Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEARIFAN lokal dan tradisi begitu lekat dengan masyarakat desa. Hal yang sama juga tampak di Dusun Sukorame, Mangunan, Dlinggo, Bantul. Desa yang sekarang juga dikenal sebagai desa wisata ini tetap mempertahankan tradisi yang mereka miliki, yaitu Wiwitan.
Wiwitan dalam bahasa Indonesia berarti awalan. Kenduri Wiwitan dilakukan warga sebelum memulai panen pertama padi. Tradisi ini jamak dilakukan masyarakat agraris di Jawa menjelang masa panen.
Wiwitan bagi warga desa tidak hanya sebatas acara senang-senang dan makan-makan. Tradisi ini menyimbolkan hubungan vertikal dan horizontal, hubungan manusia dengan Tuhan serta manusia dengan lingkungan dan sesama.
Pada 19 Februari yang lalu, warga Dusun Sukorame dengan penuh sukacita menyambut panen perdana mereka. Bentuk ungkapan syukur tersebut terwujud dalam tradisi Kenduri Wiwitan.
Dengan mengenakan baju tradisional Jawa, mereka berbondong-bondong menuju ke area persawahan. Mereka datang dengan membawa berbagai makanan olahan hasil bumi, dari sayur-sayuran, buah-buahan, nasi gurih, hingga ayam kampung.
Warga kemudian duduk bersama di sekitar makanan tersebut. Mereka memanjatkan doa dengan dipimpin oleh tetua desa yang mereka hormati.
Seusai berdoa, warga menyantap makanan yang ada. Di sinilah kebersamaan dan kerukunan warga terlihat jelas. Mereka berbagi dan menyantap hidangan yang sama di sebuah wadah yang dibuat dari daun pisang dengan penuh sukacita.
“Warga desa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa lewat Kenduri Wiwitan ini karena diberi hasil panen yang melimpah. Wujud syukur ini kami adakan setahun sekali setiap awal panen,” jelas Lagimin Budy Esmanto, warga sekaligus Ketua Pengelola Jelajah Sawah Pertanian Bowongan (JSPB) Songgolangit.
Tradisi Wiwitan sudah lazim dilakukan sejak ratusan tahun lalu saat akan panen perdana. Di Sukorame, kata dia, dalam setahun ada dua kali panen. Wiwitan hanya dilakukan sekali saat hendak panen pertama, yang tahun ini jatuh pada Februari.
“Area kami merupakan persawahan tadah hujan. Jadi, setahun dua kali panen. Semoga hasil pertanian berikutnya dapat lebih baik lagi,” kata dia.
Ada 16 jenis makanan yang dibawa. Setiap makanan yang dibawa memiliki filosofi masing-masing. Sesepuh desa, Adi Suwito, mencontohkan nasi sebagai wujud syukur kepada para leluhur dan doa kepada Tuhan agar tidak ada halangan saat bekerja.
Lemet, jajanan tradisional yang terbuat dari parutan singkong dicampur gula merah kemudian dibungkus daun yang selanjutnya dikukus. Makanan ini memiliki filosofi, setelah panen, tanaman yang ditanam bisa terus lengket di tanah hingga musim panen tiba.
Dawet ditujukan untuk Dewi Sri agar padi yang dipanen semuanya baik. Sementara itu, ketupat atau kupat bermakna agar panen bisa berlangsung lancar.
Masih ada lagi, yaitu jajanan pasar yang memiliki filosofi agar tidak ada halangan saat jual-beli di pasar. Rakitan palawija memiliki filosofi agar seluruh keturunan bisa hidup sejahtera. Yang terakhir ialah jenang sumsum memiliki filosofi agar sumsum petani dapat pulih sediakala sehingga dapat kembali menggarap lahan mereka.
Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, tanah dan air harus terus dipelihara. Selain itu, kerja keras dan doa juga tidak boleh dilupakan.
Di era sekarang ini, tradisi Wiwitan juga bisa menjadi atraksi pariwisata yang menarik, seperti yang dilakukan di Dusun Sukorame. Warga tetap melaksanakan tradisi Wiwitan, sedangkan wisatawan bisa tahu dan mendapatkan pengalaman mengikuti tradisi Wiwitan.
Watu Pipisan
Selain menggelar Kenduri Wiwitan, dilakukan terlebih dulu upacara Boyong Watu Pipisan. Watu Pipisan merupakan situs bersejarah yang ada di Dusun Sukorame. Ia tidak tahu secara pasti sejak kapan situs tersebut hilang, tetapi bekasnya masih ada.
“Dulu ada situs Watu Pipisan yang hilang dan sekarang sudah ketemu di bekas Keraton Pleret dan diboyong kembali ke sini,” kata dia.
Batu pipisan tersebut lengkap dengan penggilingannya yang juga terbuat dari batu. Pada zaman dulu, para leluhur menggunakan batu pipisan untuk menggiling bahan makanan dan ramuan jamu. Watu Pipisan bisa dimaknai kesejahteraan, kesehatan, dan kebersamaan.
Bagi warga, kembalinya situs Watu Pipisan bisa digunakan untuk mengingat dan memahami budaya nenek moyang mereka. Harapannya, di kemudian hari, warga, terutama para petani, bisa hidup lebih maju dan rukun.
“Ke depan situs batu pipisan juga dimanfaatkan untuk wisata edukasi JSPB Songgolangit,” kata dia. Diharapkan akan semakin banyak orang tahu tentang Watu Pipisan dan budaya leluhur sehingga pengetahuannya dapat terus dilestarikan dan diwariskan ke generasi selanjutnya. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved