Bijak Bersikap Saat Anak Tantrum

Tosiani
21/3/2019 15:05
Bijak Bersikap Saat Anak Tantrum
(Ilustrasi)

Orangtua kerap membiarkan anak menyendiri untuk menenangkan diri saat emosinya memburuk atau kala tantrum. Sayangnya upaya memisahkan mereka tidak selalu baik dan efektif meredam emosi negatif dan mengelola prilakunya. Terkadang langkah itu malah memperburuk emosinya.

Tantrum atau temper adalah situasi ledakan emosi yang biasanya terjadi pada anak-anak atau orang dengan kesulitan emosional. Tantrum kerap ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, membangkang, mengomel, marah, dan melakukan resistensi pada upaya menenangkan diri.

Seperti dikutip dari laman Today Parent, ada berbagai cara digunakan untuk menangani anak saat tantrum. Seperti Marley, putri dari Cindy Piazzo yang berusia 4 tahun menolak melakukan tugas Thunder Bay, Ontario, sehingga ibunya menuntunnya ke kamar terpisah dengan kondisi pintu terbuka untuk yang singkat. Upaya itu tidak menekan perilakunya, malah memperburuk situasi karena Marley terus meluapkan kemarahan dengan menjerit dan menendang.

Pasalnya Marley adalah anak ekstrovert, sehingga membuatnya sendirian justru semakin menyiksanya dan membuat kesal. Piazzo lantas beralih ke pendekatan lain. Seperti mengajak Marley berbicara, memberi tahu ia harus melatih diri untuk melakukan tugasnya, namun selanjutnya terserah Marley. Anak mungkin tidak suka pada situasi itu, namun akan membuat amukan mereda. Upaya ini terbukti lebih efektif.

"Namun semua bermuara pada anak dan situasi. Jika membuat anak menyendiri menjadi lebih baik, maka gunakanlah cara itu. Tapi jika anak emosional, kita perlu menenangkan mereka dan menenangkan diri juga. Jangan menciptakan situasi di mana orangtua menundukan kekuasaan atau berebut kekuasaan dengan si anak karena dapat menciptakan masalah yang lebih besar," ujar Julie Freedman Smith, seorang ahli pengasuhan di Calgary dan penulis A Year of Intentional Parenting.

Baca juga : Dampak Keterlibatan Orang Tua Terhadap Perkembangan Anak

Studi yang dilakukan para peneliti psikologi anak di Universitas Sydney tahun 2019 menyebut mengkondisikan anak menyendiri terkadang  menjadi strategi efektif dan sehat bagi orangtua untuk membuat anak tenang. Namun sesekali perlu bicara dengan anak untuk mendengatkan sudut pandang si anak. Berbicara dan berempati ini menjadi cara lain menyelesaikan masalah.

Terpenting, para orangtua jangan melakukan kesalahan dengan berebut kekuasaan dengan anak. Seperti saat orangtua memegang pintu untuk menutupnya, sementara si anak dari sisi lain mengoba menarik pintu untuk membukanya. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya