menghadapi ancaman itu di masa depan. Dengan cara demikian, bisa dikatakan bahwa manusia selalu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Kekebalan tubuh manusia modern
Usai bertahan selama puluhan ribu tahun, manusia akhirnya mencuci tangan, menyapu lantai, memasak makanan, dan menghindari makanan tertentu. Manusia meningkatkan kebersihan hewan yang mereka besarkan untuk kemudian dipotong dan dimakan. Beberapa di daerah di dunia bahkan memurnikan air, mengembangkan pipa ledeng dan pabrik pengolahan limbah.
Mereka juga mengisolasi dan membunuh bakteri serta kuman, atau pendek kata, dalam hal ini daftar musuh sistem kekebalan tubuh manusia telah dilemahkan “demi kebaikan”. Tetapi sekarang, tubuh manusia membuktikan bahwa mereka tidak dapat mengikuti perubahan tersebut. Ada ketidakcocokan antara sistem kekebalan tubuh dan lingkungan sekitar. Lantas, apa akibatnya jika sistem kekebalan tubuh tidak dilatih dengan benar?
Persentase anak-anak di Amerika Serikat yang mengidap alergi makanan, berdasarkan data statistik Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Amerika Serikat, naik 50% pada periode 1997-1999 dan 2009-2011. Pengidap alergi kulit juga meningkat sebanyak 69% di periode yang sama, dan 12,5% anak-anak mengidap eksim dan iritasi lainnya.
Ironinya, alergi makanan itu meningkat seiring dengan tingkat pendapatan. Bisa dikatakan, lebih banyak uang–yang biasanya juga berkorelasi dengan pendidikan tinggi–maka akan lebih banyak risiko terserang alergi. Lagi-lagi, tampaknya fenomena ini mengulang kejadian di Inggris beberapa abad lalu, dimana pada masa itu banyak bermunculan “penyakit aristokratis”. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved